Monday, 28 November 2016

MEMBIASAKAN HANDWASHING WHO UNTUK MENCEGAH PENYAKIT KOLERA (DIARE) PASCA BENCANA BANJIR
Oleh:
Fitri Rachmawati Putri
Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia

Musim penghujan di Indonesia pada umumnya jatuh pada bulan Oktober sampai dengan Maret untuk setiap tahunnya. Namun, terjadi suatu perubahan pola iklim dunia yang terjadi dalam 2 dasawarsa terakhir yang juga berdampak pada menggesernya pola curah hujan yang justru sering terjadi di bulan periode panas. Secara khusus, frekuensi curah hujan tiap kota berbeda-beda 1.
Musim hujan di Indonesia mencapai puncaknya pada bulan Januari berdampak pada 1.212.747 orang yang meningkat dari angka 171.259 di bulan Desember 2013. Hujan lebat di wilayah Indonesia pada akhir Desember dan awal Januari menyebabkan banjir meluas terutama di kota Jakarta dan Manado2.
Intensitas hujan lebat dalam waktu yang cukup lama selama bulan Desember sampai Januari sangat bervariasi, mulai dari yang sedang hingga tinggi. Akibatnya intensitas hujan yang tinggi ini menyebabkan dampak bencana yang cukup serius di beberapa wilayah di Indonesia seperti banjir. Lalu setelah banjir tersebut surut dan frekuensi maupun intensitas hujan yang tinggi mulai rendah. Di saat yang seperti inilah perlu diwaspadai menjalarnya penyakit di sekitar kawasan bencana 1.
Air yang masih tersisa di sekitar kawasan banjir yang menggenang di permukaan akan dapat memicu terjadinya berbagai macam  penyakit salah satunya adalah penyakit diare. Penyakit kolera atau yang lebih dikenal masayarakat adalah penyakit diare ini sampai saat ini adalah masalah kesehatan masyarakat di negara berkembang seperti di Indonesia 3.
Diare merupakan suatu kumpulan dari gejala infeksi pada saluran pencernaan yang dapat disebabkan oleh beberapa organisme seperti bakteri, virus dan parasit. Beberapa organisme tersebut biasanya menginfeksi saluran pencernaan manusia melalui makanan dan minuman yang telah tercemar oleh organisme tersebut (food borne disease) 2.
Diare yang paling sering umum terjadi disebabkan oleh Colera. Toksin kolera secara langsung akan menstimulasi sekresi elektrolit dan cairan dalam jumlah yang berlebihan pada kripta Lieberkuhn pada ileum distal dan colon. Jumlahnya dapat 10 sampai 12 liter per hari, walaupun colon biasanya dapat mereabsorbsi maksimum hanya 6 sampai 8 liter per hari. Oleh karena itu, kehilangan cairan dan elektrolit dapat begitu mengganggu dalam beberapa hari sehingga dapat menimbulkan kematian 8. Diare dapat menyebabkan kematian karena gangguan penyerapan pada usus yang tidak bisa menyerap cairan dan elektrolit, secara otomatis tubuh akan kehilangan banyak cairan lewat diare tersebut. Sehingga membuat tubuh menjadi dehidrasi. Apabila tidak ditangani lebih lanjut, maka dapat menyebabkan kematian.
Di Indonesia, penyebab kematian akibat Diare pada semua kelompok umur, dari SKRT tahun 2001 (17%) menduduki urutan ke 2; dari SKRT tahun 2003 (19%) menduduki urutan pertama dan dari Riskesdas 2007 pada penyakit menular (13,2%) men-duduki urutan ke 4.17 Namun penyebab kematian akibat Diare pada balita pada SKRT 2003 (19%), angka ini ditemukan lebih tinggi pada Riskesdas 2007 yaitu 25,2% dan menduduki urutan pertama / tertinggi. Demikian pula kelompok umur 29 hari-11 bulan (31,4%), juga menduduki urutan pertama/ tertinggi. Dalam hal ini ditemukan adanya peningkatan yang cukup tinggi pro-porsi kematian balita akibat Diare 7.
Berdasarkan pola penyebab kematian semua umur, diare merupakan penyebab kematian peringkat ke-13 dengan proporsi 3,5%. Sedangkan berdasarkan penyakit menular, diare merupakan penyebab kematian peringkat ke-3 setelah TB dan Pneumonia 2.
Angka kematian akibat diare di Indonesia masih sekitar 7,4%. Sedangkan angka kematian akibat diare persisten lebih tinggi yaitu 45%. Sementara itu pada survey morbiditas yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan (Depkes) tahun 2001, menemukan angka kejadian diare di Indonesia adalah berkisar 200-374 per 1000 penduduk. Sedangkan menurut Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2004, angka kematian akibat diare 23 per 100.000 penduduk dan angka kematian akibat diare pada balita adalah 75 per 100.000 balita. Insiden penyakit diare yang berkisar antara 200-374 dalam 1000 penduduk, dimana 60-70% diantaranya anak-anak usia dibawah 5 tahun 15.
Banyaknya penyakit diare ini salah satunya disebabkan oleh perilaku orang-orang yang tidak mencuci tangan sebelum makan atau mencuci tangan dengan cara yang salah. Apabila ditambah dengan bencana banjir yang sering terjadi di Indonesia maka akan meningkatkan pula jumlah mikrobakteri seperti Colera.
Menurut Green kesehatan seseorang atau masyarakat dipengaruhi oleh dua faktor pokok, yakni faktor perilaku (behaviour causes) dan faktor di luar perilaku (non-behaviour causes). Selanjutnya perilaku itu sendiri ditentukan atau terbentuk dari tiga faktor, diantaranya adalah faktor pemungkin (enambling factor) yaitu faktor pemicu terhadap perilaku yang memungkinkan suatu tindakan atau motivasi. Faktor pemicu tersebut mencakup ketersediaan sarana dan prasarana atau fasilitas kesehatan misalnya air bersih, tempat pembuangan sampah, ketersediaan jamban, makanan bergizi dan sebagainya 9. Sanitasi dan kebersihan rumah tangga yang buruk, kurangnya air minum yang aman dan pajanan pada sampah padat (misalnya, melalui pengambilan sampah di lingkungan) yang kemudian mengakibatkan penyakit diare 10.
Mencuci tangan adalah salah satu tindakan sanitasi dengan membersikan jari-jemari menggunakan air atau pun cairan lainnya oleh manusia dengan tujuan untuk menjadi bersih, sebagai ritual keagamaan, ataupun tujuan-tujuan lainnya 6. Cuci tangan pakai sabun yang dipraktikkan secara tepat dan benar merupakan cara termudah dan efektif untuk mencegah berjangkitnya penyakit seperti diare.
Mencuci tangan dengan air dan sabun dapat lebih efektif menghilangkan kotoran dan debu secara mekanis dari permukaan kulit dan secara bermakna mengurangi jumlah mikroorganisme penyebab penyakit seperti virus, bakteri dan parasit lainnya pada kedua tangan. Oleh karenanya, mencuci tangan dengan menggunakan air dan sabun dapat lebih efektif membersihkan kotoran dan telur cacing yang menempel pada permukaan kulit, kuku dan jari-jari pada kedua tangan 11.
Kebiasaan yang berhubungan dengan kebersihan perorangan yang penting dalam penularan kuman diare adalah mencuci tangan. Mencuci tangan dengan sabun, terutama sesudah buang air besar, sesudah membuang tinja anak, sebelum menyiapkan makanan, sebelum menyuapi makan anak dan sebelum makan, mempunyai dampak dalam kejadian diare ( Menurunkan angka kejadian diare sebesar 47%) 2.
Kebanyakan orang-orang di Indonesia khususnya, banyak yang tidak mencuci tangan sebelum makan. Ada juga yang mencuci tangan, tetapi tidak menggunakan sabun maupun langkah-langkah handwashing WHO. Mencuci tangan tidak menggunakan sabun maupun langkah-langkah handwashing WHO, juga akan meningkatkan resiko menempelnya bakteri di kulit seperti bakteri penyebab diare.
Pada perlakuan mencuci tangan tanpa pemberian zat anti kuman, jumlah angka kuman masih tinggi, sedangkan pada perlakuan mencuci tangan dengan menambahkan zat anti kuman jumlah angka kuman menjadi lebih rendah, sehingga mean angka kuman untuk setiap perlakuan mencuci tangan dengan menambahkan zat anti kuman hampir sama atau tidak ada perbedaan yang signifikan 6.
Cuci tangan yang baik adalah mencuci tangan dengan menggunakan sabun plain (tidak mengandung anti mikroba) atau sabun antiseptik yang mengandung anti mikroba, dengan menggosok-gosok kedua tangan meliputi seluruh permukaan tangan dan mencucinya dengan air mengalir dan mengeringkannya secara keseluruhan dengan menggunakan handuk sekali pakai. Kebersihan pribadi dan pembersihan rutin sangat penting untuk kesehatan yang baik. Sering mencuci tangan dengan cara yang baik adalah kunci untuk mencegah penyebaran mikroorganisme yang menyebabkan penyakit umum dan pembersihan secara teratur permukaan tangan dapat menghilangkan partikel kotoran dan makanan di mana kuman dapat tumbuh 2. Cuci tangan yang direkomendasikan oleh WHO adalah langkah-langkah handwashing WHO.
Capture.JPG
   Sumber : World Health Organization, 2009
Langkah-langkah dari handwashing WHO yang paling utama adalah menggunakan sabun, menggosok punggung dan sela-sela jari tangan kiri dengan tangan kanan dan sebaliknya, menggosok kedua telapak tangan dengan sela-sela jari, jari-jari di sisi dalam dari kedua tangan saling mengunci,menggosok ibu jari kiri berputar dalm genggaman tangan kanan dan melakukan sebaliknya, menggosok dengan memutar ujung jari-jari tangan kanan di telapak tangan kiri dan sebaliknya 12. Sabun yang baik untuk mencuci tangan adalah alkohol. Konsentrasi terbaik alkohol sebagai antiseptik adalah 60-80% 13.  
Dalam suatu penelitian yang dilakukan oleh Desiyanto (2013) tentang efektivitas mencuci tangan menggunakan air biasa dengan menggunakan disinfektan (antiseptik), angka kuman pada kelompok kontrol dan perlakuan menggunakan air mengalir hasilnya lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok perlakuan menggunakan sabun, hand sanitizer A, dan hand sanitizer B dikarenakan pada perlakuan menggunakan air mengalir dan kontrol tidak mengandung zat anti kuman/desinfektan 6.
Antiseptik merupakan bahan kimia yang mencegah multiplikasi organisme pada permukaan tubuh, dengan cara membunuh mikroorganisme tersebut atau menghambat pertumbuhan dan aktivitas metaboliknya 14. Melakukan handwashing  dengan menggunakan antiseptik secara mekanismenya akan mengurangi dan membunuh bakteri-bakteri yang menempel pada tangan 16. Apalagi dengan keadaan pasca banjir yang mana banyak sumber air yang mengalir di perumahan penduduk menjadi tercemar. Pencemaran air ini dapat membuat bakteri Kolera tumbuh dengan pesat.
Dalam Islam juga menjelaskan bahwa mencuci tangan yang baik  dan benar juga diajarkan pada saat berwudhu. Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Laqith bin Shabrah, katanya, “Aku berkata: ‘Wahai Rasululla, kabarkan kepadaku tentang wudhu?’ Nabi berkata,’ Sempurnakan wudhu-mu, dan sela-selalah antara jemarimu, dan bersungguh-sungguhlah dalam memasukkan air ke dalam hidung kecuali jika kamu dalam keadaan puasa.” (Diriwayatkan oleh loma imam, dishahihkan oleh Tirmidzi). Dalam hadits Sunan Abu Daud mengatakan bahwa berkah makanan adalah dengan berwudhu sebelum makan dan setelah makan. Hal itu menjadi bukti bahwa dengan mencuci tangan dengan benar yaitu cuci tangan yang direkomendasikan oleh WHO sebelum dan setelah makan akan terhindar dari berbagai macam penyakit salah satunya adalah diare yang saat ini banyak djumpai di negara Indonesia pasca banjir.
Dari beberapa penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa dengan membiasakan mencuci tangan sebelum makan dengan teknik yang telah direkomendasikan oleh WHO, maka akan mengurangi resiko penyakit diare yang disebabkan oleh bakteri Kolera yang tumbuh berkembang pesat pada pasca banjir. Mencuci tangan dengan menggosokkan tangan mulai dari sela-sela jari sampai ke pergelangan tangan memungkinkan untuk menghilangkan bakteri yang menempel pada tangan. Serta dengan mencuci tangan menggunakan antiseptik  berupa alkohol 60-80% sangat memungkinkan untuk membunuh bakteri yang menempel pada tangan Karena bakteri pada umumnya tidak suka dengan suasana asam. Dengan demikian, membiasakan mencuci tangan dengan langkah-langkah handwashing WHO dapat mengurangi resiko penyakit diare akibat bakteri Kolera yang berkembang dengan pesat pasca banjir.
















DAFTAR PUSTAKA
1.      Anonim, Antisipasi Penyakit Musiman di Musim Penghujan, 2013, [diakses pada tanggal 4 Juli 2014. Available from: http://www.bin.go.id/awas/detil/189/4/30/01/2013/antisipasi-penyakit-musiman-di musim-penghujan-
2.      Kemenkes RI, Situasi Diare di Indonesia, Buletin Jendela Data dan Informasi Kesehatan, Triwulan II, ISNN 2088 – 270x, 2011.
3.      Institute of Medicine, 1986. Disease of Important of Developing Countries. In : New Vaccine Development, Establishing Properties, Vol II, Washington: National Academy Press
4.      Hiswani, Diare Merupakan Salah Satu Masalah Kesehatan Masyarakat yang Kejadiannya Sangat Erat dengan Keadaan Sanitasi Lingkungan, [diakses pada tanggal 4 Juli 2014. Available from:http://library.usu.ac.id/download/fkm/fkm-hiswani7.pdf
5.      Anonim, Lembar Fakta Penyakit Menular, [diakses pada tanggal 4 Juli 2014. Available from: http://www.mhcs.health.nsw.gov.au/publicationsandresources/pdf/publication-pdfs/diseases-and-conditions/7195/doh-7195-ind.pdf
6.      Desiyanto, F., A., Djannah, S., N., EFEKTIVITAS MENCUCI TANGAN MENGGUNAKAN CAIRAN PEMBERSIH TANGAN ANTISEPTIK (HAND SANITIZER) TERHADAP JUMLAH ANGKA KUMAN, Kesmas, 2 (70), 55-112,  Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, 2013.
7.      World Health Organization, World Health Statistics: Causes of Death, 2010.
8.      Guyton, A., C., Hall, J., E., Textbook of Medical physiology, 12th eds, W. B. Saunders, 2011.
9.      Notoatmojo S. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta: Rineka Cipta; 2007.
10.  Hardiyanti, A.E. Indikator Perbaikan Kesehatan Lingkungan Anak. Jakarta: EGC; 2005.
11.  Rachmayanti, Penggunaan Media Panggung Boneka dalam Pendidikan Personal Hygiene Cuci Tangan Menggunakan Sabun di Air Mengalir, Jurnal Promosi Kesehatan, 1(1), 1-13, Universitas Airlangga, Surabaya. 2009.
12.  World Health Organization, Hand Hygiene: How, Why, and When?, 2009
13.  Isnaw, R.P., Anggraini, D., Restuastuti, T., Daya Anti Bakteri Cairan Pencuci Tangan Formula World Health Organization (WHO) yang Langsung Digunakan dan yang Digunakan 40 Hari Setelah Produksi,  http://repository.unri.ac.id/bitstream/123456789/2221/1/Artikel%20pubilkasi%20Rahmi%20Putri%20Isnaw%200908113617.pdf diakses tanggal 4 Juli 2014, Yogyakarta. 2012.
14.  Loho, T., Utami, L., Efectivity Test of Antiseptic Solution 17o Triclosan Against Staphylococcum aureus, Escherichia coli, Enterococcus faecalis, and Pseudomonas aeruginosa, Majalah Kedokteran Indonesia, 57(6), 175-178, Departemen Patologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta. 2007.
15.  Maryunani, A. Ilmu kesehatan anak dalam kebidanan. Jakarta: CV. Trans info media; 2010.

16.  Garner JS, Favero MS. CDC guideline for handwashing and hospital environmental control, 1985. Infect Control 1986; 7:231–43

No comments:

Post a Comment