Monday, 28 November 2016

YUK CEGAH OBESITAS DIET ALA RASULULLAH

CEGAH OBESITAS DENGAN MENGKONSUMSI MADU SESUAI SUNNAH RASULULLAH SAW
Fitri Rachmawati Putri (13711030)
Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia

Obesitas merupakan suatu kelainan kompleks pengaturan makan dan metabolism energy yang dikendalikan oleh beberapa faktor biologik spesifik. Scecara fisiologis, obesitas didefinisikan sebagai suatu keadaan dengan akumulasi lemak yang tidak abnormal atau berlebih di jaringan adipose sehingga dapat mengganggu kesehatan. Obesitas memiliki banyak penyebab, salah satunya adalah dislipidemia. Pada subyek yang obes, konsentrasi asam lemak bebas, trigliserida, kolesterol LDL, dan apoB lebih tinggi dibandingkan orang yang non-obes (Sudoyo, 2012).
Saat ini diperkirakan jumlah orang di seluruh dunia dengan kriteria obesitas melebihi 250 juta orang, yaitu sekitar 7% dari populasi orang dewasa di dunia. Menurut data Riskesdas 2013, status gizi lebih di Indonesia yang teridentifikasi semenjak usia balita sebesar 11,9 persen. Menurut indikator IMT >25 (Obesitas) terlihat prevalensi obesitas pada laki-laki sebesar 19,7 persen dan perempuan 32,9 persen. Secara nasional, prevalensi obesitas sentral adalah 26.6 persen, lebih tinggi dari prevalensi pada tahun 2007 (18,8%). Prevalensi obesitas sentral terendah di Nusa Tenggara Timur (15,2 %) dan tertinggi di DKI Jakarta (39,7 %) (RISKESDAS, 2013).
Peningkatan prevalensi obesitas menarik perhatian baik peneliti maupun masyarakat luas oleh karena kelebihan lemak tubuh dihubungkan dengan berbagai penyakit kronik dan degeneratif (Popkin, 2005), yakni penyakit-penyakit ko-morbid obesitas seperti diabetes mellitus tipe 2, hipertensi, hiperkolesterolemia, penyakit jantung koroner, penyakit batu empedu, dan osteoarthritis (Turk, 2009).
Penurunan berat badan mempunyai efek yang sangat besar dan menguntungkan terhadap komorbiditas obesitas. Bahkan penurnan berat badan 5-10% dari berat awal dapat mengakibatkan perbaikan kesehatan secara signifikan. Penurunan berat nadan terbukti dapat meningkatkan kadar HDL dalam darah dan secara umum dapat mengakibatkan beberapa pengurangan pada kolesterol serum total dan kolesterol LDL. Terapi yang cukup efektif untuk menurunkan berat badan meliputi empat pilar yang mana salah satunya adalah terapi diet rendah kalori (Sudoyo, 2013). Menurut Sakri (2012) madu bersifat rendah kalori. Ia   mengungkapkan bahwa kandungan kalori dalam 1 gram madu adalah 3,04 kkal. Pola diet yang cukup efektif yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW adalah dengan mengkonsumsi sesendok madu yang dicampur dengan air dan diminum setiap pagi setelah subuh.
Indonesia adalah salah satu negara penghasil madu. Pemanfaatan madu semakin meningkat seiiring dengan perkembangan zaman. Hal ini dikarenakan khasiat dari madu yang dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Selain itu juga dengan kandungan madu yang dapat memberikan rasa manis, maka dapat dijadikan bahan alternatif untuk terapi menurunkan berat badan. Seperti yang diterangkan dalam Al-Quran, surah Al-Nahl ayat 69
Artinya: “Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.”
Sejak zaman Nabi sudah dikenal dengan yang namanya madu, madu kadang juga digolongkan sebagai kata mu’annats (kata jenis perempuan), madu (al-‘asal) memiliki banyak nama, diantaranya asy-syahd yang artinya madu yang masih bercampur selagi belum diperas dari sarangnya. Kemudian Adh-dharb, yaitu madu putih yang kental atau keras. Nama lainnya lagi adalah Adz-dzaub yaitu madu murni yang sama sekali tidak ada campuran. Termasuk juga rahiq an-nahl yang berarti bening dan murni dari olahan madu (sari madu). Sedangkan nama ilmiah lebah madu adalah Apis Meli Fera dari jenis Apidae (Hammad, 2011).
Madu merupakan bahan makanan alami yang istimewa, berasal dari berbagai sumber nektar yang dikumpulkan dan diolah oleh beberapa jenis lebah.  Madu memiliki banyak manfaat bagi kesehatan, diantaranya sebagai antibakteri, antioksidan, dan mengandung banyak vitamin diantaranya Thiamin, Riboflavin, dan Niacin.  Madu bahkan digunakan untuk melancarkan gangguan sistem gastrointestinal seperti konstipasi, dan obesitas (Nadhilla, 2014).
Nilai kalori 1 kg madu setara dengan 50 butir telur ayam, 5,7 liter susu, 1,68 kg daging, 25 buah pisang, 40 buah jeruk, dan 4 kg kentang. Madu memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi dan rendah lemak. Kandungan gula dalam madu mencapai 80 %, asam utama yang terdapat dalam madu adalah asam glutamat. Nilai kalori madu dalam 100gr madu setara dengan 328 kkal (Suranto, 2004).
Secara umum komposisi kimia penyusun madu, adalah getah dan balsem (55%), minyak aromatik esensial (10%), lilin (30%), tepung sari (5%), dan beberapa bahan mineral, serta organic (Yoirish, 2001). Di dalam madu murni terdapat beberapa kandungan gizi seperti karbohidrat, protein, asam amino, vitamin dan mineral. Vitamin yang terkandung dalam madu antara lain Vit B1, B2, B3, B6, C, A, E, flavonoid, sedangkan untuk kandungan mineralnya ada Na, Ca, K, Mg, Cl, Fe, Zn dan lain-lain. Kandungan nutrisi dalam madu yang berfungsi sebagai antioksidan adalah vitamin C, B3, asam organik, enzim, asam fenolik, flavonoid, vitamin A serta vitamin E, dengan demikian pada madu terdapat banyak nutrisi yang berfungsi sebagai antioksidan (Bogdanov et al, 2008).
Madu mengandung senyawa antioksidan yaitu flavonoid yang termasuk dalam  golongan isoflavon (Asih dkk, 2012). Kandungan flavanoid dalam madu berperan dalam penurunan kadar kolesterol total darah. Mekanisme penurunan kadar kolesterol ini dengan cara menurunkan sintesis kolesterol dengan menghambat 3-hydroxy-3-methyl-glutary (HMG)-CoA reductase, menghambat sekresi triasilgliserol, dan meningkatakan HDL (Sekhon & Loodu, 2012).
Senyawa dalam madu yang sangat berperan dalam menurunkan kadar kolesterol dalam darah adalah vitamin C. Kandungan vitamin C dalam madu  dapat menurunkan kadar kolesterol total darah dengan meningkatkan pengubahan kolesterol menjadi asam empedu didalam hati dan mengekskresikan kedalam usus kemudian dikeluarkan bersama feses. Selain itu, vitamin C juga dapat menurunkan pengabsorbsian kembali asam empedu dan konversinya menjadi kolesterol (Inayah dkk, 2012). Mekanisme lain dari vitamin C untuk menurunkan kolesterol dalam darah adalah dengan mencegah peningkatan hormon kortikosteroid di dalam darah. Kelebihan hormon kortikosteroid dapat menyebabkan peningkatan kolesterol di dalam darah (Waspadji et al 2003).
Tingginya kolesterol didalam darah juga dapat menyebabkan terjadinya peningkatan MDA. MDA adalah salah satu komponen organik yang menjadi penanda adanya srtres oksidatif. Penyebab dari stres oksidatif bermacam-macam, salah satunya adalah tingginya kolesterol di dalam darah sehingga mengakibatkan terjadinya peroksidasi lipid. Peroksidasi lipid merupakan suatu serangan radikal hidroksil pada asam lemak tak jenuh ganda pada permukaan fosfolipid LDL yang selanjutnya akan berkembang ke inti lipid menghasilkan oksidasi. Apabila peroksidasi asam lemak jenuh ganda terurai maka akan menghasilkan malonildealdehid (MDA) dan 4-hidroksialkenal (Suhartono et al 2007). Peningkatan kadar MDA dapat dicegah dengan adanya antioksidan vitamin A,C,E dan flavonoid karena zat tersebut dapat mencegah terjadinya peroksidasi lipid dalam darah (Jawi, 2008).
Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Inayah (2012) perbandingan antara efektivitas dari dua jenis madu yang berbeda dalam menurunkan kadar MDA dalam darah tergantung pada banyaknya kandungan antioksidan yang ada dalam madu tersebut. Semakin tinggi kadar antioksidan yang ada di dalam madu, maka semakin tinggi pula efektivitas dalam menurunkan kadar MDA. Sehingga tidak terjadi stress oksidatif dan kadar kolesterol dalam darah akan menurun.
Dalam sebuah penelitian, kombinasi dari minyak zaitun ekstrak murni (EVOO) dengan madu dapat menurunkan kolesterol total dengan mekanisme yang menggabungkan  kandungan yang terdapat dalam EVOO dan madu. Mekanisme penurunan kolesterol yaitu dengan jalur eksogen yaitu menghambat penyerapan kolesterol pada intestinum yang dilakukan oleh MUFAs yang memiliki konfigurasi cis, MUFAs ini terkandung dalam minyak zaitun yaitu berupa asam oleat. Selain pada jalur eksogen, pemberian kombinasi madu dan EVOO dapat menurunkan kolesterol dengan jalur endogen yaitu menurunkan sintesis kolesterol yaitu menghambat kerja enzim HMG-CoA reduktase, yang mengkatalisis HMG-CoA menjadi mevalonat pada rangkaian biosintesis kolesterol (Ninaprilia, 2014).
Menurut Waili (2004) melaporkan bahwa konsentrasi kolesterol total dapat turun dengan pemberian madu sebesar 75 gr setiap hari. Sama seperti pola makan Rasulullah SAW setiap hari setelah beliau melaksanakan shalat subuh, salah satu makanan kegemaran Rasul adalah madu. Beliau biasa meminum madu yang dicampur air untuk membersihan air liur dan pencernaan. Rasul bersabda, “Hendaknya kalian menggunakan dua macam obat, yaitu madu dan Alquran” (HR. Ibnu Majah dan Hakim). Karena madu memiliki banyak manfaat yang salah satunya dapat menurunkan kadar kolsterol dalam darah, sehingga faktor resiko dari obesitas akan berkurang.
Melihat uraian diatas, madu memiliki manfaat yang sangat banyak. Sama seperti pola makan yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW yaitu mengkonsumsi madu setiap pagi karena manfaat dari madu sangat banyak. Salah satunya untuk mencegah obsitas. Karena madu memiliki kandungan antioksidan yang tinggi yaitu vitamin C yang terdapat di dalam madu. Antioksidan ini dapat menurunkan LDL dalam darah yang berlebih. Sehingga dapat mengurangi dan/atau mencegah faktor resiko dari obesitas. Perlu adanya penelitian lebih lanjut mengenai kadar madu yang cukup baik untuk kesehatan khususnya dalam hal menurunkan obesitas. Dengan demikian, madu dapat dijadikan sebagai alternatif untuk mengurangi obesitas, sehingga dapat meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.



DAFTAR PUSTAKA

Bogdanov, S. Jurendic, T., Sieber, R., Gallmann, P. 2008. Honey for Nutrition and Health: a Review. After: American Journal of the College of Nutrition, , 27: 677-689.
Hammad, Said, 99 Resep Sehat dengan Madu, Solo: AQWAMEDIKA, Cet. VI, 2011, hlm. 43-44.
Inayah., Marianti, A., Lisdiana. 2012. Efek Madu Randu dan Madu Kolesterol dalam Menurunkan Kadar Kolesterol pada Tikus Putih Hiperkolesterolemia. Semarang: Unnes Journal of Life Science.
Jawi, I., Made, S.D., Nugraha, N.S.A., Agung. 2008. Ubi Jalar Ungu Menurunkan MDA dalm Darah dan Hati Mencit Setelah Aktivitas Fisik Maksimal. Jurnal Veteriner. Vol.9 No 2: 65-72
Ninaprilia, 2014, Effect Extra Virgin Olive Oil And Honey Of Total Cholesterol In White Rats (Rattus Norvegicus) Male Sprague Dawley Strain Induced By High Cholesterol Diet, Medical Journal of Lampung University, Vol 3 No 3
Sakri, Faisal M. 2012. Madu dan Khasiatnya : Suplemen Sehat Tanpa Efek Samping. Diandra Pustaka Indonesia. Yogyakarta.
Suhartono, E., Fachir, H. dan Setiwan, B. 2007. Stres Oksidatif Dasar dan Penyakit. Banjarmasin : Pustaka Banua
Suranto, Adji, dr, SpA. 2004 .Khasiat dan Manfaat Madu Herbal. Jakarta Agromedia Pustaka
Turk, M.W., Yang, K., Hravnak, M., Sereika, S.M., Ewing, L.J., Burke, L.E. 2009. Randomized Clinical Trials of Weight-Loss Maintenance: A Review. J Cardiovasc Nurs. 24 (1) : 58–80. Available from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2676575/pdf/nihms100183.pdf. Accesed June 8th 2015
Popkin, B., M., 2005. Global nutrition dynamics: the world is shifting rapidly toward a diet linked with noncommunicable diseases. American Journal of Clinical Nutrition, Vol. 84, No. 2, 289-298. Available from : http://www.ajcn.org/content/84/2/289.full?sid=c587e903-7369-4a7e-a348-a1c7ed678643. Accesed June 8th 2015.
Waili. (2004). Natural honey lowers plasma glucose, C-reactive protein, homocysteine, and blood lipids in healthy, diabetic, and hyperlipi- demic subjects: comparison with dextrose and sucrose. Diakses 8 Juni 2015. Available: http://www. ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/15117561.
Waspadji, S. dan Suyono, S. 2003. Pengkajian Status Gizi Studi Epidemiologi. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.



No comments:

Post a Comment