CEGAH
OBESITAS DENGAN MENGKONSUMSI MADU SESUAI SUNNAH RASULULLAH SAW
Fitri
Rachmawati Putri (13711030)
Fakultas
Kedokteran Universitas Islam Indonesia
Obesitas merupakan
suatu kelainan kompleks pengaturan makan dan metabolism energy yang
dikendalikan oleh beberapa faktor biologik spesifik. Scecara fisiologis,
obesitas didefinisikan sebagai suatu keadaan dengan akumulasi lemak yang tidak
abnormal atau berlebih di jaringan adipose sehingga dapat mengganggu kesehatan.
Obesitas memiliki banyak penyebab, salah satunya adalah dislipidemia. Pada
subyek yang obes, konsentrasi asam lemak bebas, trigliserida, kolesterol LDL,
dan apoB lebih tinggi dibandingkan orang yang non-obes (Sudoyo, 2012).
Saat ini diperkirakan jumlah orang di seluruh dunia
dengan kriteria obesitas melebihi 250 juta orang, yaitu sekitar 7% dari
populasi orang dewasa di dunia. Menurut data Riskesdas 2013, status gizi lebih di
Indonesia yang teridentifikasi semenjak usia balita sebesar 11,9 persen.
Menurut indikator IMT >25 (Obesitas) terlihat prevalensi obesitas pada
laki-laki sebesar 19,7 persen dan perempuan 32,9 persen. Secara nasional,
prevalensi obesitas sentral adalah 26.6 persen, lebih tinggi dari prevalensi
pada tahun 2007 (18,8%). Prevalensi obesitas sentral terendah di Nusa Tenggara
Timur (15,2 %) dan tertinggi di DKI Jakarta (39,7 %) (RISKESDAS, 2013).
Peningkatan prevalensi obesitas menarik perhatian
baik peneliti maupun masyarakat luas oleh karena kelebihan lemak tubuh
dihubungkan dengan berbagai penyakit kronik dan degeneratif (Popkin, 2005),
yakni penyakit-penyakit ko-morbid obesitas seperti diabetes mellitus tipe 2,
hipertensi, hiperkolesterolemia, penyakit jantung koroner, penyakit batu
empedu, dan osteoarthritis (Turk, 2009).
Penurunan berat badan mempunyai efek yang sangat
besar dan menguntungkan terhadap komorbiditas obesitas. Bahkan penurnan berat
badan 5-10% dari berat awal dapat mengakibatkan perbaikan kesehatan secara
signifikan. Penurunan berat nadan terbukti dapat meningkatkan kadar HDL dalam
darah dan secara umum dapat mengakibatkan beberapa pengurangan pada kolesterol
serum total dan kolesterol LDL. Terapi yang cukup efektif untuk menurunkan berat
badan meliputi empat pilar yang mana salah satunya adalah terapi diet rendah
kalori (Sudoyo, 2013). Menurut Sakri (2012) madu bersifat rendah kalori.
Ia mengungkapkan bahwa kandungan kalori
dalam 1 gram madu adalah 3,04 kkal. Pola diet yang cukup efektif yang
dicontohkan oleh Rasulullah SAW adalah dengan mengkonsumsi sesendok madu yang
dicampur dengan air dan diminum setiap pagi setelah subuh.
Indonesia adalah salah satu negara penghasil madu.
Pemanfaatan madu semakin meningkat seiiring dengan perkembangan zaman. Hal ini
dikarenakan khasiat dari madu yang dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Selain
itu juga dengan kandungan madu yang dapat memberikan rasa manis, maka dapat
dijadikan bahan alternatif untuk terapi menurunkan berat badan. Seperti yang
diterangkan dalam Al-Quran, surah Al-Nahl ayat 69
Artinya: “Kemudian
makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang
telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang
bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi
manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda
(kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.”
Sejak zaman Nabi sudah dikenal dengan yang namanya
madu, madu kadang juga digolongkan sebagai kata mu’annats (kata jenis
perempuan), madu (al-‘asal) memiliki banyak nama, diantaranya asy-syahd yang
artinya madu yang masih bercampur selagi belum diperas dari sarangnya. Kemudian
Adh-dharb, yaitu madu putih yang kental atau keras. Nama lainnya lagi adalah
Adz-dzaub yaitu madu murni yang sama sekali tidak ada campuran. Termasuk juga
rahiq an-nahl yang berarti bening dan murni dari olahan madu (sari madu).
Sedangkan nama ilmiah lebah madu adalah Apis Meli Fera dari jenis Apidae
(Hammad, 2011).
Madu merupakan bahan makanan alami yang
istimewa, berasal dari berbagai sumber nektar yang dikumpulkan dan diolah oleh
beberapa jenis lebah. Madu memiliki
banyak manfaat bagi kesehatan, diantaranya sebagai antibakteri, antioksidan,
dan mengandung banyak vitamin diantaranya Thiamin, Riboflavin, dan Niacin. Madu bahkan digunakan untuk melancarkan
gangguan sistem gastrointestinal seperti konstipasi, dan obesitas (Nadhilla,
2014).
Nilai kalori 1 kg madu
setara dengan 50 butir telur ayam, 5,7 liter susu, 1,68 kg daging, 25 buah
pisang, 40 buah jeruk, dan 4 kg kentang. Madu memiliki kandungan karbohidrat
yang tinggi dan rendah lemak. Kandungan gula dalam madu mencapai 80 %, asam
utama yang terdapat dalam madu adalah asam glutamat. Nilai kalori madu dalam
100gr madu setara dengan 328 kkal (Suranto, 2004).
Secara umum komposisi kimia penyusun madu, adalah
getah dan balsem (55%), minyak aromatik esensial (10%), lilin (30%), tepung
sari (5%), dan beberapa bahan mineral, serta organic (Yoirish, 2001). Di dalam
madu murni terdapat beberapa kandungan gizi seperti karbohidrat, protein, asam
amino, vitamin dan mineral. Vitamin yang terkandung dalam madu antara lain Vit
B1, B2, B3, B6, C, A, E, flavonoid, sedangkan untuk kandungan mineralnya ada
Na, Ca, K, Mg, Cl, Fe, Zn dan lain-lain. Kandungan nutrisi dalam madu yang
berfungsi sebagai antioksidan adalah vitamin C, B3, asam organik, enzim, asam
fenolik, flavonoid, vitamin A serta vitamin E, dengan demikian pada madu
terdapat banyak nutrisi yang berfungsi sebagai antioksidan (Bogdanov et al,
2008).
Madu mengandung senyawa antioksidan yaitu flavonoid
yang termasuk dalam golongan isoflavon
(Asih dkk, 2012). Kandungan flavanoid dalam madu berperan dalam penurunan kadar
kolesterol total darah. Mekanisme penurunan kadar kolesterol ini dengan cara
menurunkan sintesis kolesterol dengan menghambat 3-hydroxy-3-methyl-glutary
(HMG)-CoA reductase, menghambat sekresi triasilgliserol, dan meningkatakan HDL
(Sekhon & Loodu, 2012).
Senyawa dalam madu yang sangat berperan dalam
menurunkan kadar kolesterol dalam darah adalah vitamin C. Kandungan vitamin C
dalam madu dapat menurunkan kadar
kolesterol total darah dengan meningkatkan pengubahan kolesterol menjadi asam
empedu didalam hati dan mengekskresikan kedalam usus kemudian dikeluarkan bersama
feses. Selain itu, vitamin C juga dapat menurunkan pengabsorbsian kembali asam
empedu dan konversinya menjadi kolesterol (Inayah dkk, 2012). Mekanisme lain
dari vitamin C untuk menurunkan kolesterol dalam darah adalah dengan mencegah
peningkatan hormon kortikosteroid di dalam darah. Kelebihan hormon
kortikosteroid dapat menyebabkan peningkatan kolesterol di dalam darah
(Waspadji et al 2003).
Tingginya kolesterol didalam darah juga dapat
menyebabkan terjadinya peningkatan MDA. MDA adalah salah satu komponen organik
yang menjadi penanda adanya srtres oksidatif. Penyebab dari stres oksidatif
bermacam-macam, salah satunya adalah tingginya kolesterol di dalam darah
sehingga mengakibatkan terjadinya peroksidasi lipid. Peroksidasi lipid
merupakan suatu serangan radikal hidroksil pada asam lemak tak jenuh ganda pada
permukaan fosfolipid LDL yang selanjutnya akan berkembang ke inti lipid
menghasilkan oksidasi. Apabila peroksidasi asam lemak jenuh ganda terurai maka
akan menghasilkan malonildealdehid (MDA) dan 4-hidroksialkenal (Suhartono et al
2007). Peningkatan kadar MDA dapat dicegah dengan adanya antioksidan vitamin
A,C,E dan flavonoid karena zat tersebut dapat mencegah terjadinya peroksidasi
lipid dalam darah (Jawi, 2008).
Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Inayah
(2012) perbandingan antara efektivitas dari dua jenis madu yang berbeda dalam
menurunkan kadar MDA dalam darah tergantung pada banyaknya kandungan
antioksidan yang ada dalam madu tersebut. Semakin tinggi kadar antioksidan yang
ada di dalam madu, maka semakin tinggi pula efektivitas dalam menurunkan kadar
MDA. Sehingga tidak terjadi stress oksidatif dan kadar kolesterol dalam darah
akan menurun.
Dalam sebuah penelitian, kombinasi dari minyak
zaitun ekstrak murni (EVOO) dengan madu dapat menurunkan kolesterol total dengan
mekanisme yang menggabungkan kandungan
yang terdapat dalam EVOO dan madu. Mekanisme penurunan kolesterol yaitu dengan
jalur eksogen yaitu menghambat penyerapan kolesterol pada intestinum yang
dilakukan oleh MUFAs yang memiliki konfigurasi cis, MUFAs ini terkandung dalam
minyak zaitun yaitu berupa asam oleat. Selain pada jalur eksogen, pemberian
kombinasi madu dan EVOO dapat menurunkan kolesterol dengan jalur endogen yaitu
menurunkan sintesis kolesterol yaitu menghambat kerja enzim HMG-CoA reduktase,
yang mengkatalisis HMG-CoA menjadi mevalonat pada rangkaian biosintesis
kolesterol (Ninaprilia, 2014).
Menurut Waili (2004) melaporkan bahwa konsentrasi
kolesterol total dapat turun dengan pemberian madu sebesar 75 gr setiap hari.
Sama seperti pola makan Rasulullah SAW setiap hari setelah beliau melaksanakan
shalat subuh, salah satu makanan kegemaran Rasul
adalah madu. Beliau biasa meminum madu yang dicampur air untuk membersihan air
liur dan pencernaan. Rasul bersabda, “Hendaknya kalian menggunakan dua macam
obat, yaitu madu dan Alquran” (HR. Ibnu Majah dan Hakim). Karena madu memiliki
banyak manfaat yang salah satunya dapat menurunkan kadar kolsterol dalam darah,
sehingga faktor resiko dari obesitas akan berkurang.
Melihat uraian diatas, madu memiliki manfaat yang
sangat banyak. Sama seperti pola makan yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW
yaitu mengkonsumsi madu setiap pagi karena manfaat dari madu sangat banyak. Salah
satunya untuk mencegah obsitas. Karena madu memiliki kandungan antioksidan yang
tinggi yaitu vitamin C yang terdapat di dalam madu. Antioksidan ini dapat
menurunkan LDL dalam darah yang berlebih. Sehingga dapat mengurangi dan/atau
mencegah faktor resiko dari obesitas. Perlu adanya penelitian lebih lanjut
mengenai kadar madu yang cukup baik untuk kesehatan khususnya dalam hal
menurunkan obesitas. Dengan demikian, madu dapat dijadikan sebagai alternatif
untuk mengurangi obesitas, sehingga dapat meningkatkan kualitas kesehatan
masyarakat.
‘
DAFTAR
PUSTAKA
Bogdanov, S. Jurendic,
T., Sieber, R., Gallmann, P. 2008. Honey for Nutrition and Health: a Review.
After: American Journal of the College of Nutrition, , 27: 677-689.
Hammad, Said, 99
Resep Sehat dengan Madu, Solo: AQWAMEDIKA, Cet. VI, 2011, hlm. 43-44.
Inayah.,
Marianti, A., Lisdiana. 2012. Efek Madu Randu dan Madu Kolesterol dalam
Menurunkan Kadar Kolesterol pada Tikus Putih Hiperkolesterolemia. Semarang:
Unnes Journal of Life Science.
Jawi, I., Made,
S.D., Nugraha, N.S.A., Agung. 2008. Ubi Jalar Ungu Menurunkan MDA dalm Darah
dan Hati Mencit Setelah Aktivitas Fisik Maksimal. Jurnal Veteriner. Vol.9 No 2:
65-72
Ninaprilia,
2014, Effect Extra Virgin Olive Oil And Honey Of Total Cholesterol In White
Rats (Rattus Norvegicus) Male Sprague Dawley Strain Induced By High Cholesterol
Diet, Medical Journal of Lampung University, Vol 3 No 3
Sakri, Faisal M.
2012. Madu dan Khasiatnya : Suplemen Sehat Tanpa Efek Samping. Diandra Pustaka
Indonesia. Yogyakarta.
Suhartono, E.,
Fachir, H. dan Setiwan, B. 2007. Stres Oksidatif Dasar dan Penyakit.
Banjarmasin : Pustaka Banua
Suranto, Adji,
dr, SpA. 2004 .Khasiat dan Manfaat Madu Herbal. Jakarta Agromedia Pustaka
Turk,
M.W., Yang, K., Hravnak, M., Sereika, S.M., Ewing, L.J., Burke, L.E. 2009. Randomized
Clinical Trials of Weight-Loss Maintenance: A Review. J
Cardiovasc Nurs. 24 (1) : 58–80. Available from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2676575/pdf/nihms100183.pdf.
Accesed June 8th 2015
Popkin, B., M., 2005. Global nutrition dynamics: the world is
shifting rapidly toward a diet linked with noncommunicable diseases. American
Journal of Clinical Nutrition, Vol. 84, No. 2, 289-298. Available from :
http://www.ajcn.org/content/84/2/289.full?sid=c587e903-7369-4a7e-a348-a1c7ed678643.
Accesed June 8th 2015.
Waili. (2004).
Natural honey lowers plasma glucose, C-reactive protein, homocysteine, and
blood lipids in healthy, diabetic, and hyperlipi- demic subjects: comparison
with dextrose and sucrose. Diakses 8 Juni 2015. Available: http://www.
ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/15117561.
Waspadji, S. dan
Suyono, S. 2003. Pengkajian Status Gizi Studi Epidemiologi. Jakarta : Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia.
No comments:
Post a Comment