Tanda
dan gejala dari herpes zoster dibedakan dalam 3 fase, yaitu sebagai berikut :
1. Fase
Preeruptif , yang ditandai dengan adanya :
·
Adanya 1 atau lebih perubahan dermatoma
pada kulit yang terjadi selama 1 hingga 10 hari (rata-rata 2 hari)
·
Perubahan yang terjadi pada kulit
biasanya dirasakan sebagai sensasi nyeri, terkadang gatal, dan parestesia
·
Nyeri yang terjadi dapat menstimulasikan
nyeri kepala, brachial neuritis,
nyeri dada, dan nyeri pada daerah appendix
·
Gejala lainnya seperti malaise, myalgia,
nyeri kepala, dan demam.
2. Fase
Erupsi akut , yang ditandai dengan adanya :
§ Adanya
lesi patch pada kulit debfan dasar eritema dan terkadang disertai dengan
indurasi
§ Pada
daerah lesi juga terdapat adanya limfadenopati regional
§ Adanya
vesikel pada kulit dengan dasar eritema yang berkelompok
§ Adanya
lesi pada satu sisi tubuh dan biasanya akan menyebar sesuai alur dermatoma nya
§ Vesikel
pada kulit awalnya berisi cairan jernih kemudian pecah dan menjadi krusta
sehingga menjadi plak dengan dasar eritema
§ Pada
lapisan epidermis dan dermis kulit yang rusak akibat eksokoriasi, infeksi
sekunder, atau komplikasi lainnya akan membentuk scar
§ Nyeri
hebat yang dirasakan oleh pasien dapat terjadi tanpa timbulnya vesikel ( zoster sine herpete )
§ Gejala
pada fase ini biasanya selesai 10-15 hari, dan penyembuhan total dari lesi ini
memerlukan waktu selama 1 bulan
3. Fase
kronis, yang ditandai dengan adanya :
Ø Nyeri
yang menetap selama 30 hari atau lebih setelah infeksi akut atau setelah semua
lesi di kulit menjadi krusta
Ø Nyeri
biasanya hanya didaerah dermatoma asli
Ø Rasa
sakit yang dirasakan bisa menjadi parah dan melumpuhkan
Ø Nyeri
dapat bertahan selama beberapa minggu, bulan, bahkan tahun
Ø Biasanya
fase kronis ini lebih sering terjadi setelah herpes zoster oftalmikus
PEMERIKSAAN
PENUNJANG
Pemeriksaan yang dapat dilakukan
pada kasus Herpes Zoster ialah sebagai berikut :
1. Tzanck
test
Pemeriksaan
ini merupakan salah satu pemeriksaan penunjang yang dilakukan dengan cara
memilih salah satu dari lesi vesikel yang masih baru kemudian dilakukan scraping pada dasar lesi selanjutnya
diletakkan di gelas objek dan diwarnai
dengan pewarnaan haematoxylin-eosin, Giemsa’s, Wright’s, toluidine blue atau
papanicolaou’s. Kemudian setelah kering, periksalah spesimen tersebut pada
mikroskop dimana jika positif adanya
Varicella Zoster Virus (VZV) maka akan ditemukan adanya multinucletated giant cell. Pemeriksaan
ini memiliki sensitifitas 84 % , namun pemeriksaan ini tidak dapat membedakan
antara Varicella Zoster Virus (VZV)
dengan Herpes Simplex Virus (HSV)
(Janniger : 2015)
2. Direct
Fluorescent Antibody (DFA)
Pada
pemeriksaan ini preparat yang digunakan berasal dari hasil scraping dasar
vesikel.Metode pemeriksaan Direct
Fluorescent Antibody (DFA) kurang sensitif jika dibandingkan dengan Polymerase Chain Reaction (PCR), namun
lebih sensitif jika dibandingkan dengan Tzanck
test. Kelebihan dari test ini ialah cepat, spesifik, dan sensitif.
Pemeriksaan ini akan bernilai positif jika didapatkan antigen dari Varicella Zoster Virus (VZV)
3. Polymerase
Chain Reaction (PCR)
Pemeriksaan
dengan metode ini merupakan yang paling cepat dan paling sensitif jika
dibandingkan dengan Direct Fluorescent
Antibody (DFA) dan Tzanck test.
Pemeriksaan ini dilakukan dengan membuat preparat dari berbagai spesimen
seperti scraping dasar vesikel, hingga vesikel yang sudah berbentuk krusta,
selain itu cairan serebrospinal juga dapat digunakan dalam pemeriksaan ini. Polymerase Chain Reaction memiliki
sensitifitas berkisar 97-100 %. Pada pemeriksaan ini akan ditemukan nucleic acid dari Varicella Zoster Virus (VZV).
TERAPI
Terapi yang digunakan pada penderita herpes zoster adalah terapi antiviral.
Antiviral yang digunakan merupakan analog guanosine yaitu acyclovir,
valacylovir, dan famiciclovir. Ketiga antivirus ini dapat mempercepat resolusi
lesi, mencegah pembentukan lesi baru, menekan laju pelepasan virus dan rasa
sakit yang parah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa valacyclovir dan
famciclovir memberikan efek yang lebih baik dibandingkan acyclovir. Namun,
kedua obat tersebut lebih mahal dibandingkan acyclovir (Cohen, 2013).
Dalam suatu penelitian menyebutkan bahwa pengobatan sebaiknya diberikan
dalam interval waktu 72 jam setelah timbulnya ruam. Biasanya pengobatan ini
diberikan selama 7 hari pada penderita tanpa komplikasi herpes zoster. Berikut
ini adalah tabel penggunaan antiviral pada herpes zoster :
|
Nama Obat
|
Dosis
|
Efek yang diobservasi pada RCT
|
Efek Samping
|
|
|
Penderita Nonimunokompromais
|
||||
|
Acyclovir
|
800 mg,
diminum 5x sehari selama 7–10 hari
|
l Mencegah pembentukan lesi baru
l Menghilangkan vesikel
l Pembentukan krusta
l Penghentian pelepasan virus
l Mengurangi rasa nyeri akut
|
Malaise
|
|
|
Famciclovir
|
500 mg,
diminum 3x sehari selama 7 hari
|
l Mencegah pembentukan lesi baru
l Menghilangkan vesikel
l Pembentukan krusta
l Penghentian pelepasan virus
l Menghilangkan rasa nyeri
|
Pusing,
nausea
|
|
|
Valacyclovir
|
1 g, diminum
3x sehari selama 7 hari
|
l Mencegah pembentukan lesi baru
l Menghilangkan vesikel
l Pembentukan krusta
l Menghilangkan rasa nyeri
|
Pusing,
nausea
|
|
|
Brivudin
|
125 mg,
diminum 1x sehari selama 7 hari
|
l Mencegah pembentukan lesi baru
l Pembentukan krusta
l Menghilangkan rasa nyeri
|
Pusing, nausea;
kontraindikasi bagi orang yang menerima fluorouracil atau fluoro-pyrimidines
|
|
|
Penderita Imunokompromais membutuhkan rawat inap atau orang dengan
komplikasi neurologis yang parah
|
||||
|
Acyclovir
|
10 mg/kg
secara IV setiap 8 jam selama 7–10 hari
|
l Mencegah pembentukan lesi baru
l Pembentukan krusta
l Penghentian pelepasan virus
l Menghilangkan rasa nyeri
l Mencegah terjadinya disseminasi
l Mengurangi risiko terjadinya herpes zoster viscera
|
Insufisiensi
renal
|
|
|
Foscarnet
(untuk VZV resisten-acyclovir)
|
40 mg/kg
secara IV setiap 8 jam sampai lesi menghilang
|
l Mencegah pembentukan lesi baru
l Menghilangkan vesikel
l Pembentukan krusta
l Penghentian pelepasan virus
l Menghilangkan rasa nyeri
|
Insufisiensi
renal hipokalemia, hipokalsemia, hipofosfatemia, nausea, diare, muntah,
anemia granulocytopenia, pusing
|
|
(Cohen, 2013)
Terapi antiviral saja biasanya tidak cukup kuat dalam mengatasi rasa sakit
penderita herpes zoster. Oleh karena itu dapat diberikan juga OAINS atau
acetaminophen untuk menghilangkan rasa nyeri ringan, sedangkan untuk rasa nyeri
sedang hingga berat dapat diberikan opioid seperti oxycodone atau morfin
(Fashner, 2011). Terapi lainnya adalah obat golongan glukokortikoid. Walaupun
penggunaan glukokortikoid pada penderita herpes zoster sampai saat ini masih
kontroversial, namun penelitian RCT menunjukkan bahwa penggunaan prednison dan
prednisolon dapat mengurangi rasa sakit, mempercepat kesembuhan dan penderita
dapat menjalankan aktivitasnya seperti biasa. Dalam penggunaannya,
glukokortikoid harus diberikan bersamaan dengan antiviral (Cohen, 2013).
Salah satu komplikasi dari herpes zoster adalah infeksi bakterial. Apabila
terjadi infeksi sekunder oleh bakteri, terapi antibiotik dapat diberikan
seperti di/flucloxacillin 500 mg setiap 6 jam selama 7 hari (Wehrhahn, 2012).
PENCEGAHAN
Pencegahan terjadinya herpes zoster dapat dilakukan
dengan cara pemberian vaksin VZV (Zostavax). Seperti vaksin varisella, vaksin
ini berisi VZV yang telah dilemahkan namun memiliki angka antigen 14 kali lebih
tinggi dibandingkan vaksin varisella (Armando et al, 2015). Vaksin ini telah
disetujui oleh FDA dan dapat diberikan kepada seseorag berusia ≥50 tahun.
Vaksin ini mempunyai keberhasilan sebesar 70% pada usia 50-59, 64% pada usia
60-69, dan 38% pada usia ≥70 tahun. Suatu penelitian mengatakan
bahwa vaksin akan tetap berada di dalam tubuh selama 5 tahun setelah pemberian
vaksin, walaupun efektivitasnya berkurang seiring berjalannya waktu. Vaksin ini
tidak boleh diberikan pada penderita kanker yang penyakitnya tidak sedang dalam
remisi atau sedang menjalani kemoterapi selama 3 bulan, imunodefisiensi, atau
orang yang sedang menjalani terapi imunosupresan dosis tinggi (Cohen, 2013).
No comments:
Post a Comment