Monday, 28 November 2016

YUK KENALI HERPES ZOSTER

Tanda dan gejala dari herpes zoster dibedakan dalam 3 fase, yaitu sebagai berikut :
1.      Fase Preeruptif , yang ditandai dengan adanya :
·         Adanya 1 atau lebih perubahan dermatoma pada kulit yang terjadi selama 1 hingga 10 hari (rata-rata 2 hari)
·         Perubahan yang terjadi pada kulit biasanya dirasakan sebagai sensasi nyeri, terkadang gatal, dan parestesia
·         Nyeri yang terjadi dapat menstimulasikan nyeri kepala, brachial neuritis, nyeri dada, dan nyeri pada daerah appendix
·         Gejala lainnya seperti malaise, myalgia, nyeri kepala, dan demam.
2.      Fase Erupsi akut , yang ditandai dengan adanya :
§  Adanya lesi patch pada kulit debfan dasar eritema dan terkadang disertai dengan indurasi
§  Pada daerah lesi juga terdapat adanya limfadenopati regional
§  Adanya vesikel pada kulit dengan dasar eritema yang berkelompok
§  Adanya lesi pada satu sisi tubuh dan biasanya akan menyebar sesuai alur dermatoma nya
§  Vesikel pada kulit awalnya berisi cairan jernih kemudian pecah dan menjadi krusta sehingga menjadi plak dengan dasar eritema
§  Pada lapisan epidermis dan dermis kulit yang rusak akibat eksokoriasi, infeksi sekunder, atau komplikasi lainnya akan membentuk scar
§  Nyeri hebat yang dirasakan oleh pasien dapat terjadi tanpa timbulnya vesikel ( zoster sine herpete )
§  Gejala pada fase ini biasanya selesai 10-15 hari, dan penyembuhan total dari lesi ini memerlukan waktu selama 1 bulan
3.      Fase kronis, yang ditandai dengan adanya :
Ø  Nyeri yang menetap selama 30 hari atau lebih setelah infeksi akut atau setelah semua lesi di kulit menjadi krusta
Ø  Nyeri biasanya hanya didaerah dermatoma asli
Ø  Rasa sakit yang dirasakan bisa menjadi parah dan melumpuhkan
Ø  Nyeri dapat bertahan selama beberapa minggu, bulan, bahkan tahun
Ø  Biasanya fase kronis ini lebih sering terjadi setelah herpes zoster oftalmikus

 PEMERIKSAAN PENUNJANG
            Pemeriksaan yang dapat dilakukan pada kasus Herpes Zoster ialah sebagai berikut :
1.      Tzanck test
Pemeriksaan ini merupakan salah satu pemeriksaan penunjang yang dilakukan dengan cara memilih salah satu dari lesi vesikel yang masih baru kemudian dilakukan scraping pada dasar lesi selanjutnya diletakkan di gelas objek  dan diwarnai dengan pewarnaan haematoxylin-eosin, Giemsa’s, Wright’s, toluidine blue atau papanicolaou’s. Kemudian setelah kering, periksalah spesimen tersebut pada mikroskop dimana jika positif adanya Varicella Zoster Virus (VZV) maka akan ditemukan adanya multinucletated giant cell. Pemeriksaan ini memiliki sensitifitas 84 % , namun pemeriksaan ini tidak dapat membedakan antara Varicella Zoster Virus (VZV) dengan Herpes Simplex Virus (HSV) (Janniger : 2015)
2.      Direct Fluorescent Antibody (DFA)
Pada pemeriksaan ini preparat yang digunakan berasal dari hasil scraping dasar vesikel.Metode pemeriksaan Direct Fluorescent Antibody (DFA) kurang sensitif jika dibandingkan dengan Polymerase Chain Reaction (PCR), namun lebih sensitif jika dibandingkan dengan Tzanck test. Kelebihan dari test ini ialah cepat, spesifik, dan sensitif. Pemeriksaan ini akan bernilai positif jika didapatkan antigen dari Varicella Zoster Virus (VZV)
3.      Polymerase Chain Reaction (PCR)
Pemeriksaan dengan metode ini merupakan yang paling cepat dan paling sensitif jika dibandingkan dengan Direct Fluorescent Antibody (DFA) dan Tzanck test. Pemeriksaan ini dilakukan dengan membuat preparat dari berbagai spesimen seperti scraping dasar vesikel, hingga vesikel yang sudah berbentuk krusta, selain itu cairan serebrospinal juga dapat digunakan dalam pemeriksaan ini. Polymerase Chain Reaction memiliki sensitifitas berkisar 97-100 %. Pada pemeriksaan ini akan ditemukan nucleic acid dari Varicella Zoster Virus (VZV).
TERAPI
Terapi yang digunakan pada penderita herpes zoster adalah terapi antiviral. Antiviral yang digunakan merupakan analog guanosine yaitu acyclovir, valacylovir, dan famiciclovir. Ketiga antivirus ini dapat mempercepat resolusi lesi, mencegah pembentukan lesi baru, menekan laju pelepasan virus dan rasa sakit yang parah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa valacyclovir dan famciclovir memberikan efek yang lebih baik dibandingkan acyclovir. Namun, kedua obat tersebut lebih mahal dibandingkan acyclovir (Cohen, 2013).
Dalam suatu penelitian menyebutkan bahwa pengobatan sebaiknya diberikan dalam interval waktu 72 jam setelah timbulnya ruam. Biasanya pengobatan ini diberikan selama 7 hari pada penderita tanpa komplikasi herpes zoster. Berikut ini adalah tabel penggunaan antiviral pada herpes zoster :
Nama Obat
Dosis
Efek yang diobservasi pada RCT
Efek Samping
Penderita Nonimunokompromais
Acyclovir
800 mg, diminum 5x sehari selama 7–10 hari
l   Mencegah pembentukan lesi baru
l   Menghilangkan vesikel
l   Pembentukan krusta
l   Penghentian pelepasan virus
l   Mengurangi rasa nyeri akut
Malaise
Famciclovir
500 mg, diminum 3x sehari selama 7 hari
l   Mencegah pembentukan lesi baru
l   Menghilangkan vesikel
l   Pembentukan krusta
l   Penghentian pelepasan virus
l   Menghilangkan rasa nyeri
Pusing, nausea
Valacyclovir
1 g, diminum 3x sehari selama 7 hari
l   Mencegah pembentukan lesi baru
l   Menghilangkan vesikel
l   Pembentukan krusta
l   Menghilangkan rasa nyeri
Pusing, nausea
Brivudin
125 mg, diminum 1x sehari selama 7 hari
l   Mencegah pembentukan lesi baru
l   Pembentukan krusta
l   Menghilangkan rasa nyeri
Pusing, nausea; kontraindikasi bagi orang yang menerima fluorouracil atau fluoro-pyrimidines
Penderita Imunokompromais membutuhkan rawat inap atau orang dengan komplikasi neurologis yang parah
Acyclovir
10 mg/kg secara IV setiap 8 jam selama 7–10 hari
l   Mencegah pembentukan lesi baru
l   Pembentukan krusta
l   Penghentian pelepasan virus
l   Menghilangkan rasa nyeri
l   Mencegah terjadinya disseminasi
l   Mengurangi risiko terjadinya herpes zoster viscera
Insufisiensi renal
Foscarnet (untuk VZV resisten-acyclovir)
40 mg/kg secara IV setiap 8 jam sampai lesi menghilang
l   Mencegah pembentukan lesi baru
l   Menghilangkan vesikel
l   Pembentukan krusta
l   Penghentian pelepasan virus
l   Menghilangkan rasa nyeri
Insufisiensi renal hipokalemia, hipokalsemia, hipofosfatemia, nausea, diare, muntah, anemia granulocytopenia, pusing
(Cohen, 2013)
Terapi antiviral saja biasanya tidak cukup kuat dalam mengatasi rasa sakit penderita herpes zoster. Oleh karena itu dapat diberikan juga OAINS atau acetaminophen untuk menghilangkan rasa nyeri ringan, sedangkan untuk rasa nyeri sedang hingga berat dapat diberikan opioid seperti oxycodone atau morfin (Fashner, 2011). Terapi lainnya adalah obat golongan glukokortikoid. Walaupun penggunaan glukokortikoid pada penderita herpes zoster sampai saat ini masih kontroversial, namun penelitian RCT menunjukkan bahwa penggunaan prednison dan prednisolon dapat mengurangi rasa sakit, mempercepat kesembuhan dan penderita dapat menjalankan aktivitasnya seperti biasa. Dalam penggunaannya, glukokortikoid harus diberikan bersamaan dengan antiviral (Cohen, 2013).
Salah satu komplikasi dari herpes zoster adalah infeksi bakterial. Apabila terjadi infeksi sekunder oleh bakteri, terapi antibiotik dapat diberikan seperti di/flucloxacillin 500 mg setiap 6 jam selama 7 hari (Wehrhahn, 2012).
PENCEGAHAN
Pencegahan terjadinya herpes zoster dapat dilakukan dengan cara pemberian vaksin VZV (Zostavax). Seperti vaksin varisella, vaksin ini berisi VZV yang telah dilemahkan namun memiliki angka antigen 14 kali lebih tinggi dibandingkan vaksin varisella (Armando et al, 2015). Vaksin ini telah disetujui oleh FDA dan dapat diberikan kepada seseorag berusia ≥50 tahun. Vaksin ini mempunyai keberhasilan sebesar 70% pada usia 50-59, 64% pada usia 60-69, dan 38% pada usia ≥70 tahun. Suatu penelitian mengatakan bahwa vaksin akan tetap berada di dalam tubuh selama 5 tahun setelah pemberian vaksin, walaupun efektivitasnya berkurang seiring berjalannya waktu. Vaksin ini tidak boleh diberikan pada penderita kanker yang penyakitnya tidak sedang dalam remisi atau sedang menjalani kemoterapi selama 3 bulan, imunodefisiensi, atau orang yang sedang menjalani terapi imunosupresan dosis tinggi (Cohen, 2013).

Vaksin herpes zoster tersedia dalam bentuk bubuk yang akan dilarutkan dalam bentuk suspensi. Vaksin ini diinjeksikan di muskulus deltoid secara subkutan dengan dosis 0,65 ml dosis tunggal. Selain dapat menurunkan risiko terjadinya herpes zoster, vaksin ini dapat menurunkan angka kejadian komplikasi herpes zoster seperti postherpetic neuralgia (PHN) (Armando et al, 2015). Pencegahan penularan herpes zoster juga dapat dilakukan dengan cara penderita herpes zoster harus mengurangi kontak langsung dengan orang lain dan lesi yang terbuka sebisanya mungkin ditutup (Cohen, 2013).

No comments:

Post a Comment