|
Perbedaan
|
Tonsilitis
|
Abses Peritonsilar
|
Faringitis
|
Laringitis
|
|
|
definisi
|
Peradangan pada tonsil
|
Kumpulan pus yang terlokalisir pada jaringan peritonsilar
|
Inflamasi pada faring
|
Peradangan pada faring bisa akut (<3mgu) dan kronis(>3mgu)
|
|
|
etiologi
|
Masuk lewat aerogen maupun foodborn
SBGHA, satfilokokus aureus, klebiela, streptokokus pyogen,
streptokokus grup B, EBV, herpes
|
Infeksi pada kripta difusa supratonsilar.
SBGHA, srafilokokus aureus, H.influenza, EBV, herpes, parainfluenza
Paling sering tjd pada usia 20-40 tahun
|
Rhinovirus, adenovirus, parainfluenza, SBGHA, N.gonnorhea, candida
|
Akut (rhinovirus, parainfluenza, adenovirus)
Kronis (infeksi bakteri, TB, sifilis, lepra)
|
|
|
Patogenesis
|
Infiltrasi di epitel jaringan tonsil-> reaksi radang->
keluarnya leukosit PMN-> detritus (kumpulan leukosit, bakteri mati, epitel
yang terlepas)
Radang berulang-> epitel jaringan limfoid terkikis-> diganti
jaringan parut yang akan mengalami pengerutan sehingga tampak kripta melebar
yang diisi oleh detritus
Faktor yang mempengaruhi tonsilitis jadi kronis: antibiotik yang
tidak adekuat, daya tahan tubuh rendah, jenis kuman tidak sama
|
Daerah superior dan lateral fosa tonsilar adalah jaringan ikat
longgar. Terjadi infiltrasi supurasi ke ruang potensial peritonsil.
Stadium awal, tjd pembengkakan dan hiperemis, lalu dibawah daerah
tersebut jadi lunak dan kekuning-kuningan. Tonsil terdorong ke tengah depan,
uvula bengkak
Proses berlanjut-> iritasi m.pterigoid interna shg timbul trismus
Abses dapat pecah dan masuk ke paru
|
Penularan lewat droplet
Kuman menginfiltra ke lapisan epitel-> epitel terkikis->
jaringan limfoid superfisial bereaksi-> radang-> infiltrasi leukosit
Pada stadium awal ada hiperemis-> edem dan sekresi meningkat->
eksudat awalnya serosa tapi lama-lama jadi menebal, kering dan melekat di
dinding faring. Klasifikasi:
Akut ( di orofaring,
influenza)
Kronik (hiperplasi(tenggorokan kering dan
gatal) dan atrofi/sika (rhinitis
atrofi, tenggorokan kering dan gatal, mulut bau))
Spesifik (luetuka dan tuberkulosis)
|
Akut: inflamasi mukosa dan
pita suara. Pita suara edem-> gangguan vibrasi-> suara parau
Kronis: inflamasi yang
berlangsung lama meskipun penyebabnya sudah hilang-> kerusakan epitel
silia-> gangguan dalam pengeluaran sekret-> sekret menetap di dinding
posterior faring-> timbul reaksi batuk
|
|
|
Akut
|
Kronis
|
||||
|
Onset cepat
Kripta tidak melebar
Detritus (+)
|
Onset lambat
Kripta melebar
Detritus (+)
|
||||
|
Manifestasi klinis
|
Nyeri telan (+)
Bau mulut (+) (karna ada
pus)
Detritus (+) ada
folikularis dan lakunaris
Suara sengau pada malam hari (+)
Tonsil hiperemis (+)
Demam (+) sampe 40 derajat
Tidak nafsu makan
|
Nyeri telan (+)
Disfagia, odinofagia
Hot potato voice
Mengunyah terasa sakit
Trismus
Foeter ex orae (mulut berbau)
Nyeri leher dan terbatasnya gerakan leher (torticolis)
Demam subfebris
Udem palatum mole
Asimetrik tonsilar hipertrofi eritem dan eksudat
|
Virus: awitan lambat, demam, malaise, nafsu makan turun, nyeri telan,
suara serak, batuk, suara parau, ada ulkus kecil di pallatum mole
Bakteri: sakit kepala, nyeri abdomen, muntah2, demam 40derajat,
pembesaran kelenjar tonsil, eritem faring
|
Nyeri telan (+)
Batuk
Ngorok saat tidur
Sesak nafas
Suara serak
Sianosis
Demam
Malaise
odinofagia
|
|
|
Manifes lain
|
Sakit kepala, muntah
Nyeri tenggorokan (et virus)
Nyeri sendi
|
Nyeri telinga, nyeri kepala
|
|
|
|
|
pemeriksaan
|
Fisik: lihat pembesaran
tonsil, lihat detritus, bila dilakukan penekanan pada plika anterior dapat
keluar pus, kripta melebar, pembesaran KGB
Penunjang: kultur,
histopatologi
|
Fisik: limfadenopati, pergeseran
uvulan, uvula bengkak dan terdorong ke kontralateral, palatum molle teraba
fluktuasi
Penunjang: hitung darah
lengkap, pengukuran kadar elektrolit, kultur darah, Px radiologi, CT Scan
(hipodens)
|
Fisik: viral (lesi
vesikular), bakterial (ada bercak putih), fungal (plak putih di orofaring dan
pangkal lidah), hiperplastik (hiperplasi kelenjar linfe), atrofi (ada lendir
kental)
Penunjang: kultur, rapid
antigen test
|
Laringoskop: plika vokalis merah & udem, batuk ireguler
Darah rutin: leukositosis
Kultur
CT Scan
MRI
Rontgen
|
|
|
terapi
|
Penisilin 1,5 juta IU 2dd selama 5 hari
Eritromisin 500mg 3dd selama 5 hari
Amoksisilin 500mg 3dd selama 5 hari
Parasetamol dan ibuprofen
Tonsilektomi:
Indikasi absolut: ada
pembengkakan sampai menyumbat jalan nafas, disfagia, gangguan tidur, komplikasi
kardiopulmonar, abses peritonsilar, tonsilitis yang menimbulkan kejang demam,
tonsilitis yang butuh biopsi
Indikasi relatif: terjadi
berulang >3x dalam setahun, halitosis akbiat tonsilitis kronik, resisten
antibiotik
Kontraindikasi: gangguan
perdarahan, anemia, resiko anastesi yang besar
|
Penisilin 600.000-1.200.000 IU IV
Ampisilin/amoksisilin 250 mg 4dd
Sefalosporin
Metronidazol
Irigasi dengan NaCL 0,9% atau glukosa 5% tiap 2-3 jam
Kompres dingin
Tonsilektomi a chaud->
tonsilektomi setelah drainase abses
A Thiede: tonsilektomi setelah 3-4 hari drainase
A froid: tonsilektomi 4-6 mgu setelah drainase
|
Penisini G benzatin 50.000 IU IM SD
Amoksisilin 500 mg 3dd selama 6-10 hari
Deksametason 3x0,5 mg sealam 3hari
Nystatin 100.000-400.000 2dd (untuk candida)
|
Antibiotik (ampisilin IV 100mg/kg/hari, kloramfenikol 50mg/kg/hari)
|
|
|
edukasi
|
Tirah baring, banyak minum air putih, makan makanan yang lunak
|
|
Istirahat cukup, minum air putih yang cukup, kumur dengan air hangat,
pakai obat kumur antiseptik, jaga kebersihan mulut
|
Tidak boleh banyak bersuara
Jaga kelembaban
Menekan batuk
|
|
|
Prognosis dan komplikasi
|
Prognosis baik, tp bisa tjd komplikasi:
Abses peritonsilar
Abses parafaring
Abses intratonsilar
Tonsilolith
Kista tonsilar
|
Edem laring atau glotis
Aspirasi pneumonia
Menjalar ke intrakranial-> trombus sinus kevernosus, meningitis,
abses otak
|
Sembu 10 hari. Komplikasi:
Sinusitis, OM, epiglositis, mastoiditis, pneumonia, APT, toxic shock
syndrome
|
Self limited
|
|
Monday, 28 November 2016
PENYEBAB NYERI MENELAN
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment