DIET DONAT PROCATE SEBAGAI
ALTERNATIF PENURUN LEMAK UNTUK OBESITAS
Oleh:
Fitri Rachmawati Putri (13711030)
Fakultas Kedokteran Universitas
Islam Indonesia
Obesitas telah mencapai proporsi epidemik global,
dengan lebih dari 1 milyar orang dewasa mengalami kelebihan berat badan (overweight)
– dimana 300 juta diantaranya mengalami obesitas. Hal ini merupakan penyumbang
yang besar terhadap beban global penyakit kronik dan disabilitas. Epidemi
obesitas tidaklah terbatas pada negara-negara maju saja, peningkatan angka
penderita obesitas terkadang lebih cepat di negara berkembang daripada negara
maju(1).
Kelebihan lemak tubuh atau obesitas saat ini
merupakan sebuah epidemi yang muncul di seluruh dunia, termasuk di
negara-negara yang sedang berkembang termasuk di Indonesia (2).
Interaksi dari berbagai faktor seperti faktor genetik, lingkungan, dan
psikososial berpengaruh terhadap timbulnya obesitas (3). Namun
secara sederhana, obesitas terjadi karena ketidakseimbangan antara pemasukan
dan pengeluaran energi antara lain yang diakibatkan oleh pola hidup tidak sehat
seperti diet tinggi karbohidrat, lemak jenuh, kurang serat, serta aktivitas
fisik yang sedikit (4).
Peningkatan prevalensi obesitas menarik perhatian
baik peneliti maupun masyarakat luas oleh karena kelebihan lemak tubuh
dihubungkan dengan berbagai penyakit kronik dan degeneratif (5),
yakni penyakit-penyakit ko-morbid obesitas seperti diabetes mellitus tipe 2,
hipertensi, hiperkolesterolemia, penyakit jantung koroner, penyakit batu
empedu, dan osteoartritis (6).
Indonesia sebagai Negara dengan populasi keempat
terbesar di dunia setelah Cina, India dan Amerika Serikat diwarnai dengan
kontras. Sekitar 50% atau lebih dari 100 juta penduduknya tergolong pada
kelompok defisiensi nutrisi, dan 15% populasi dewasa termasuk kelebihan berat
badan sehingga angka penyakit ko-morbid yang dihubungkan dengan kelebihan berat
badan turut meningkat (2).
The National Institute of Health (NIH)
mendefinisikan IMT yang normal yakni 18,5-24,9. Kelebihan berat badan
didefinisikan sebagai IMT 25-29,9. Obesitas Kelas I adalah 30-34,9 Obesitas
Kelas II adalah 35-39,9 dan Kelas III >40 (Thierney et al., 2005). World Health Organization (WHO) telah
menentukan nilai Indeks Massa Tubuh (IMT) untuk daerah Asia Pasifik. Untuk
orang Asia, dianggap overweight bila
IMT > 23 dan dianggap obesitas bila IMT > 25. Revisi ini didasarkan pada
kenyataan bahwa morbiditas dan mortalitas orang Asia cenderung terjadi pada IMT
yang lebih rendah (7).
Terdapat beberapa istilah yang perlu diketahui yaitu
obesitas, overweight, dan obesitas sentral. Obesitas adalah peningkatan
lemak tubuh (body fat). Cara pengukurannya akan diterangkan kemudian. Overweight
adalah peningkatan berat badan relatif apabila dibandingkan terhadap
standar. Overweight kemudian menjadi istilah yang mewakili ”obesitas”
baik secara klinis ataupun epidemiologis. Sedangkan obesitas sentral adalah
peningkatan lemak tubuh yang lokasinya lebih banyak di daerah abdominal
daripada di daerah pinggul, paha atau lengan. Penentuan adanya obesitas sentral
ini penting karena berhubungan dengan adanya resistensi insulin yang merupakan
dasar terjadinya sindroma metabolik (7).
Obesitas adalah suatu keadaan yang melebihi dari
berat badan relatif (ideal) seseorang, sebagai akibat penumpukan zat gizi
terutama karbohidrat, protein dan lemak. Kondisi tersebut disebabkan oleh
ketidakseimbangan antara konsumsi energi dan kebutuhan energi, yaitu konsumsi
makanan (yang terlalu banyak) dibandingkan dengan kebutuhan atau pemakaian
energi (yang lebih sedikit)(8).
Untuk menganalisis adanya resiko morbiditas dari
obesitas biasanya menggunakan pengukuran Berat Badan (BB) dan Tinggi Badan
(TB). Pengukuran BB dan TB yang akurat merupakan langkah awal dalam pemeriksaan
klinis, karena kedua pengukuran tersebut dibutuhkan untuk menghitung (IMT).
Metode yang paling berguna dan banyak digunakan untuk mengukur tingkat
obesitas, yang didapat dengan cara membagi berat badan (kg) dengan kuadrat dari
tinggi badan (meter).
Untuk menghitung IMT seseorang dengan menggunakan
rumus:
IMT
= BB/ (TB)2
Namun, IMT tidak dapat digunakan untuk anak-anak
yang sedang masa pertumbuhan, wanita hamil, dan orang yang sangat berotot
seperti atlet dan binaragawan.
Seiring dengan berkembangnya teknologi dan ilmu
pengetahuan tentang kedokteran yang semakin pesat, maka berbagai terapi maupun
pengobatan untuk menurunkan lemak pada orang yang obesitas diantaranya seperti
mengatur pola makan, obat-obatan, olahraga, serta operasi jejuno-ileal
by-pass. Namun, paradigma
pengobatan saat ini lebih kepada mengatur pola makan. Orang yang diet mengatur
pola makannya agar tidak terlalu lebih karbohidrat, protein, dan lemak yang
dikonsumsinya.
Teh hijau adalah minuman yang cukup popular di
seluruh dunia. Di India, Cina, Jepang dan Thailand minuman teh telah dikonsumsi
sejak lama. Pada kedokteran tradisional India dan Cina, praktisi kesehatan
menggunakan teh hijau sebagai stimulan, diuretik (meningkatkan ekskresi urin), astringent
(mengontrol perdarahan dan membantu penyembuhan luka), dan meningkatkan
kesehatan jantung. Pengobatan tradisional lainnya menggunakan teh hijau untuk
mengobati flatulens, mengatur suhu tubuh dan menurunkan kadar gula darah,
membantu pencernaan dan meningkatkan proses berpikir .(9)(10)(11)
Kegunaan teh hijau bagi kesehatan seperti
perlindungan terhadap kanker, penyakit kardiovaskular, hati, telah dilaporkan.
Efek baik dari teh hijau ini berhubungan dengan kandungannya, yakni
(–)-epigallocatechin-3-gallate (EGCG) adalah komponen polyphenolic utama
yang ditemukan pada teh hijau. Beberapa komponen polyphenolic yang
dikenal dengan nama catechin juga ditemukan dalam jumlah yang lebih
sedikit pada teh hijau, yakni (–)-epicatechin-3-gallate (ECG), (–)-epigallocatechin
(EGC), (–)- epicatechin (EC) and (-)-catechin. (9)
Catechin pada teh hijau dilaporkan dapat menghambat
enzim Catechol-O methyltransferase (COMT), yakni enzim yang mendegradasi
norepinefrin. Dengan terhambatnya enzim COMT oleh catechin, terjadi
reduksi degradasi norepinefrin yang akan menghasilkan penambahan waktu
kerja norepinefrin pada sistem saraf simpatis. Aktivasi sistem saraf simpatis
ini akan menstimulasi pengeluaran energi di antaranya dengan meningkatkan termogenesis
dan oksidasi lemak. (12)(13)
Catechin dari teh dapat meningkatkan oksidasi lemak,
terutama dalam periode postprandial, Peningkatan oksidasi lemak dapat
disebabkan oleh bertambahnya oksidasi lemak hepar yang diaktivasi secara
simpatik. Sistem saraf simpatis diduga berperan dalam mobilisasi lipid dari
depot adiposa. Sehingga, ada kemungkinan bahwa catechin, dengan meningkatkan
pengaruh simpatik, dapat memiliki pengaruh pada penyimpanan lemak di berbagai
depot lemak. Hasil dari beberapa penelitian pada hewan menunjukkan bahwa
akumulasi lemak hepar dan mesenterik berkurang dengan pemberian catechin.(14)
Penelitian Dullo et al menunjukkan ekstrak teh hijau
meningkatkan pengeluaran energi dan oksidasi lemak dalam jangka pendek (12).
Signal intraseluler, menghasilkan lipolisis yang meningkat, produksi panas di
otot skeletal, yang tergantung pada produksi cyclic Adenosine Monophosphate (cAMP).
Respon cAMP singkat saja, karena cAMP secara cepat didegradasi oleh
fosfodiesterase. Signal intraseluler dapat dipertahankan lebih lama dengan
menghambat fosfodiesterase dengan metilxantin, contohnya kafein.(13)
Teh hijau atau EGCG menghambat absorbsi intestinal
lipid dari diet dengan jalan mengganggu emulsifikasi dan solubilisasi miselar
dari lipid, yang merupakan langkah penting dalam absorbsi intestinal akan lemak
dari diet, kolesterol dan lipid lainnya(15). Selain bekerja dengan
jalan menghambat enzim COMT, EGCG dihubungkan dengan kemampuannya memodulasi
berbagai jalur signal, terutama yang mengatur proliferasi dan hidup sel. Namun,
target utama dari fungsi ini masih belum dapat ditentukan. EGCG dinyatakan
dalam beberapa jurnal dapat menghambat proliferasi adiposit dan mengurangi
viabilitas adiposit lewat aktivasi Adenosine monophosphateactivated protein
kinase (AMPK).(16)
Minuman teh yang umum, yang disiapkan dari 1 gram
daun-daun teh yang diseduh dengan 100 mL air mendidih selama 3 menit mengandung
250-350 mg berat kering yang terdiri dari 30-42% catechin dan 3-6% kafein (10).
Secangkir teh hijau mengandung 80-106 mg polifenol. Konsumsi 1-3 cangkir teh
per hari adalah takaran yang umum di Amerika Serikat, namun di Jepang, konsumsi
sebanyak 9 cangkir teh termasuk wajar, hal ini menurut penelitian epidemiologis
(17).
Propolis adalah bahan yang dipakai lebah untuk melindungi dan
mengisi sarang mereka (18). Lebah yang mengambil bahan tersebut dari
tumbuhan kemudian meletakkan propolis di kaki belakang mereka dan kemudian
dibawa untuk dicampur bersama dengan lilin lebah (19). Saat
pengumpulan propolis dan proses pengolahannya, lebah mengeluarkan enzim dari
saliva mereka sebagai campuran, misalnya β-glucosidase yang ternyata juga
meningkatkan sifat farmakologi produk akhirnya (18)(20).
Secara
umum komposisi kimia penyusun propolis, adalah getah dan balsem (55%), minyak
aromatik esensial (10%), lilin (30%), tepung sari (5%), dan beberapa bahan
mineral, serta organik (21)(22)(23). Getah dalam propolis mengandung
flavonoid, asam fenolat, dan ester (21). Lilin pada propolis
mengandung asam lemak, sedangkan volatil terkandung pada minyak esensial (21).
Tepung sari pada propolis mengandung berbagai asam amino, seperti arginin dan
prolin (21). Sedangkan bahan mineral dan organik yang terdapat pada
propolis, antara lain Fe, Zn, Au, Ag, Hg, keton, lakton, quinin, steroid, asam
benzoat, vitamin B3, dan gula (19)(21).
Indonesia adalah salah satu negara penghasil propolis. Pemanfaatan
propolis semakin meningkat seiiring dengan perkembangan zaman. Hal ini
dikarenakan khasiat dari propolis yang dapat menyembuhkan berbagai penyakit (23).
Selain itu juga dengan kandungan propolis yang dapat memberikan rasa manis,
maka dapat dijadikan bahan alternative untuk terapi menurunkan berat badan.
Penggabungan antara kedua bahan tersebut yaitu
propolis dengan catechin, maka dapat dijadikan suatu alternative dengan dibuat
donat. Rata-rata orang yang obesitas memiliki kecenderungan untuk memakan
makanan yang manis-manis seperti gula. Gula bukan suatu bahan alternative yang
digunakan untuk proses penurunan berat badan pada orang yang obesitas.
Donat dapat membuat suatu ketertarikan terhadap
orang yang obesitas. Namun donat yang selama ini dijual mengandung gula yang
tidak baik untuk tubuh karena dapat menimbulkan kegemukan. Donat procate
merupakan donat hasil penggabungan dari propolis dengan ekstrak catechin teh
hijau. Propolis memberikan efek manis sehingga digunakan untuk pengganti gula.
Sedangakan ekstrak catechin dari teh hijau digunakan sebagai bahan yang
memiliki efek penurun berat badan. Kedua efek tersebut secara simultan dapat
memberikan efek yang lebih efisien.
Dari uraian di atas, dapat
disimpulkan bahwa donat procate memiliki prospek yang tinggi dalam hal
menanggulangi masalah obesitas. Donat procate sendiri didapatkan dari kombinasi
antara propolis dengan ekstrak catechin pada teh hijau. Ekstrak catechin pada teh hijau dengan
kandungan (–)-epigallocatechin-3-gallate (EGCG), (–)-epicatechin-3-gallate
(ECG), (–)-epigallocatechin (EGC), (–)- epicatechin (EC) and
(-)-catechin. Catechin pada teh hijau dilaporkan dapat menghambat enzim Catechol-O
methyltransferase (COMT), yakni enzim yang mendegradasi norepinefrin. Catechin
pada teh hijau dapat menghambat enzim Catechol-O methyltransferase (COMT),
yakni enzim yang mendegradasi norepinefrin. Efek manis yang ditimbulkan oleh
propolis juga merupakan pengganti gula. Dengan demikian,
donat procate dapat benar-benar diaplikasikan kepada masyarakat dengan aman,
efek terapi yang optimal dan nyata, serta harga yang lebih terjangkau dengan
harapan dapat meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, khususnya penderita
obesitas.
DAFTAR
PUSTAKA
3.
Molina,
P., E., 2006. Lange physiology series,
endocrine physiology. International edition. 2nd edition. McGraw Hill.
Halaman 247-262.
4.
Wilborn, C., Beckham, J., Campbell, B., Harvey, T., Galbrath, M.,
La Bounty, P., Nassar, E., Wismann, J.,Kreider, R. 2005. Obesity: Prevalence,
Theories, Medical Consequences, Management, and Research Directions. Journal of the
International Society of Sports Nutrition. 2(2): 4–31. Available from:
5.
Popkin, B., M., 2005. Global nutrition dynamics: the world is
shifting rapidly toward a diet linked with noncommunicable diseases. American Journal of Clinical Nutrition, Vol. 84, No. 2, 289-298.
Available from : http://www.ajcn.org/content/84/2/289.full?sid=c587e903-7369-4a7e-a348-a1c7ed678643. Accesed May 8th
2014.
6.
Turk, M.W., Yang, K., Hravnak, M., Sereika, S.M., Ewing, L.J.,
Burke, L.E. 2009. Randomized Clinical Trials of Weight-Loss Maintenance: A Review. J Cardiovasc Nurs. 24 (1) :
58–80. Available from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2676575/pdf/nihms100183.pdf. Accesed May 8th
2014.
7.
Pangkahila,
W., 2007. Anti
Aging Medicine: Memperlambat Penuaan Meningkatkan Kualitas Hidup. Penerbit buku Kompas. Halaman 94-99.
9. Budiyanto.
(2002). Obesitas dan Perkembangan Anak. Jakarta: Grafindo
Persada.
12.
Diepvens, K., Westerterp, K.R., Westerterp-Platenga, M.S. 2007. Obesity and
thermogenesis related to the consumption of caffeine, ephedrine, capsaicin, and
green tea. AJP - Regu Physiol January 2007 vol. 292 no. 1 R77-R85. Available from : http://ajpregu.physiology.org/content/292/1/R77.full. Accesed May 10th
2014.
14.
Maki, K.C., Reeves, M.S., Farmer, M., Yasunaga, K., Matsuo, N.,
Katsuragi, Y., Komikado, M., Tokimitsu, I., Wilder, D., Jones, F., Blumberg,
J.B., Cartwright, Y. 2009. Green Tea Catechin Consumption Enhances Exercise-Induced Abdominal Fat
Loss in Overweight and Obese
Adults. Journal
of Nutrition. Vol. 139, No. 2, 264-270. Available from : http://jn.nutrition.org/cgi/reprint/139/2/264. Accesed May 10th 2014.
15.
Lee, M.K., Kim, C.T., Kim, Y.H. 2009. Green Tea (–) Epigallocatechin-3-Gallate
Reduces Body Weight with Regulation of Multiple Genes Expression in Adipose
Tissue of Diet-Induced Obese Mice. Ann Nutr Metab. 54:151–157. Available from:
16.
Moon, H.S., Chung, C.S., Lee, H.G., Kim, T.G., Choi, Y.J., Cho,
C.S. 2007. Inhibitory Effect of (- )-Epigallocatechin-3-Gallate on Lipid
Accumulation of 3T3-L1 Cells. Obesity (2007) 15 : 2571-2582. Available from : http://www.nature.com/oby/journal/v15/n11/full/oby2007309a.html.
Accesed May 10th 2014.
17.
Sarma, D.N., Barrett, M.L., Chavez, M.L., Gardiner, P. 2008. Safety of Green Tea
Extracts: A Systematic Review by the US Pharmacopeia. Drug Safety . Auckland. Vol. 31, Iss. 6; pg. 469. Available from:
http://proquest.umi.com/pqdweb?index=0&sid=3&srchmode=1&vinst=PROD&fmt=4&startpage=1&vname=PQD&did=1525118521&scaling=FUL&pmid=86204&vtype=PQD&fileinfoindex=%2Fshare3%2Fpqimage%Fpqirs101v %2F201011010414%2F57660%2F5043%2Fout.pdf&source= %24source&rqt=309&TS=1288599299&clientId=74186. Accesed May 10th
2014.
18. Jabde, P. V., 2005. Text Book Of Applied Zoology. Delhi : Discovery Publishing House.
19. Farooqui, T., Farooqui, A. A., 2012. Oxidative Stress In Vertebrates And
Invertebrates Molecular Aspects Of Cell Signaling. New Jersey : John Wiley
& Sons
20. Bonvehi, J. S., et al, 1994. The Composition, Active Components, And Bacteriostatic
Activity Of Propolis In Dietetics. Journal
of The American Oil Chemists' Society, 71:5, pp. 529-532
21. Krell, R., 1996. Value-Added Products From
Beekeeping. FAO Agricultural Services
Bulletin, 124
22. Yoirish,
N., 2001. Curative Properties Of Honey And
Bee Venom. Hawaii : University Press Of The Pacific
23. Hardi, H., P., Fitriana, A., M., 2012,
Potensi Propolis
Sebagai Terapi Alternatif Terhadap Penatalaksanaan Sindrom Stevens Johnson , Karya Tulis Ilmiah Gagasan Tertulis,
Jurusan Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia.