Tuesday, 29 November 2016

YUK ATASI HIPERTENSI DARI SEKARANG ! !

Taukah kamu apa itu hipertensi?
Hipertensi adalah suatu keadaan dimana terjadi peningkatan tekanan darah sistolik >120 dan diastolik >80. Hipertensi memiliki berbagai macam faktor resiko misal karena faktor stress, terjadi penyempitan pembuluh darah,  faktor hormonal, faktor keturunan, jenis kelamin, usia, dan lain-lain. Faktor makanan juga bisa menjadi pemicu terjadinya hipertensi. Orang yang hipertensi cenderung lebih suka makan makanan yang asin dan makanan instan kalengan. Makanan kalengan merupakan salah satu penyebab karena makanan kalengan yang diawetkan biasanya memiliki kandungan natrium yang sangat tinggi. Natrium yang tinggi itulah yang bisa membuat makanan menjadi awet.
Biasanya hipertensi memiliki gejala seperti kaku di daerah tengkuk atau leher, pusing, lemas, lemah, dan lain-lain. Mengapa bisa terjadi gejala seperti diatas? Hal itu disebabkan karena pada orang yang hipertensi, biasanya pengiriman oksigen ke beberapa jaringan tubuh menjadi berkurang. Orang yang hipertensi, darah yang mengalir hanya mengalir begitu saja, sehingga pengiriman oksigen yang dibawa darah ke organ atau jaringan tubuh manusia menjadi berkurang. Apabila jaringan tubuh manusia kekurangan oksigen, maka akan menimbulkan manifestasi klinis seperti diatas.
Banyak orang yang hipertensi tetapi tidak memiliki gejala sama sekali. Hal itu cenderung harus diperhatikan, karena orang yang mengalami hipertensi yang tidak bergejala bisa jadi menjadi komplikasi lanjutan seperti penyakit jantung koroner, dislipidemia, dan lain-lain. Sehingga orang yang hipertensi harus rutin kontrol untuk memantau kondisi tekanan darahnya agar menjadi stabil.
Apa sih penyebab utama dari hipertensi? Penyebab paling utama dari hipertensi adalah air dan garam. Mengkonsumsi garam yang terlalu berlebihan akan meningkatkan volume darah, sehingga membuat darah mengalir begitu cepat dengan volume yang banyak tanpa ada pertukaran oksigen ke jaringan. Garam merupakan suatu senyawa dengan rumus kimia NaCl. NaCl merupakan suatu senyawa yang mudah menarik air ke dalam lumen pembuluh darah. Apabila air ditarik ke dalam lumen pembuluh darah, maka akan meningkatkan volume darah juga. Biasanya konsumsi makanan-makanan yang asin terlalu banyak bisa menyebabkan hipertensi.
Hipertensi diklasifikasikan menjadi 4 klasifikasi yaitu normal, pre-hipertensi, hipertensi grade 1, hipertensi grade 2. Tekanan darah normal adalah 120/80, prehipertensi adalah sistolik 120-139 dan/atau diastolik 80-89, hipertensi grade 1 adalah sistolik 140-159 dan/atau diastolik 90-99, hipertensi grade 2 adalah sistolik >160 dan/atau diastolik >100.
Peningkatan tekanan darah juga bisa dialami oleh orang yang sudah lanjut usia hal ini dikarenakan proses penuaan. Apabila peningkatan tekanan darah pada orang lanjut usia tidak terlalu signifikan, maka hal tersebut bisa dianggap normal. Namun tetap pada orang tua harus tetap kontrol rutin tekanan darah. selain pada orang lanjut usia, peningkatan tekanan darah juga bisa terjadi pada ibu hamil. Peningkatan tekanan darah pada ibu hamil disebabkan karena produksi cairan yang terlalu banyak. Produksi cairan tersebut merupakan air ketuban. Cairan yang menjaga bayi agar bisa terlindung dari benturan. Namun apabila hipertensi pada ibu hamil disertai peningkatan protein pada pemeriksaan urin, maka hal tersebut merupakan suatu tanda dari penyakit eklampsia dan pre eklamsia. Hal itu harus segera ditangani.
Lalu bagaimana cara menghindari hipertensi?
Hal yang paling utama adalah mengubah faktor resiko yang bisa diubah misal faktor stres atau faktor pola makan. Faktor stres sangat berpengaruh dengan kejadian hipertensi, sehingga sebaiknya mengurangi stres atau tidak terlalu banyak pikiran. Selain itu juga bisa melalui makanan. Kurangi makanan yang asin-asin supaya tidak terlalu banyak garam yang dikonsumsi.
Berikut adalah pola diet yang diberikan kepada orang hipertensi. Tujuan diet ini adalah untuk membantu menurunkan tekanan darah dan membantu menghilangkan penimbunan cairan dalam tubuh. Syarat dari diet ini adalah makanan yang dikonsumsi harus beraneka ragam dan mengikuti pola gizi seimbang, jenis dan komposisi makanan disesuaikan dengan kondisi penderita, jumlah garam disesuaikan dengan berat ringannya penyakit dan obat yang diberikan. Ada beberapa bahan makanan yang dianjurkan, bahan makanan yang dibatasi, dan bahan makanan yang dihindari.
Bahan makanan yang dianjurkan adalah makanan yang diperbolehkan untuk dikonsumsi dan tidak ada pembatasan konsumsinya. Contoh dari bahan makanan ini seperti protein nabati dan hewani, buah-buahan yang banyak serat, daging ayam atau ikan maksimal 100 gram/hari, telur ayam/bebek maksimal 1 butir/hari. Susu segar 200 ml/hari.
Bahan makanan yang dibatasi adalah makanan yang diperbolehkan namun tetap ada pembatasan jumlah. Contohnya adalah pemakaian garam dapur harus dibatasi. Apabila hipertensi stage 2 maka sama sekali tidak boleh makan garam, untuk hipertensi stage 1 maka maksimal garam yang dikonsumsi adalah 1/2  sdt per hari, sedangkan untuk prehipertensi maksimal garam yang dikonsumsi adalah 1 sdt per hari. Penggunaan bahan makanan yang mengandung natrium seperti soda kue juga dibatasi penggunaannya.
Bahan makanan yang harus dihindari adalah bahan makanan yang sama sekali tidak boleh dikonsumsi. Contohnya seperti otak, ginjal, paru, jantung, daging kambing, krupuk, crackers, pastries, makanan kering yang asin, makanan yang diawetkan seperti ikan kaleng, sosis, kornet,  sayuran dan buah yang dalam kaleng, ikan asin, telur asin, kecap asin, saus tomat, bumbu penyedap, makanan yang mengandung alkohol.
Pada intinya, kurangi atau hindari garam. Makanan tanpa garam pastinya akan hambar. Hal itu bisa diperbaiki dengan menambah gula merah, gula pasir, bawang merah, bawang putih, jahe, kencur, salam, dan bumbu lain yang mengandung sedikit Na. Dapat juga menggunakan garam yang mengandung rendah natrium.
Selain dari pola makan juga obat yang biasanya digunakan untuk mengobati gejala hipertensi ini adalah captopril dan obat diuretik. Namun, obat-obat tersebut harus dengan resep dokter dan harus konsultasi dengan dokter terlebih dahulu. Kunci utama dari penanganan hipertensi adalah mengatur pola makan dan cek tekanan darah secara teratur.

Kira-kira cukup sekian info yang bisa saya berikan, semoga bisa bermanfaat dan bisa diterapkan dikehidupan sehari-hari. Semoga tetap sehat selalu J

Monday, 28 November 2016

MEMBIASAKAN HANDWASHING WHO UNTUK MENCEGAH PENYAKIT KOLERA (DIARE) PASCA BENCANA BANJIR
Oleh:
Fitri Rachmawati Putri
Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia

Musim penghujan di Indonesia pada umumnya jatuh pada bulan Oktober sampai dengan Maret untuk setiap tahunnya. Namun, terjadi suatu perubahan pola iklim dunia yang terjadi dalam 2 dasawarsa terakhir yang juga berdampak pada menggesernya pola curah hujan yang justru sering terjadi di bulan periode panas. Secara khusus, frekuensi curah hujan tiap kota berbeda-beda 1.
Musim hujan di Indonesia mencapai puncaknya pada bulan Januari berdampak pada 1.212.747 orang yang meningkat dari angka 171.259 di bulan Desember 2013. Hujan lebat di wilayah Indonesia pada akhir Desember dan awal Januari menyebabkan banjir meluas terutama di kota Jakarta dan Manado2.
Intensitas hujan lebat dalam waktu yang cukup lama selama bulan Desember sampai Januari sangat bervariasi, mulai dari yang sedang hingga tinggi. Akibatnya intensitas hujan yang tinggi ini menyebabkan dampak bencana yang cukup serius di beberapa wilayah di Indonesia seperti banjir. Lalu setelah banjir tersebut surut dan frekuensi maupun intensitas hujan yang tinggi mulai rendah. Di saat yang seperti inilah perlu diwaspadai menjalarnya penyakit di sekitar kawasan bencana 1.
Air yang masih tersisa di sekitar kawasan banjir yang menggenang di permukaan akan dapat memicu terjadinya berbagai macam  penyakit salah satunya adalah penyakit diare. Penyakit kolera atau yang lebih dikenal masayarakat adalah penyakit diare ini sampai saat ini adalah masalah kesehatan masyarakat di negara berkembang seperti di Indonesia 3.
Diare merupakan suatu kumpulan dari gejala infeksi pada saluran pencernaan yang dapat disebabkan oleh beberapa organisme seperti bakteri, virus dan parasit. Beberapa organisme tersebut biasanya menginfeksi saluran pencernaan manusia melalui makanan dan minuman yang telah tercemar oleh organisme tersebut (food borne disease) 2.
Diare yang paling sering umum terjadi disebabkan oleh Colera. Toksin kolera secara langsung akan menstimulasi sekresi elektrolit dan cairan dalam jumlah yang berlebihan pada kripta Lieberkuhn pada ileum distal dan colon. Jumlahnya dapat 10 sampai 12 liter per hari, walaupun colon biasanya dapat mereabsorbsi maksimum hanya 6 sampai 8 liter per hari. Oleh karena itu, kehilangan cairan dan elektrolit dapat begitu mengganggu dalam beberapa hari sehingga dapat menimbulkan kematian 8. Diare dapat menyebabkan kematian karena gangguan penyerapan pada usus yang tidak bisa menyerap cairan dan elektrolit, secara otomatis tubuh akan kehilangan banyak cairan lewat diare tersebut. Sehingga membuat tubuh menjadi dehidrasi. Apabila tidak ditangani lebih lanjut, maka dapat menyebabkan kematian.
Di Indonesia, penyebab kematian akibat Diare pada semua kelompok umur, dari SKRT tahun 2001 (17%) menduduki urutan ke 2; dari SKRT tahun 2003 (19%) menduduki urutan pertama dan dari Riskesdas 2007 pada penyakit menular (13,2%) men-duduki urutan ke 4.17 Namun penyebab kematian akibat Diare pada balita pada SKRT 2003 (19%), angka ini ditemukan lebih tinggi pada Riskesdas 2007 yaitu 25,2% dan menduduki urutan pertama / tertinggi. Demikian pula kelompok umur 29 hari-11 bulan (31,4%), juga menduduki urutan pertama/ tertinggi. Dalam hal ini ditemukan adanya peningkatan yang cukup tinggi pro-porsi kematian balita akibat Diare 7.
Berdasarkan pola penyebab kematian semua umur, diare merupakan penyebab kematian peringkat ke-13 dengan proporsi 3,5%. Sedangkan berdasarkan penyakit menular, diare merupakan penyebab kematian peringkat ke-3 setelah TB dan Pneumonia 2.
Angka kematian akibat diare di Indonesia masih sekitar 7,4%. Sedangkan angka kematian akibat diare persisten lebih tinggi yaitu 45%. Sementara itu pada survey morbiditas yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan (Depkes) tahun 2001, menemukan angka kejadian diare di Indonesia adalah berkisar 200-374 per 1000 penduduk. Sedangkan menurut Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2004, angka kematian akibat diare 23 per 100.000 penduduk dan angka kematian akibat diare pada balita adalah 75 per 100.000 balita. Insiden penyakit diare yang berkisar antara 200-374 dalam 1000 penduduk, dimana 60-70% diantaranya anak-anak usia dibawah 5 tahun 15.
Banyaknya penyakit diare ini salah satunya disebabkan oleh perilaku orang-orang yang tidak mencuci tangan sebelum makan atau mencuci tangan dengan cara yang salah. Apabila ditambah dengan bencana banjir yang sering terjadi di Indonesia maka akan meningkatkan pula jumlah mikrobakteri seperti Colera.
Menurut Green kesehatan seseorang atau masyarakat dipengaruhi oleh dua faktor pokok, yakni faktor perilaku (behaviour causes) dan faktor di luar perilaku (non-behaviour causes). Selanjutnya perilaku itu sendiri ditentukan atau terbentuk dari tiga faktor, diantaranya adalah faktor pemungkin (enambling factor) yaitu faktor pemicu terhadap perilaku yang memungkinkan suatu tindakan atau motivasi. Faktor pemicu tersebut mencakup ketersediaan sarana dan prasarana atau fasilitas kesehatan misalnya air bersih, tempat pembuangan sampah, ketersediaan jamban, makanan bergizi dan sebagainya 9. Sanitasi dan kebersihan rumah tangga yang buruk, kurangnya air minum yang aman dan pajanan pada sampah padat (misalnya, melalui pengambilan sampah di lingkungan) yang kemudian mengakibatkan penyakit diare 10.
Mencuci tangan adalah salah satu tindakan sanitasi dengan membersikan jari-jemari menggunakan air atau pun cairan lainnya oleh manusia dengan tujuan untuk menjadi bersih, sebagai ritual keagamaan, ataupun tujuan-tujuan lainnya 6. Cuci tangan pakai sabun yang dipraktikkan secara tepat dan benar merupakan cara termudah dan efektif untuk mencegah berjangkitnya penyakit seperti diare.
Mencuci tangan dengan air dan sabun dapat lebih efektif menghilangkan kotoran dan debu secara mekanis dari permukaan kulit dan secara bermakna mengurangi jumlah mikroorganisme penyebab penyakit seperti virus, bakteri dan parasit lainnya pada kedua tangan. Oleh karenanya, mencuci tangan dengan menggunakan air dan sabun dapat lebih efektif membersihkan kotoran dan telur cacing yang menempel pada permukaan kulit, kuku dan jari-jari pada kedua tangan 11.
Kebiasaan yang berhubungan dengan kebersihan perorangan yang penting dalam penularan kuman diare adalah mencuci tangan. Mencuci tangan dengan sabun, terutama sesudah buang air besar, sesudah membuang tinja anak, sebelum menyiapkan makanan, sebelum menyuapi makan anak dan sebelum makan, mempunyai dampak dalam kejadian diare ( Menurunkan angka kejadian diare sebesar 47%) 2.
Kebanyakan orang-orang di Indonesia khususnya, banyak yang tidak mencuci tangan sebelum makan. Ada juga yang mencuci tangan, tetapi tidak menggunakan sabun maupun langkah-langkah handwashing WHO. Mencuci tangan tidak menggunakan sabun maupun langkah-langkah handwashing WHO, juga akan meningkatkan resiko menempelnya bakteri di kulit seperti bakteri penyebab diare.
Pada perlakuan mencuci tangan tanpa pemberian zat anti kuman, jumlah angka kuman masih tinggi, sedangkan pada perlakuan mencuci tangan dengan menambahkan zat anti kuman jumlah angka kuman menjadi lebih rendah, sehingga mean angka kuman untuk setiap perlakuan mencuci tangan dengan menambahkan zat anti kuman hampir sama atau tidak ada perbedaan yang signifikan 6.
Cuci tangan yang baik adalah mencuci tangan dengan menggunakan sabun plain (tidak mengandung anti mikroba) atau sabun antiseptik yang mengandung anti mikroba, dengan menggosok-gosok kedua tangan meliputi seluruh permukaan tangan dan mencucinya dengan air mengalir dan mengeringkannya secara keseluruhan dengan menggunakan handuk sekali pakai. Kebersihan pribadi dan pembersihan rutin sangat penting untuk kesehatan yang baik. Sering mencuci tangan dengan cara yang baik adalah kunci untuk mencegah penyebaran mikroorganisme yang menyebabkan penyakit umum dan pembersihan secara teratur permukaan tangan dapat menghilangkan partikel kotoran dan makanan di mana kuman dapat tumbuh 2. Cuci tangan yang direkomendasikan oleh WHO adalah langkah-langkah handwashing WHO.
Capture.JPG
   Sumber : World Health Organization, 2009
Langkah-langkah dari handwashing WHO yang paling utama adalah menggunakan sabun, menggosok punggung dan sela-sela jari tangan kiri dengan tangan kanan dan sebaliknya, menggosok kedua telapak tangan dengan sela-sela jari, jari-jari di sisi dalam dari kedua tangan saling mengunci,menggosok ibu jari kiri berputar dalm genggaman tangan kanan dan melakukan sebaliknya, menggosok dengan memutar ujung jari-jari tangan kanan di telapak tangan kiri dan sebaliknya 12. Sabun yang baik untuk mencuci tangan adalah alkohol. Konsentrasi terbaik alkohol sebagai antiseptik adalah 60-80% 13.  
Dalam suatu penelitian yang dilakukan oleh Desiyanto (2013) tentang efektivitas mencuci tangan menggunakan air biasa dengan menggunakan disinfektan (antiseptik), angka kuman pada kelompok kontrol dan perlakuan menggunakan air mengalir hasilnya lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok perlakuan menggunakan sabun, hand sanitizer A, dan hand sanitizer B dikarenakan pada perlakuan menggunakan air mengalir dan kontrol tidak mengandung zat anti kuman/desinfektan 6.
Antiseptik merupakan bahan kimia yang mencegah multiplikasi organisme pada permukaan tubuh, dengan cara membunuh mikroorganisme tersebut atau menghambat pertumbuhan dan aktivitas metaboliknya 14. Melakukan handwashing  dengan menggunakan antiseptik secara mekanismenya akan mengurangi dan membunuh bakteri-bakteri yang menempel pada tangan 16. Apalagi dengan keadaan pasca banjir yang mana banyak sumber air yang mengalir di perumahan penduduk menjadi tercemar. Pencemaran air ini dapat membuat bakteri Kolera tumbuh dengan pesat.
Dalam Islam juga menjelaskan bahwa mencuci tangan yang baik  dan benar juga diajarkan pada saat berwudhu. Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Laqith bin Shabrah, katanya, “Aku berkata: ‘Wahai Rasululla, kabarkan kepadaku tentang wudhu?’ Nabi berkata,’ Sempurnakan wudhu-mu, dan sela-selalah antara jemarimu, dan bersungguh-sungguhlah dalam memasukkan air ke dalam hidung kecuali jika kamu dalam keadaan puasa.” (Diriwayatkan oleh loma imam, dishahihkan oleh Tirmidzi). Dalam hadits Sunan Abu Daud mengatakan bahwa berkah makanan adalah dengan berwudhu sebelum makan dan setelah makan. Hal itu menjadi bukti bahwa dengan mencuci tangan dengan benar yaitu cuci tangan yang direkomendasikan oleh WHO sebelum dan setelah makan akan terhindar dari berbagai macam penyakit salah satunya adalah diare yang saat ini banyak djumpai di negara Indonesia pasca banjir.
Dari beberapa penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa dengan membiasakan mencuci tangan sebelum makan dengan teknik yang telah direkomendasikan oleh WHO, maka akan mengurangi resiko penyakit diare yang disebabkan oleh bakteri Kolera yang tumbuh berkembang pesat pada pasca banjir. Mencuci tangan dengan menggosokkan tangan mulai dari sela-sela jari sampai ke pergelangan tangan memungkinkan untuk menghilangkan bakteri yang menempel pada tangan. Serta dengan mencuci tangan menggunakan antiseptik  berupa alkohol 60-80% sangat memungkinkan untuk membunuh bakteri yang menempel pada tangan Karena bakteri pada umumnya tidak suka dengan suasana asam. Dengan demikian, membiasakan mencuci tangan dengan langkah-langkah handwashing WHO dapat mengurangi resiko penyakit diare akibat bakteri Kolera yang berkembang dengan pesat pasca banjir.
















DAFTAR PUSTAKA
1.      Anonim, Antisipasi Penyakit Musiman di Musim Penghujan, 2013, [diakses pada tanggal 4 Juli 2014. Available from: http://www.bin.go.id/awas/detil/189/4/30/01/2013/antisipasi-penyakit-musiman-di musim-penghujan-
2.      Kemenkes RI, Situasi Diare di Indonesia, Buletin Jendela Data dan Informasi Kesehatan, Triwulan II, ISNN 2088 – 270x, 2011.
3.      Institute of Medicine, 1986. Disease of Important of Developing Countries. In : New Vaccine Development, Establishing Properties, Vol II, Washington: National Academy Press
4.      Hiswani, Diare Merupakan Salah Satu Masalah Kesehatan Masyarakat yang Kejadiannya Sangat Erat dengan Keadaan Sanitasi Lingkungan, [diakses pada tanggal 4 Juli 2014. Available from:http://library.usu.ac.id/download/fkm/fkm-hiswani7.pdf
5.      Anonim, Lembar Fakta Penyakit Menular, [diakses pada tanggal 4 Juli 2014. Available from: http://www.mhcs.health.nsw.gov.au/publicationsandresources/pdf/publication-pdfs/diseases-and-conditions/7195/doh-7195-ind.pdf
6.      Desiyanto, F., A., Djannah, S., N., EFEKTIVITAS MENCUCI TANGAN MENGGUNAKAN CAIRAN PEMBERSIH TANGAN ANTISEPTIK (HAND SANITIZER) TERHADAP JUMLAH ANGKA KUMAN, Kesmas, 2 (70), 55-112,  Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, 2013.
7.      World Health Organization, World Health Statistics: Causes of Death, 2010.
8.      Guyton, A., C., Hall, J., E., Textbook of Medical physiology, 12th eds, W. B. Saunders, 2011.
9.      Notoatmojo S. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta: Rineka Cipta; 2007.
10.  Hardiyanti, A.E. Indikator Perbaikan Kesehatan Lingkungan Anak. Jakarta: EGC; 2005.
11.  Rachmayanti, Penggunaan Media Panggung Boneka dalam Pendidikan Personal Hygiene Cuci Tangan Menggunakan Sabun di Air Mengalir, Jurnal Promosi Kesehatan, 1(1), 1-13, Universitas Airlangga, Surabaya. 2009.
12.  World Health Organization, Hand Hygiene: How, Why, and When?, 2009
13.  Isnaw, R.P., Anggraini, D., Restuastuti, T., Daya Anti Bakteri Cairan Pencuci Tangan Formula World Health Organization (WHO) yang Langsung Digunakan dan yang Digunakan 40 Hari Setelah Produksi,  http://repository.unri.ac.id/bitstream/123456789/2221/1/Artikel%20pubilkasi%20Rahmi%20Putri%20Isnaw%200908113617.pdf diakses tanggal 4 Juli 2014, Yogyakarta. 2012.
14.  Loho, T., Utami, L., Efectivity Test of Antiseptic Solution 17o Triclosan Against Staphylococcum aureus, Escherichia coli, Enterococcus faecalis, and Pseudomonas aeruginosa, Majalah Kedokteran Indonesia, 57(6), 175-178, Departemen Patologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta. 2007.
15.  Maryunani, A. Ilmu kesehatan anak dalam kebidanan. Jakarta: CV. Trans info media; 2010.

16.  Garner JS, Favero MS. CDC guideline for handwashing and hospital environmental control, 1985. Infect Control 1986; 7:231–43
KENALI PENCEGAHAN PENULARAN HIV DARI IBU KE ANAK (PPIA) SEJAK DINI, WUJUDKAN GENERASI YANG SEHAT
Fitri Rachmawati Putri (13711030)
Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonsia

Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) adalah penyakit yang menyerang sistem imun manusia yang disebabkan oleh Human Immunodeficiency Virus (HIV), yaitu HIV-1 dan HIV-2. HIV-1 merupakan penyebab terbanyak dari AIDS, yang mana virus tersebut menyebabkan tubuh kehilangan mekanisme pertahanan alamiah dalam melawan penyakit, sehingga tubuh menjadi rentan terhadap berbagai penyakit. HIV-2 juga disebutkan sebagai agen penyebab AIDS yang endemis di Afrika Barat. Selain itu, HIV-2 juga ditemukan di Brazil, Eropa dan Amerika Utara (1,2).
Secara umum, virus ini masuk kedalam tubuh manusia lewat 3 cara, yaitu melalui hubungan seksual, penggunaan jarum yang tidak steril atau terkontaminasi HIV, dan  penularan HIV dari ibu yang terinfeksi HIV ke janin dalam kandungannya. Virus ini ditransmisikan dari ibu ke bayi baik intrapartum, perinatal, atau ASI (3). Pada saat janin, transmisi virus HIV ini terjadi melalui sirkulasi darah terutama melalui uteroplasenta. Saat periode perinatal, infeksi vertikal lebih banyak terjadi. Karena semakin lama neonatus berkontak dengan darah ibu dan sekresi servikovaginal, maka resiko dari transmisi virusnya juga semakin bertambah besar. Bayi yang lain secara prematur dan berat badan bayi lahir rendah juga meningkatkan resiko infeksi pada saat persalinan, karena masih tipisnya barier pertahanan dari kulit dan sistem imun. Kemudian pasca persalinan, transmisi vertikal dapat terjadi karena bayi mendapat ASI dari ibu yang menderita HIV (Gambar 1) (4,6). Menurut lambert et al (2005) faktor nutrisi dan genetika juga ikut berperan terhadap progresivitas infeksi HIV selama dan sesudah kehamilan (8). Terdapat 3 faktor utama yang berpengaruh dalam penularan HIV dari ibu ke anak, yaitu faktor ibu, faktor bayi/anak, dan faktor tindakan obstetrik (Tabel 1).
Capture.JPG
Gambar 1. Risiko Penularan HIV dari Ibu ke Anak saat hamil, bersalin, dan menyusui.

FAKTOR IBU
FAKTOR BAYI/ANAK
FAKTOR OBSTETRIK
·         Kadar HIV (viral load)
·         Kadar CD4
·         Status gizi saat hamil
·         Penyakit infeksi saat hamil
·         Masalah di payudara (jika menyusui)

·         Prematuritas dan berat bayi saat lahir
·         Lama menyusu
·         Luka di mulut bayi (jika bayi menyusu)

·         Jenis persalinan
·         Lama persalinan
·         Adanya ketuban pecah dini
·         Tindakan episiotomi, ekstraksi vakum dan forseps

Tabel 1. Faktor yang berperan dalam penularan HIV dari ibu ke bayi (PPIA, 2013)
Resiko penularan HIV juga bisa terjadi pada saat laktasi. Apabila ibu tidak menyusui bayinya, risiko penularan HIV menjadi 20-30% dan akan berkurang jika ibu mendapatkan pengobatan ARV. Pemberian ARV jangka pendek dan ASI eksklusif memiliki risiko penularan HIV sebesar 15-25% dan risiko penularan sebesar 5-15% apabila ibu tidak menyusui (PASI). Akan tetapi, dengan terapi antiretroviral (ART) jangka panjang, risiko penularan HIV dari ibu ke anak dapat diturunkan lagi hingga 1-5%, dan ibu yang menyusui secara eksklusif memiliki risiko yang sama untuk menularkan HIV ke anaknya dibandingkan dengan ibu yang tidak menyusui (9).
Secara epidemiologi, data dari Kementerian Kesehatan (2011) menunjukkan dari 21.103 ibu hamil yang menjalani tes HIV, sebanyak 534 orang (2,5%) di antaranya positif terinfeksi HIV. Hasil Pemodelan Matematika Epidemi HIV Kementerian Kesehatan tahun 2012 menunjukkan prevalensi HIV pada populasi usia 15-49 tahun dan prevalensi HIV pada ibu hamil di Indonesia diperkirakan akan meningkat. Jumlah kasus HIV dan AIDS diperkirakan akan meningkat dari 591.823 (2012) menjadi 785.821 (2016), dengan jumlah infeksi baru HIV yang meningkat dari 71.879 (2012) menjadi 90.915 (2016). Sementara itu, jumlah kematian terkait AIDS pada populasi 15-49 tahun akan meningkat hampir dua kali lipat di tahun 2016 (5).
Penularan HIV dari ibu yang terinfeksi HIV ke bayinya juga cenderung meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah perempuan HIV positif yang tertular baik dari pasangan maupun akibat perilaku yang berisiko. Meskipun angka prevalensi dan penularan HIV dari ibu ke bayi masih terbatas, jumlah ibu hamil yang terinfeksi HIV cenderung meningkat. Prevalensi HIV pada ibu hamil diproyeksikan meningkat dari 0,38% (tahun 2012) menjadi 0,49% (tahun 2016). Jumlah anak yang dibawah 15 tahun yang tertular HIV dari ibunya baik pada saat masih berada dalam kandungan, persalinan, maupun pasca kelahiran atau menyusui akan meningkat dari 4.361 (tahun 2012) menjadi 5.565 (tahun 2016) yang mana ini menandakan bahwa terjadi peningkatan mortalitas anak akibat AIDS (7). Walaupun infeksi nasional HIV di Asia itu lebih rendah dibandingkan dengan benua lain (misalnya Afrika), namun populasi penduduk di negara-negara Asia sangat banyak. Kecenderungan peningkatan jumlah penderita HIV/AIDS dari tahun ke tahun tersebut membutuhkan penanganan yang serius. Di negara maju, risiko seorang bayi tertular HIV dari ibunya sekitar 2%. Tetapi di negara berkembang tanpa adanya akses intervensi, risiko penularannya bisa sampai 25% - 45% (5,6).
Upaya pencegahan penularan HIV perlu dilakukan sedini mungkin. Oleh karena itu, diperlukan adanya suatu program dari pemerintahan untuk menanggulangi masalah penularan HIV dari ibu ke anak. Supaya dapat menurunkan tingkat prevalensi HIV pada anak-anak.
Di Indonesia sendiri, upaya Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA) telah dilaksanakan di Indonesia sejak tahun 2004. Khususnya di daerah dengan tingkat epidemi HIV tinggi. Namun, hingga akhir tahun 2011 baru terdapat 94 layanan PPIA (Kemkes, 2011), yang baru menjangkau sekitar 7% dari perkiraan jumlah ibu yang memerlukan layanan PPIA. Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA) atau Prevention of Mother-to Child Transmission (PMTCT) merupakan bagian dari upaya penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia serta Program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Layanan PPIA diintegrasikan dengan paket layanan KIA, KB, kesehatan reproduksi, dan kesehatan remaja di setiap jenjang pelayanan kesehatan dalam strategi Layanan Komprehensif Berkesinambungan (LKB) HIV dan AIDS (5). Program PPIA ini bertujuan untuk mencegah penularan HIV dari ibu ke bayi dan mengurangi dampak epidemi HIV terhadap ibu dan bayi.
PPIA dilaksanakan melalui kegiatan komprehensif yang meliputi 4 pilar yaitu, pencegahan penularan HIV pada perempuan usia reproduksi (15-49 tahun); pencegahan kehamilan yang tidak direncanakan pada perempuan HIV positif; pencegahan penularan HIV dari ibu hamil ke bayi yang dikandungnya; dukungan psikologis, sosial, dan perawatan kesehatan selanjutnya kepada ibu yang terinfeksi HIV dan bayi serta keluarganya (5).
Pencegahan penularan HIV pada usia reproduksi (15-49 tahun). Pencegahan pada tahap ini merupakan pencegahan primer. Pencegahan primer bertujuan mencegah penularan HIV dari ibu ke anak secara dini, yaitu baik sebelum terjadinya perilaku hubungan seksual berisiko atau bila terjadi perilaku seksual berisiko maka penularan masih bisa dicegah, termasuk mencegah ibu dan ibu hamil agar tidak tertular oleh pasangannya yang terinfeksi HIV (5).
Kegiatan yang dapat dilakukan dalam pencegahan primer ini antara lain menyebarluaskan Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) tentang HIV dan AIDS dan Kesehatan Reproduksi, baik secara individu maupun kelompok. Sebaiknya kegiatan ini juga ditujukan kepada para remaja untuk menghindari penularan sejak dini. Informasi tentang program PPIA juga penting disampaikan kepada masyarakat luas sehingga dukungan masyarakat kepada ibu yang positif HIV dan keluarganya semakin kuat (5).
Pencegahan primer juga dapat dilakukan dengan cara memobilisasi masyarakat dengan melibatkan petugas lapangan seperti PKK, PLKB, atau posyandu sebagai pemberi informasi tentang pencegahan serta cara pengurangan resiko penularan HIV maupun Infeksi Menular Seksual (IMS) kepada masyarakat dan untuk membantu klien mendapatkan akses layanan kesehatan yang memadai. Selain itu juga pencegahan primer dapat dilakukan dengan layanan tes HIV. Konseling dan tes HIV dilakukan melalui pendekatan Konseling dan Tes atas Inisiasi Petugas Kesehatan (TIPK) dan Konseling dan Tes Sukarela (KTS), yang merupakan komponen penting dalam upaya Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak. Cara untuk mengetahui status HIV seseorang adalah melalui tes darah. Prosedur pelaksanaan tes darah dilakukan dengan memperhatikan 3C yaitu Counselling, Confidentiality, dan informed consent (5).
Pilar yang kedua dari PPIA adalah pencegahan kehamilan yang tidak direncanakan pada perempuan dengan HIV. Ada beberapa kegiatan untuk mencegah kehamilan yang tidak direncanakan pada ibu dengan HIV yaitu mengadakan KIE tentang HIV dan AIDS dan perilaku seks aman, menjalankan konseling dan tes HIV untuk pasangan, memberikan konseling pada perempuan dengan HIV untuk ikut KB dengan menggunakan metode kontrasepsi dan cara yang tepat(5).
Untuk pilar yang ketiga adalah pencegahan penularan ibu hamil dengan positif HIV ke bayi yang dikandungnya. Ini merupakan inti dari program PPIA yang secara komprehensif mencakup kegiatan berikut Layanan ANC terpadu termasuk penawaran dan tes HIV; Diagnosis HIV; Pemberian terapi antiretroviral; Persalinan yang aman; Tata laksana pemberian makanan bagi bayi dan anak; Menunda dan mengatur kehamilan;  Pemberian profilaksis ARV dan kotrimoksazol pada anak; Pemeriksaan diagnostik HIV pada anak (5).
Pelayanan tes HIV merupakan upaya membuka akses bagi ibu hamil untuk mengetahui status HIV, sehingga dapat melakukan upaya untuk mencegah penularan sedini mungkin. Pada pemeriksaan diagnostik infeksi HIV dapat dilakukan secara virologis (mendeteksi antigen DNA atau RNA) dan serologis (mendeteksi antibodi HIV) pada spesimen darah. Kemudian, untuk pemberian terapi antiretroviral bertujuan untuk menekan jumlah virus yang ada di dalam tubuh (5).
Pilihan persalinan yang aman juga berkontribusi dalam pola pencegahan HIV dari ibu ke anak. Pilihan persalinan meliputi persalinan per vaginam dan per abdominam (bedah sesar atau seksio sesarea). Dengan terapi ARV minimal dimulai pada minggu ke-14 kehamilan, persalinan per vaginam merupakan persalinan yang aman. Persalinan bedah sesar hanya boleh didasarkan atas indikasi obstetrik atau jika pemberian ARV baru dimulai pada saat usia kehamilan 36 minggu atau lebih (5).
Dalam hal pemberian nutrisi kepada anak yang baru lahir, sebaiknya diberi ASI eksklusif selama 6 bulan. Pada ibu dengan HIV yang sudah dalam terapi ARV memiliki kadar HIV sangat rendah, sehingga aman untuk menyusui bayinya. Bila ibu tidak dapat memberikan ASI eksklusif, maka ASI harus dihentikan dan digantikan dengan susu formula untuk menghindari mixed feeding (5).
Mengatur kehamilan dan keluarga berencana juga penting untuk mencegah penularan HIV dari ibu ke anak. Ibu yang ingin menunda atau mengatur kehamilan, dapat menggunakan kontrasepsi jangka panjang. Sedangkan, ibu yang memutuskan tidak punya anak lagi, dapat memilih kontrasepsi mantap (5).
Pemberian profilaksis ARV dimulai hari pertama setelah lahir selama 6 minggu. Setelah itu anak dapat diberikan kotrimoksazol profilaksis mulai usia 6 minggu sampai usia 1 tahun atau sampai diagnosis HIV pada anak tersebut ditegakkan.
Untuk pemeriksaan diagnostik HIV pada bayi baru lahir dari ibu HIV dapat dilakukan dengan pemeriksaan virologist. Pemeriksaan virologis, seperti HIV DNA (PCR), saat ini sudah ada di Indonesia dan dapat digunakan untuk menegakkan diagnosis HIV pada anak usia di bawah 18 bulan (5).
Pilar keempat dari PPIA adalah pemberian dukungan psikologis, sosial, dan perawatan kepada ibu dengan HIV beserta anak dan keluarganya. Ada banyak kegiatan dari tahap keempat ini antara lain pengobatan ARV jangka panjang, pengobatan gejala penyakitnya, informasi dan edukasi pemberian makanan bayi, pencegahan dan pengobatan infeksi oportunistik untuk diri sendiri dan bayinya. Dengan keempat pilar ini, diharapkan ibu dapat bersikap bijak dan positif untuk senantiasa menjaga kesehatan diri serta anaknya, serta berperilaku sehat agar tidak terjadi penularan HIV dari dirinya ke orang lain (5).
Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa Pencegahan Penularan HIV Ibu ke Anak  (PPAI) ini dapat mencegah dan/atau mengurangi resiko penularan HIV dari ibu ke anak dengan 4 pilar yaitu pencegahan penularan HIV pada perempuan usia reproduksi (15-49 tahun); pencegahan kehamilan yang tidak direncanakan pada perempuan HIV positif; pencegahan penularan HIV dari ibu hamil ke bayi yang dikandungnya; dukungan psikologis, sosial, dan perawatan kesehatan selanjutnya kepada ibu yang terinfeksi HIV dan bayi serta keluarganya. Perlu adanya sosialisasi secara langsung mengenai program PPIA ini agar dapat mencegah penularan sedini mungkin. Dengan demikian, resiko bayi terkena HIV itu menjadi semakin turun.


















DAFTAR PUSTAKA

1.      Gibbs R, Hanney A, Karlan BY, Nygard I, Human Immunodeficiency Virus, Danforth’s Obstetric and Gynecology 10th ed, Lippincots William and Wilkins, 2008, P:366-382.
2.      Hammilli Hunter, MD, Monif R G Gilles, M, Baker A David, MD, Human Immunodeficiency Virus, Infectious Disease in Obstetrics and Gynecology 5th Ed, 2004, P:166-198.
3.      Yogev R, Chadwick EG, Acquired immunodeficiency syndrome (human immunodeficiency virus), Dalam: Kliegman RM, Behrman RE, Jenson HB, Stanton BF, penyunting, Nelson textbook of pediatrics, Edisi ke-18, New York: Elsevier’s; 2007. 1022- 32.
4.      Darmadi, Ruslie RH, Diagnosis dan Tatalaksana Infeksi HIV Pada Neonatus. Majalah Kedokteran Andalas No.1. Vol.36. Januari-Juni 2012.
5.      KEMENKES RI, Pedoman Nasional Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA), Jakarta, 2013.
6.      Suradi, Rulina,Tatalaksana bayi dari ibu pengidap HIV/AIDS, Sari Pediatri, Vol. 4, No. 4, Maret 2003: 180 – 185.
7.      Van de Perre P: Transmission of HIV through breastfeeding: an overview . dalam HIV and Infant Feeding : Implementation of Guidelines, A report of the UNICEF-UNAIDS-WHO Technical consultation on HIV and Infant feeding Geneva, 20-22 April 1998.
8.      Lambert J, Moye J, Plaeger S, Stiehm R, Bethel J, Mofenson L, Landay A. Association of Selected Phenotypic Markers of Lymphocyte Activation and Differentiation with Perinatal Human Immunodeficiency Virus Transmission and Infant Infection. American Society of Microbiology. Vol 12.No 5. 2005. P.622-631.

9.      de Cock K, Fowler MG, Mercier E, de Vincenzi I, Saba J, Hoff. et al.Prevention of mother-to-child HIV transmission in resource-poor countries—translating research into policy and practice. JAMA, 2000, 283:1175-1182.

DONAT PROCATE

DIET DONAT PROCATE SEBAGAI ALTERNATIF  PENURUN LEMAK UNTUK OBESITAS
Oleh:
Fitri Rachmawati Putri (13711030)
Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia

Obesitas telah mencapai proporsi epidemik global, dengan lebih dari 1 milyar orang dewasa mengalami kelebihan berat badan (overweight) – dimana 300 juta diantaranya mengalami obesitas. Hal ini merupakan penyumbang yang besar terhadap beban global penyakit kronik dan disabilitas. Epidemi obesitas tidaklah terbatas pada negara-negara maju saja, peningkatan angka penderita obesitas terkadang lebih cepat di negara berkembang daripada negara maju(1).
Kelebihan lemak tubuh atau obesitas saat ini merupakan sebuah epidemi yang muncul di seluruh dunia, termasuk di negara-negara yang sedang berkembang termasuk di Indonesia (2). Interaksi dari berbagai faktor seperti faktor genetik, lingkungan, dan psikososial berpengaruh terhadap timbulnya obesitas (3). Namun secara sederhana, obesitas terjadi karena ketidakseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran energi antara lain yang diakibatkan oleh pola hidup tidak sehat seperti diet tinggi karbohidrat, lemak jenuh, kurang serat, serta aktivitas fisik yang sedikit (4).
Peningkatan prevalensi obesitas menarik perhatian baik peneliti maupun masyarakat luas oleh karena kelebihan lemak tubuh dihubungkan dengan berbagai penyakit kronik dan degeneratif (5), yakni penyakit-penyakit ko-morbid obesitas seperti diabetes mellitus tipe 2, hipertensi, hiperkolesterolemia, penyakit jantung koroner, penyakit batu empedu, dan osteoartritis (6).
Indonesia sebagai Negara dengan populasi keempat terbesar di dunia setelah Cina, India dan Amerika Serikat diwarnai dengan kontras. Sekitar 50% atau lebih dari 100 juta penduduknya tergolong pada kelompok defisiensi nutrisi, dan 15% populasi dewasa termasuk kelebihan berat badan sehingga angka penyakit ko-morbid yang dihubungkan dengan kelebihan berat badan turut meningkat (2).
The National Institute of Health (NIH) mendefinisikan IMT yang normal yakni 18,5-24,9. Kelebihan berat badan didefinisikan sebagai IMT 25-29,9. Obesitas Kelas I adalah 30-34,9 Obesitas Kelas II adalah 35-39,9 dan Kelas III >40 (Thierney et al., 2005). World Health Organization (WHO) telah menentukan nilai Indeks Massa Tubuh (IMT) untuk daerah Asia Pasifik. Untuk orang Asia, dianggap overweight bila IMT > 23 dan dianggap obesitas bila IMT > 25. Revisi ini didasarkan pada kenyataan bahwa morbiditas dan mortalitas orang Asia cenderung terjadi pada IMT yang lebih rendah (7).
Terdapat beberapa istilah yang perlu diketahui yaitu obesitas, overweight, dan obesitas sentral. Obesitas adalah peningkatan lemak tubuh (body fat). Cara pengukurannya akan diterangkan kemudian. Overweight adalah peningkatan berat badan relatif apabila dibandingkan terhadap standar. Overweight kemudian menjadi istilah yang mewakili ”obesitas” baik secara klinis ataupun epidemiologis. Sedangkan obesitas sentral adalah peningkatan lemak tubuh yang lokasinya lebih banyak di daerah abdominal daripada di daerah pinggul, paha atau lengan. Penentuan adanya obesitas sentral ini penting karena berhubungan dengan adanya resistensi insulin yang merupakan dasar terjadinya sindroma metabolik (7).
Obesitas adalah suatu keadaan yang melebihi dari berat badan relatif (ideal) seseorang, sebagai akibat penumpukan zat gizi terutama karbohidrat, protein dan lemak. Kondisi tersebut disebabkan oleh ketidakseimbangan antara konsumsi energi dan kebutuhan energi, yaitu konsumsi makanan (yang terlalu banyak) dibandingkan dengan kebutuhan atau pemakaian energi (yang lebih sedikit)(8).
Untuk menganalisis adanya resiko morbiditas dari obesitas biasanya menggunakan pengukuran Berat Badan (BB) dan Tinggi Badan (TB). Pengukuran BB dan TB yang akurat merupakan langkah awal dalam pemeriksaan klinis, karena kedua pengukuran tersebut dibutuhkan untuk menghitung (IMT). Metode yang paling berguna dan banyak digunakan untuk mengukur tingkat obesitas, yang didapat dengan cara membagi berat badan (kg) dengan kuadrat dari tinggi badan (meter).
Untuk menghitung IMT seseorang dengan menggunakan rumus:
IMT = BB/ (TB)2
1.JPG
Namun, IMT tidak dapat digunakan untuk anak-anak yang sedang masa pertumbuhan, wanita hamil, dan orang yang sangat berotot seperti atlet dan binaragawan.
Seiring dengan berkembangnya teknologi dan ilmu pengetahuan tentang kedokteran yang semakin pesat, maka berbagai terapi maupun pengobatan untuk menurunkan lemak pada orang yang obesitas diantaranya seperti mengatur pola makan, obat-obatan, olahraga, serta operasi jejuno-ileal by-pass. Namun, paradigma pengobatan saat ini lebih kepada mengatur pola makan. Orang yang diet mengatur pola makannya agar tidak terlalu lebih karbohidrat, protein, dan lemak yang dikonsumsinya.
Teh hijau adalah minuman yang cukup popular di seluruh dunia. Di India, Cina, Jepang dan Thailand minuman teh telah dikonsumsi sejak lama. Pada kedokteran tradisional India dan Cina, praktisi kesehatan menggunakan teh hijau sebagai stimulan, diuretik (meningkatkan ekskresi urin), astringent (mengontrol perdarahan dan membantu penyembuhan luka), dan meningkatkan kesehatan jantung. Pengobatan tradisional lainnya menggunakan teh hijau untuk mengobati flatulens, mengatur suhu tubuh dan menurunkan kadar gula darah, membantu pencernaan dan meningkatkan proses berpikir .(9)(10)(11)
Kegunaan teh hijau bagi kesehatan seperti perlindungan terhadap kanker, penyakit kardiovaskular, hati, telah dilaporkan. Efek baik dari teh hijau ini berhubungan dengan kandungannya, yakni (–)-epigallocatechin-3-gallate (EGCG) adalah komponen polyphenolic utama yang ditemukan pada teh hijau. Beberapa komponen polyphenolic yang dikenal dengan nama catechin juga ditemukan dalam jumlah yang lebih sedikit pada teh hijau, yakni (–)-epicatechin-3-gallate (ECG), (–)-epigallocatechin (EGC), (–)- epicatechin (EC) and (-)-catechin. (9)
Catechin pada teh hijau dilaporkan dapat menghambat enzim Catechol-O methyltransferase (COMT), yakni enzim yang mendegradasi norepinefrin. Dengan terhambatnya enzim COMT oleh catechin, terjadi reduksi degradasi norepinefrin yang akan menghasilkan penambahan waktu kerja norepinefrin pada sistem saraf simpatis. Aktivasi sistem saraf simpatis ini akan menstimulasi pengeluaran energi di antaranya dengan meningkatkan termogenesis dan oksidasi lemak. (12)(13)
Catechin dari teh dapat meningkatkan oksidasi lemak, terutama dalam periode postprandial, Peningkatan oksidasi lemak dapat disebabkan oleh bertambahnya oksidasi lemak hepar yang diaktivasi secara simpatik. Sistem saraf simpatis diduga berperan dalam mobilisasi lipid dari depot adiposa. Sehingga, ada kemungkinan bahwa catechin, dengan meningkatkan pengaruh simpatik, dapat memiliki pengaruh pada penyimpanan lemak di berbagai depot lemak. Hasil dari beberapa penelitian pada hewan menunjukkan bahwa akumulasi lemak hepar dan mesenterik berkurang dengan pemberian catechin.(14)
Penelitian Dullo et al menunjukkan ekstrak teh hijau meningkatkan pengeluaran energi dan oksidasi lemak dalam jangka pendek (12). Signal intraseluler, menghasilkan lipolisis yang meningkat, produksi panas di otot skeletal, yang tergantung pada produksi cyclic Adenosine Monophosphate (cAMP). Respon cAMP singkat saja, karena cAMP secara cepat didegradasi oleh fosfodiesterase. Signal intraseluler dapat dipertahankan lebih lama dengan menghambat fosfodiesterase dengan metilxantin, contohnya kafein.(13)
Teh hijau atau EGCG menghambat absorbsi intestinal lipid dari diet dengan jalan mengganggu emulsifikasi dan solubilisasi miselar dari lipid, yang merupakan langkah penting dalam absorbsi intestinal akan lemak dari diet, kolesterol dan lipid lainnya(15). Selain bekerja dengan jalan menghambat enzim COMT, EGCG dihubungkan dengan kemampuannya memodulasi berbagai jalur signal, terutama yang mengatur proliferasi dan hidup sel. Namun, target utama dari fungsi ini masih belum dapat ditentukan. EGCG dinyatakan dalam beberapa jurnal dapat menghambat proliferasi adiposit dan mengurangi viabilitas adiposit lewat aktivasi Adenosine monophosphateactivated protein kinase (AMPK).(16)
Minuman teh yang umum, yang disiapkan dari 1 gram daun-daun teh yang diseduh dengan 100 mL air mendidih selama 3 menit mengandung 250-350 mg berat kering yang terdiri dari 30-42% catechin dan 3-6% kafein (10). Secangkir teh hijau mengandung 80-106 mg polifenol. Konsumsi 1-3 cangkir teh per hari adalah takaran yang umum di Amerika Serikat, namun di Jepang, konsumsi sebanyak 9 cangkir teh termasuk wajar, hal ini menurut penelitian epidemiologis (17).
Propolis adalah bahan yang dipakai lebah untuk melindungi dan mengisi sarang mereka (18). Lebah yang mengambil bahan tersebut dari tumbuhan kemudian meletakkan propolis di kaki belakang mereka dan kemudian dibawa untuk dicampur bersama dengan lilin lebah (19). Saat pengumpulan propolis dan proses pengolahannya, lebah mengeluarkan enzim dari saliva mereka sebagai campuran, misalnya β-glucosidase yang ternyata juga meningkatkan sifat farmakologi produk akhirnya (18)(20).
Secara umum komposisi kimia penyusun propolis, adalah getah dan balsem (55%), minyak aromatik esensial (10%), lilin (30%), tepung sari (5%), dan beberapa bahan mineral, serta organik (21)(22)(23). Getah dalam propolis mengandung flavonoid, asam fenolat, dan ester (21). Lilin pada propolis mengandung asam lemak, sedangkan volatil terkandung pada minyak esensial (21). Tepung sari pada propolis mengandung berbagai asam amino, seperti arginin dan prolin (21). Sedangkan bahan mineral dan organik yang terdapat pada propolis, antara lain Fe, Zn, Au, Ag, Hg, keton, lakton, quinin, steroid, asam benzoat, vitamin B3, dan gula (19)(21).
Indonesia adalah salah satu negara penghasil propolis. Pemanfaatan propolis semakin meningkat seiiring dengan perkembangan zaman. Hal ini dikarenakan khasiat dari propolis yang dapat menyembuhkan berbagai penyakit (23). Selain itu juga dengan kandungan propolis yang dapat memberikan rasa manis, maka dapat dijadikan bahan alternative untuk terapi menurunkan berat badan.
Penggabungan antara kedua bahan tersebut yaitu propolis dengan catechin, maka dapat dijadikan suatu alternative dengan dibuat donat. Rata-rata orang yang obesitas memiliki kecenderungan untuk memakan makanan yang manis-manis seperti gula. Gula bukan suatu bahan alternative yang digunakan untuk proses penurunan berat badan pada orang yang obesitas.
Donat dapat membuat suatu ketertarikan terhadap orang yang obesitas. Namun donat yang selama ini dijual mengandung gula yang tidak baik untuk tubuh karena dapat menimbulkan kegemukan. Donat procate merupakan donat hasil penggabungan dari propolis dengan ekstrak catechin teh hijau. Propolis memberikan efek manis sehingga digunakan untuk pengganti gula. Sedangakan ekstrak catechin dari teh hijau digunakan sebagai bahan yang memiliki efek penurun berat badan. Kedua efek tersebut secara simultan dapat memberikan efek yang lebih efisien.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa donat procate memiliki prospek yang tinggi dalam hal menanggulangi masalah obesitas. Donat procate sendiri didapatkan dari kombinasi antara propolis dengan ekstrak catechin pada teh  hijau. Ekstrak catechin pada teh hijau dengan kandungan (–)-epigallocatechin-3-gallate (EGCG), (–)-epicatechin-3-gallate (ECG), (–)-epigallocatechin (EGC), (–)- epicatechin (EC) and (-)-catechin. Catechin pada teh hijau dilaporkan dapat menghambat enzim Catechol-O methyltransferase (COMT), yakni enzim yang mendegradasi norepinefrin. Catechin pada teh hijau dapat menghambat enzim Catechol-O methyltransferase (COMT), yakni enzim yang mendegradasi norepinefrin. Efek manis yang ditimbulkan oleh propolis juga merupakan pengganti gula. Dengan demikian, donat procate dapat benar-benar diaplikasikan kepada masyarakat dengan aman, efek terapi yang optimal dan nyata, serta harga yang lebih terjangkau dengan harapan dapat meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, khususnya penderita obesitas.




























DAFTAR PUSTAKA

1.      World Health Oganization, 2003. Obesity and Overweight. Available at: http://www.who.int/dietphysicalactivity/media/en/gsfs_obesity.pdf. Accesed May 8th 2014.
2.      Atmarita, 2005. Nutrition Problems in Indonesia. The article for An Integrated International Seminar and Workshop on Lifestyle – Related Diseases. Gajah Mada University, 19 – 20 March, 2005. Available from: http://www.gizi.net/download/nutrition%20problem%20in%20Indonesia.pdf. Accesed May 8th 2014.
3.      Molina, P., E., 2006. Lange physiology series, endocrine physiology. International edition. 2nd edition. McGraw Hill. Halaman 247-262.
4.      Wilborn, C., Beckham, J., Campbell, B., Harvey, T., Galbrath, M., La Bounty, P., Nassar, E., Wismann, J.,Kreider, R. 2005. Obesity: Prevalence, Theories, Medical Consequences, Management, and Research Directions. Journal of the International Society of Sports Nutrition. 2(2): 4–31. Available from:
5.      Popkin, B., M., 2005. Global nutrition dynamics: the world is shifting rapidly toward a diet linked with noncommunicable diseases. American Journal of Clinical Nutrition, Vol. 84, No. 2, 289-298. Available from : http://www.ajcn.org/content/84/2/289.full?sid=c587e903-7369-4a7e-a348-a1c7ed678643. Accesed May 8th 2014.
6.      Turk, M.W., Yang, K., Hravnak, M., Sereika, S.M., Ewing, L.J., Burke, L.E. 2009. Randomized Clinical Trials of Weight-Loss Maintenance: A Review. J Cardiovasc Nurs. 24 (1) : 58–80. Available from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2676575/pdf/nihms100183.pdf. Accesed May 8th 2014.
7.    Pangkahila, W., 2007. Anti Aging Medicine: Memperlambat Penuaan Meningkatkan Kualitas Hidup. Penerbit buku Kompas. Halaman 94-99.
8.    Nagle, D.G., Ferreira, D., Zhou, Y.D. 2006. Epigallocatechin-3-gallate (EGCG): Chemical and biomedical perspectives. Phytochemistry. 67 (17) : 1849–1855. Available from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2903211/pdf/nihms-216834.pdf.. Accesed May 8th 2014.
9.    Budiyanto. (2002). Obesitas dan Perkembangan Anak. Jakarta: Grafindo Persada.
10.  Velayutham, P., Babu, A., Liu, D. 2008. Green Tea Catechins and Cardiovascular Health: An Update. Curr Med Chem. 15 (18) : 1840–1850 . Available from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2748751/pdf/nihms145237.pdf. Accesed 10 Mei 2014.

11. Chacko, S., Thambi, P., Kuttan, R., Nishigaki, I. 2010. Beneficial effects of green tea: A literature review. Chinese Medicine. 5: 13. Available from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2855614/pdf/1749-8546-5-13.pdf. Accesed May 10th 2014.
12.  Diepvens, K., Westerterp, K.R., Westerterp-Platenga, M.S. 2007. Obesity and thermogenesis related to the consumption of caffeine, ephedrine, capsaicin, and green tea. AJP - Regu Physiol January 2007 vol. 292 no. 1 R77-R85. Available from : http://ajpregu.physiology.org/content/292/1/R77.full. Accesed May 10th 2014.
13.  Belza, A., Toubro, S., Astrup, A. 2009. The effect of caffeine, green tea and tyrosine on thermogenesis and energy intake. European Journal of Clinical Nutrition 63, 57-64. Macmillan Publishers Limited. Available from: http://proquest.umi.com/pqdweb?index=2&did=1622618041&SrchMode=1&sid=3&Fmt=6&VInst=PROD&VType=PQD&RQT=309&VName=PQD&TS=1296616266&clientId=74186. Accesed May 10th 2014.
14.  Maki, K.C., Reeves, M.S., Farmer, M., Yasunaga, K., Matsuo, N., Katsuragi, Y., Komikado, M., Tokimitsu, I., Wilder, D., Jones, F., Blumberg, J.B., Cartwright, Y. 2009. Green Tea Catechin Consumption Enhances Exercise-Induced Abdominal Fat Loss in Overweight and Obese Adults. Journal of Nutrition. Vol. 139, No. 2, 264-270. Available from : http://jn.nutrition.org/cgi/reprint/139/2/264. Accesed May 10th 2014.
15. Lee, M.K., Kim, C.T., Kim, Y.H. 2009. Green Tea (–) Epigallocatechin-3-Gallate Reduces Body Weight with Regulation of Multiple Genes Expression in Adipose Tissue of Diet-Induced Obese Mice. Ann Nutr Metab. 54:151–157. Available from:
16.  Moon, H.S., Chung, C.S., Lee, H.G., Kim, T.G., Choi, Y.J., Cho, C.S. 2007. Inhibitory Effect of (- )-Epigallocatechin-3-Gallate on Lipid Accumulation of 3T3-L1 Cells. Obesity (2007) 15 : 2571-2582. Available from : http://www.nature.com/oby/journal/v15/n11/full/oby2007309a.html. Accesed May 10th 2014.
17. Sarma, D.N., Barrett, M.L., Chavez, M.L., Gardiner, P. 2008. Safety of Green Tea Extracts: A Systematic Review by the US Pharmacopeia. Drug Safety . Auckland. Vol. 31, Iss. 6; pg. 469. Available from: http://proquest.umi.com/pqdweb?index=0&sid=3&srchmode=1&vinst=PROD&fmt=4&startpage=1&vname=PQD&did=1525118521&scaling=FUL&pmid=86204&vtype=PQD&fileinfoindex=%2Fshare3%2Fpqimage%Fpqirs101v %2F201011010414%2F57660%2F5043%2Fout.pdf&source= %24source&rqt=309&TS=1288599299&clientId=74186. Accesed May 10th 2014.
18.  Jabde, P. V., 2005. Text Book Of Applied Zoology. Delhi : Discovery Publishing House.
19.  Farooqui, T., Farooqui, A. A., 2012. Oxidative Stress In Vertebrates And Invertebrates Molecular Aspects Of Cell Signaling. New Jersey : John Wiley & Sons
20.  Bonvehi, J. S., et al, 1994. The Composition, Active Components, And Bacteriostatic Activity Of Propolis In Dietetics. Journal of The American Oil Chemists' Society, 71:5, pp. 529-532
21.  Krell, R., 1996. Value-Added Products From Beekeeping. FAO Agricultural Services Bulletin, 124
22.  Yoirish, N., 2001. Curative Properties Of Honey And Bee Venom. Hawaii : University Press Of The Pacific

23.  Hardi, H., P., Fitriana, A., M., 2012, Potensi Propolis Sebagai Terapi Alternatif Terhadap Penatalaksanaan Sindrom Stevens Johnson , Karya Tulis Ilmiah Gagasan Tertulis, Jurusan Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia.