Monday, 28 November 2016

PENYEBAB NYERI MENELAN

Perbedaan
Tonsilitis
Abses Peritonsilar
Faringitis
Laringitis
definisi
Peradangan pada tonsil
Kumpulan pus yang terlokalisir pada jaringan peritonsilar
Inflamasi pada faring
Peradangan pada faring bisa akut (<3mgu) dan kronis(>3mgu)
etiologi
Masuk lewat aerogen maupun foodborn
SBGHA, satfilokokus aureus, klebiela, streptokokus pyogen, streptokokus grup B, EBV, herpes
Infeksi pada kripta difusa supratonsilar.
SBGHA, srafilokokus aureus, H.influenza, EBV, herpes, parainfluenza
Paling sering tjd pada usia 20-40 tahun
Rhinovirus, adenovirus, parainfluenza, SBGHA, N.gonnorhea, candida
Akut (rhinovirus, parainfluenza, adenovirus)
Kronis (infeksi bakteri, TB, sifilis, lepra)
Patogenesis
Infiltrasi di epitel jaringan tonsil-> reaksi radang-> keluarnya leukosit PMN-> detritus (kumpulan leukosit, bakteri mati, epitel yang terlepas)

Radang berulang-> epitel jaringan limfoid terkikis-> diganti jaringan parut yang akan mengalami pengerutan sehingga tampak kripta melebar yang diisi oleh detritus
Faktor yang mempengaruhi tonsilitis jadi kronis: antibiotik yang tidak adekuat, daya tahan tubuh rendah, jenis kuman tidak sama
Daerah superior dan lateral fosa tonsilar adalah jaringan ikat longgar. Terjadi infiltrasi supurasi ke ruang potensial peritonsil.

Stadium awal, tjd pembengkakan dan hiperemis, lalu dibawah daerah tersebut jadi lunak dan kekuning-kuningan. Tonsil terdorong ke tengah depan, uvula bengkak
Proses berlanjut-> iritasi m.pterigoid interna shg timbul trismus
Abses dapat pecah dan masuk ke paru
Penularan lewat droplet
Kuman menginfiltra ke lapisan epitel-> epitel terkikis-> jaringan limfoid superfisial bereaksi-> radang-> infiltrasi leukosit
Pada stadium awal ada hiperemis-> edem dan sekresi meningkat-> eksudat awalnya serosa tapi lama-lama jadi menebal, kering dan melekat di dinding faring. Klasifikasi:
Akut ( di orofaring, influenza)
Kronik (hiperplasi(tenggorokan kering dan gatal) dan atrofi/sika (rhinitis atrofi, tenggorokan kering dan gatal, mulut bau))
Spesifik (luetuka dan tuberkulosis)
Akut: inflamasi mukosa dan pita suara. Pita suara edem-> gangguan vibrasi-> suara parau
Kronis: inflamasi yang berlangsung lama meskipun penyebabnya sudah hilang-> kerusakan epitel silia-> gangguan dalam pengeluaran sekret-> sekret menetap di dinding posterior faring-> timbul reaksi batuk
Akut
Kronis
Onset cepat
Kripta tidak melebar
Detritus (+)
Onset lambat
Kripta melebar
Detritus (+)
Manifestasi klinis
Nyeri telan (+)
Bau mulut (+) (karna ada pus)
Detritus (+) ada folikularis dan lakunaris
Suara sengau pada malam hari (+)
Tonsil hiperemis (+)
Demam (+) sampe 40 derajat
Tidak nafsu makan
Nyeri telan (+)
Disfagia, odinofagia
Hot potato voice
Mengunyah terasa sakit
Trismus
Foeter ex orae (mulut berbau)
Nyeri leher dan terbatasnya gerakan leher (torticolis)
Demam subfebris
Udem palatum mole
Asimetrik tonsilar hipertrofi eritem dan eksudat
Virus: awitan lambat, demam, malaise, nafsu makan turun, nyeri telan, suara serak, batuk, suara parau, ada ulkus kecil di pallatum mole
Bakteri: sakit kepala, nyeri abdomen, muntah2, demam 40derajat, pembesaran kelenjar tonsil, eritem faring
Nyeri telan (+)
Batuk
Ngorok saat tidur
Sesak nafas
Suara serak
Sianosis
Demam
Malaise
odinofagia
Manifes lain
Sakit kepala, muntah
Nyeri tenggorokan (et virus)
Nyeri sendi
Nyeri telinga, nyeri kepala


pemeriksaan
Fisik: lihat pembesaran tonsil, lihat detritus, bila dilakukan penekanan pada plika anterior dapat keluar pus, kripta melebar, pembesaran KGB
Penunjang: kultur, histopatologi
Fisik: limfadenopati, pergeseran uvulan, uvula bengkak dan terdorong ke kontralateral, palatum molle teraba fluktuasi
Penunjang: hitung darah lengkap, pengukuran kadar elektrolit, kultur darah, Px radiologi, CT Scan (hipodens)
Fisik: viral (lesi vesikular), bakterial (ada bercak putih), fungal (plak putih di orofaring dan pangkal lidah), hiperplastik (hiperplasi kelenjar linfe), atrofi (ada lendir kental)
Penunjang: kultur, rapid antigen test
Laringoskop: plika vokalis merah & udem, batuk ireguler
Darah rutin: leukositosis
Kultur
CT Scan
MRI
Rontgen
terapi
Penisilin 1,5 juta IU 2dd selama 5 hari
Eritromisin 500mg 3dd selama 5 hari
Amoksisilin 500mg 3dd selama 5 hari
Parasetamol dan ibuprofen
Tonsilektomi:
Indikasi absolut: ada pembengkakan sampai menyumbat jalan nafas, disfagia, gangguan tidur, komplikasi kardiopulmonar, abses peritonsilar, tonsilitis yang menimbulkan kejang demam, tonsilitis yang butuh biopsi
Indikasi relatif: terjadi berulang >3x dalam setahun, halitosis akbiat tonsilitis kronik, resisten antibiotik
Kontraindikasi: gangguan perdarahan, anemia, resiko anastesi yang besar
Penisilin 600.000-1.200.000 IU IV
Ampisilin/amoksisilin 250 mg 4dd
Sefalosporin
Metronidazol
Irigasi dengan NaCL 0,9% atau glukosa 5% tiap 2-3 jam
Kompres dingin
Tonsilektomi a chaud-> tonsilektomi setelah drainase abses
A Thiede: tonsilektomi setelah 3-4 hari drainase
A froid: tonsilektomi 4-6 mgu setelah drainase
Penisini G benzatin 50.000 IU IM SD
Amoksisilin 500 mg 3dd selama 6-10 hari
Deksametason 3x0,5 mg sealam 3hari
Nystatin 100.000-400.000 2dd (untuk candida)
Antibiotik (ampisilin IV 100mg/kg/hari, kloramfenikol 50mg/kg/hari)
edukasi
Tirah baring, banyak minum air putih, makan makanan yang lunak

Istirahat cukup, minum air putih yang cukup, kumur dengan air hangat, pakai obat kumur antiseptik, jaga kebersihan mulut
Tidak boleh banyak bersuara
Jaga kelembaban
Menekan batuk

Prognosis dan komplikasi
Prognosis baik, tp bisa tjd komplikasi:
Abses peritonsilar
Abses parafaring
Abses intratonsilar
Tonsilolith
Kista tonsilar
Edem laring atau glotis
Aspirasi pneumonia
Menjalar ke intrakranial-> trombus sinus kevernosus, meningitis, abses otak
Sembu 10 hari. Komplikasi:
Sinusitis, OM, epiglositis, mastoiditis, pneumonia, APT, toxic shock syndrome
Self limited


No comments:

Post a Comment