MEMBIASAKAN HANDWASHING WHO UNTUK
MENCEGAH PENYAKIT KOLERA (DIARE) PASCA BENCANA BANJIR
Oleh:
Fitri
Rachmawati Putri
Fakultas
Kedokteran Universitas Islam Indonesia
Musim
penghujan di Indonesia pada umumnya jatuh pada bulan Oktober sampai dengan
Maret untuk setiap tahunnya. Namun, terjadi suatu perubahan pola iklim dunia
yang terjadi dalam 2 dasawarsa terakhir yang juga berdampak pada menggesernya
pola curah hujan yang justru sering terjadi di bulan periode panas. Secara
khusus, frekuensi curah hujan tiap kota berbeda-beda 1.
Musim
hujan di Indonesia mencapai puncaknya pada bulan Januari berdampak pada
1.212.747 orang yang meningkat dari angka 171.259 di bulan Desember 2013. Hujan
lebat di wilayah Indonesia pada akhir Desember dan awal Januari menyebabkan
banjir meluas terutama di kota Jakarta dan Manado2.
Intensitas
hujan lebat dalam waktu yang cukup lama selama bulan Desember sampai Januari
sangat bervariasi, mulai dari yang sedang hingga tinggi. Akibatnya intensitas
hujan yang tinggi ini menyebabkan dampak bencana yang cukup serius di beberapa
wilayah di Indonesia seperti banjir. Lalu setelah banjir tersebut surut dan
frekuensi maupun intensitas hujan yang tinggi mulai rendah. Di saat yang
seperti inilah perlu diwaspadai menjalarnya penyakit di sekitar kawasan bencana
1.
Air
yang masih tersisa di sekitar kawasan banjir yang menggenang di permukaan akan
dapat memicu terjadinya berbagai macam
penyakit salah satunya adalah penyakit diare. Penyakit kolera atau yang
lebih dikenal masayarakat adalah penyakit diare ini sampai saat ini adalah
masalah kesehatan masyarakat di negara berkembang seperti di Indonesia 3.
Diare
merupakan suatu kumpulan dari gejala infeksi pada saluran pencernaan yang dapat
disebabkan oleh beberapa organisme seperti bakteri, virus dan parasit. Beberapa
organisme tersebut biasanya menginfeksi saluran pencernaan manusia melalui
makanan dan minuman yang telah tercemar oleh organisme tersebut (food borne
disease) 2.
Diare
yang paling sering umum terjadi disebabkan oleh Colera. Toksin kolera secara langsung akan menstimulasi sekresi
elektrolit dan cairan dalam jumlah yang berlebihan pada kripta Lieberkuhn pada
ileum distal dan colon. Jumlahnya dapat 10 sampai 12 liter per hari, walaupun
colon biasanya dapat mereabsorbsi maksimum hanya 6 sampai 8 liter per hari.
Oleh karena itu, kehilangan cairan dan elektrolit dapat begitu mengganggu dalam
beberapa hari sehingga dapat menimbulkan kematian 8. Diare dapat
menyebabkan kematian karena gangguan penyerapan pada usus yang tidak bisa
menyerap cairan dan elektrolit, secara otomatis tubuh akan kehilangan banyak
cairan lewat diare tersebut. Sehingga membuat tubuh menjadi dehidrasi. Apabila
tidak ditangani lebih lanjut, maka dapat menyebabkan kematian.
Di
Indonesia, penyebab kematian akibat Diare pada semua kelompok umur, dari SKRT
tahun 2001 (17%) menduduki urutan ke 2; dari SKRT tahun 2003 (19%) menduduki
urutan pertama dan dari Riskesdas 2007 pada penyakit menular (13,2%) men-duduki
urutan ke 4.17 Namun penyebab kematian akibat Diare pada balita pada SKRT 2003
(19%), angka ini ditemukan lebih tinggi pada Riskesdas 2007 yaitu 25,2% dan
menduduki urutan pertama / tertinggi. Demikian pula kelompok umur 29 hari-11
bulan (31,4%), juga menduduki urutan pertama/ tertinggi. Dalam hal ini
ditemukan adanya peningkatan yang cukup tinggi pro-porsi kematian balita akibat
Diare 7.
Berdasarkan
pola penyebab kematian semua umur, diare merupakan penyebab kematian peringkat
ke-13 dengan proporsi 3,5%. Sedangkan berdasarkan penyakit menular, diare
merupakan penyebab kematian peringkat ke-3 setelah TB dan Pneumonia 2.
Angka kematian akibat diare di Indonesia masih sekitar
7,4%. Sedangkan angka kematian akibat diare persisten lebih tinggi yaitu 45%.
Sementara itu pada survey morbiditas yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan
(Depkes) tahun 2001, menemukan angka kejadian diare di Indonesia adalah
berkisar 200-374 per 1000 penduduk. Sedangkan menurut Survei
Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2004, angka kematian akibat diare 23 per
100.000 penduduk dan angka kematian akibat diare pada balita adalah 75 per
100.000 balita. Insiden penyakit diare yang berkisar antara 200-374 dalam 1000
penduduk, dimana 60-70% diantaranya anak-anak usia dibawah 5 tahun
15.
Banyaknya
penyakit diare ini salah satunya disebabkan oleh perilaku orang-orang yang tidak
mencuci tangan sebelum makan atau mencuci tangan dengan cara yang salah.
Apabila ditambah dengan bencana banjir yang sering terjadi di Indonesia maka
akan meningkatkan pula jumlah mikrobakteri seperti Colera.
Menurut
Green kesehatan seseorang atau
masyarakat dipengaruhi oleh dua faktor pokok, yakni faktor perilaku (behaviour causes) dan faktor di luar
perilaku (non-behaviour causes).
Selanjutnya perilaku itu sendiri ditentukan atau terbentuk dari tiga faktor, diantaranya adalah faktor pemungkin
(enambling factor) yaitu faktor pemicu terhadap perilaku yang
memungkinkan suatu tindakan atau motivasi. Faktor pemicu tersebut mencakup
ketersediaan sarana dan prasarana atau fasilitas kesehatan misalnya air bersih,
tempat pembuangan sampah, ketersediaan jamban, makanan bergizi dan sebagainya 9. Sanitasi
dan kebersihan rumah tangga yang buruk, kurangnya air minum yang aman dan
pajanan pada sampah padat (misalnya, melalui pengambilan sampah di lingkungan)
yang kemudian mengakibatkan penyakit diare
10.
Mencuci
tangan adalah salah satu tindakan sanitasi dengan membersikan jari-jemari
menggunakan air atau pun cairan lainnya oleh manusia dengan tujuan untuk
menjadi bersih, sebagai ritual keagamaan, ataupun tujuan-tujuan lainnya 6.
Cuci tangan pakai sabun yang dipraktikkan secara tepat dan benar merupakan cara
termudah dan efektif untuk mencegah berjangkitnya penyakit seperti diare.
Mencuci
tangan dengan air dan sabun dapat lebih efektif menghilangkan kotoran dan debu
secara mekanis dari permukaan kulit dan secara bermakna mengurangi jumlah
mikroorganisme penyebab penyakit seperti virus, bakteri dan parasit lainnya
pada kedua tangan. Oleh karenanya, mencuci tangan dengan menggunakan air dan
sabun dapat lebih efektif membersihkan kotoran dan telur cacing yang menempel
pada permukaan kulit, kuku dan jari-jari pada kedua tangan 11.
Kebiasaan
yang berhubungan dengan kebersihan perorangan yang penting dalam penularan
kuman diare adalah mencuci tangan. Mencuci tangan dengan sabun, terutama
sesudah buang air besar, sesudah membuang tinja anak, sebelum menyiapkan
makanan, sebelum menyuapi makan anak dan sebelum makan, mempunyai dampak dalam
kejadian diare ( Menurunkan angka kejadian diare sebesar 47%) 2.
Kebanyakan
orang-orang di Indonesia khususnya, banyak yang tidak mencuci tangan sebelum
makan. Ada juga yang mencuci tangan, tetapi tidak menggunakan sabun maupun
langkah-langkah handwashing WHO.
Mencuci tangan tidak menggunakan sabun maupun langkah-langkah handwashing WHO, juga akan meningkatkan
resiko menempelnya bakteri di kulit seperti bakteri penyebab diare.
Pada perlakuan mencuci tangan tanpa
pemberian zat anti kuman, jumlah angka kuman masih tinggi, sedangkan pada
perlakuan mencuci tangan dengan menambahkan zat anti
kuman jumlah angka kuman menjadi lebih rendah, sehingga mean angka kuman
untuk setiap perlakuan mencuci tangan dengan menambahkan zat anti kuman hampir
sama atau tidak ada perbedaan yang signifikan 6.
Cuci
tangan yang baik adalah mencuci tangan dengan menggunakan sabun plain (tidak
mengandung anti mikroba) atau sabun antiseptik yang mengandung anti mikroba,
dengan menggosok-gosok kedua tangan meliputi seluruh permukaan tangan dan
mencucinya dengan air mengalir dan mengeringkannya secara keseluruhan dengan
menggunakan handuk sekali pakai. Kebersihan pribadi dan pembersihan rutin
sangat penting untuk kesehatan yang baik. Sering mencuci tangan dengan cara
yang baik adalah kunci untuk mencegah penyebaran mikroorganisme yang
menyebabkan penyakit umum dan pembersihan secara teratur permukaan tangan dapat
menghilangkan partikel kotoran dan makanan di mana kuman dapat tumbuh 2.
Cuci tangan yang direkomendasikan oleh WHO adalah langkah-langkah handwashing WHO.

Sumber : World
Health Organization, 2009
Langkah-langkah
dari handwashing WHO yang paling
utama adalah menggunakan sabun, menggosok punggung dan sela-sela jari tangan
kiri dengan tangan kanan dan sebaliknya, menggosok kedua telapak tangan dengan
sela-sela jari, jari-jari di sisi dalam dari kedua tangan saling
mengunci,menggosok ibu jari kiri berputar dalm genggaman tangan kanan dan
melakukan sebaliknya, menggosok dengan memutar ujung jari-jari tangan kanan di
telapak tangan kiri dan sebaliknya 12. Sabun yang baik untuk mencuci
tangan adalah alkohol. Konsentrasi terbaik alkohol sebagai antiseptik adalah
60-80% 13.
Dalam
suatu penelitian yang dilakukan oleh Desiyanto (2013) tentang efektivitas
mencuci tangan menggunakan air biasa dengan menggunakan disinfektan
(antiseptik), angka kuman pada kelompok kontrol dan perlakuan menggunakan air
mengalir hasilnya lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok perlakuan
menggunakan sabun, hand sanitizer A, dan hand sanitizer B
dikarenakan pada perlakuan menggunakan air mengalir dan kontrol tidak
mengandung zat anti kuman/desinfektan 6.
Antiseptik
merupakan bahan kimia yang mencegah multiplikasi organisme pada permukaan
tubuh, dengan cara membunuh mikroorganisme tersebut atau menghambat pertumbuhan
dan aktivitas metaboliknya 14. Melakukan handwashing dengan menggunakan
antiseptik secara mekanismenya akan mengurangi dan membunuh bakteri-bakteri
yang menempel pada tangan 16. Apalagi dengan keadaan pasca banjir
yang mana banyak sumber air yang mengalir di perumahan penduduk menjadi
tercemar. Pencemaran air ini dapat membuat bakteri Kolera tumbuh dengan pesat.
Dalam
Islam juga menjelaskan bahwa mencuci tangan yang baik dan benar juga diajarkan pada saat berwudhu.
Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Laqith bin Shabrah, katanya, “Aku berkata:
‘Wahai Rasululla, kabarkan kepadaku tentang wudhu?’ Nabi berkata,’ Sempurnakan
wudhu-mu, dan sela-selalah antara jemarimu, dan bersungguh-sungguhlah dalam
memasukkan air ke dalam hidung kecuali jika kamu dalam keadaan puasa.”
(Diriwayatkan oleh loma imam, dishahihkan oleh Tirmidzi). Dalam hadits Sunan
Abu Daud mengatakan bahwa berkah makanan adalah dengan berwudhu sebelum makan
dan setelah makan. Hal itu menjadi bukti bahwa dengan mencuci tangan dengan
benar yaitu cuci tangan yang direkomendasikan oleh WHO sebelum dan setelah
makan akan terhindar dari berbagai macam penyakit salah satunya adalah diare
yang saat ini banyak djumpai di negara Indonesia pasca banjir.
Dari
beberapa penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa dengan membiasakan mencuci
tangan sebelum makan dengan teknik yang telah direkomendasikan oleh WHO, maka
akan mengurangi resiko penyakit diare yang disebabkan oleh bakteri Kolera yang tumbuh berkembang pesat pada
pasca banjir. Mencuci tangan dengan menggosokkan tangan mulai dari sela-sela
jari sampai ke pergelangan tangan memungkinkan untuk menghilangkan bakteri yang
menempel pada tangan. Serta dengan mencuci tangan menggunakan antiseptik berupa alkohol 60-80% sangat memungkinkan
untuk membunuh bakteri yang menempel pada tangan Karena bakteri pada umumnya
tidak suka dengan suasana asam. Dengan demikian, membiasakan mencuci tangan
dengan langkah-langkah handwashing WHO
dapat mengurangi resiko penyakit diare akibat bakteri Kolera yang berkembang dengan pesat pasca banjir.
DAFTAR
PUSTAKA
1.
Anonim, Antisipasi Penyakit Musiman di
Musim Penghujan, 2013, [diakses pada tanggal 4
Juli 2014. Available from: http://www.bin.go.id/awas/detil/189/4/30/01/2013/antisipasi-penyakit-musiman-di
musim-penghujan-
2.
Kemenkes RI, Situasi Diare di Indonesia,
Buletin Jendela Data dan Informasi Kesehatan, Triwulan II, ISNN 2088 – 270x,
2011.
3.
Institute of Medicine, 1986. Disease of
Important of Developing Countries. In : New Vaccine Development, Establishing
Properties, Vol II, Washington: National Academy Press
4.
Hiswani, Diare Merupakan Salah Satu
Masalah Kesehatan Masyarakat yang Kejadiannya Sangat Erat dengan Keadaan
Sanitasi Lingkungan, [diakses pada tanggal 4
Juli 2014. Available from:http://library.usu.ac.id/download/fkm/fkm-hiswani7.pdf
5.
Anonim, Lembar Fakta Penyakit Menular, [diakses pada tanggal 4 Juli 2014. Available from: http://www.mhcs.health.nsw.gov.au/publicationsandresources/pdf/publication-pdfs/diseases-and-conditions/7195/doh-7195-ind.pdf
6.
Desiyanto,
F., A., Djannah, S., N., EFEKTIVITAS
MENCUCI TANGAN MENGGUNAKAN CAIRAN PEMBERSIH TANGAN ANTISEPTIK (HAND
SANITIZER) TERHADAP JUMLAH ANGKA KUMAN, Kesmas, 2 (70), 55-112, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas
Ahmad Dahlan Yogyakarta, 2013.
7.
World Health Organization, World Health
Statistics: Causes of Death, 2010.
8.
Guyton, A., C., Hall, J., E., Textbook of Medical physiology, 12th
eds, W. B. Saunders, 2011.
9.
Notoatmojo S. Promosi Kesehatan dan Ilmu
Perilaku.
Jakarta: Rineka
Cipta; 2007.
10. Hardiyanti, A.E. Indikator Perbaikan Kesehatan Lingkungan
Anak. Jakarta: EGC; 2005.
11. Rachmayanti, Penggunaan Media
Panggung Boneka dalam Pendidikan Personal Hygiene Cuci Tangan Menggunakan Sabun
di Air Mengalir, Jurnal Promosi Kesehatan, 1(1), 1-13, Universitas
Airlangga, Surabaya. 2009.
12. World Health Organization, Hand Hygiene: How, Why, and When?, 2009
13. Isnaw, R.P., Anggraini, D.,
Restuastuti, T., Daya Anti Bakteri Cairan Pencuci Tangan Formula World
Health Organization (WHO) yang Langsung Digunakan dan yang Digunakan 40 Hari
Setelah Produksi, http://repository.unri.ac.id/bitstream/123456789/2221/1/Artikel%20pubilkasi%20Rahmi%20Putri%20Isnaw%200908113617.pdf diakses tanggal 4 Juli 2014,
Yogyakarta. 2012.
14. Loho, T., Utami, L., Efectivity
Test of Antiseptic Solution 17o Triclosan Against Staphylococcum aureus,
Escherichia coli, Enterococcus faecalis, and Pseudomonas aeruginosa, Majalah
Kedokteran Indonesia, 57(6), 175-178, Departemen Patologi Klinik Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta. 2007.
15.
Maryunani,
A. Ilmu kesehatan anak dalam kebidanan. Jakarta: CV. Trans info media; 2010.
16. Garner
JS, Favero MS. CDC guideline for handwashing and hospital environmental
control, 1985. Infect Control 1986;
7:231–43
No comments:
Post a Comment