Monday, 28 November 2016

PENTINGNYA IBU MENYUSUI

NUTRISI IBU MENYUSUI
1.      Pengertian
a.      Status gizi
Status gizi merupakan suatu takaran atau ukuran mengenai kondisi tubuh pada seseorang yang dapat dilihat dari diet yang dilakukan sehari-hari dan juga penggunaan zatvgizi di dalam tubu. Status gizi itu sendiri dibedakan menjadi 3 macam, yaitu status gizi kurang, gizi normal, dan gizi lebih (Almatsier, 2005). Status gizi yang normal merupakan suatu keadaan dimana makanan yang dikonsumsi seimbang dengan pengeluaran energi yang dikeluarkan.
Ada banyak faktor yang mempengaruhi status gizi ibu yang sedang menyusui, salah satu diantaranya adalah pola makan atau asupan atau diet zat gizi ibu tersebut. Pola makan yang baik adalah pola makan yang seimbang, memenuhi kebutuhan gizi ibu baik dari jenis maupun jumlah. Dalam kehidupan sehari-hari, tidak jarang ditemukan ibu menyusui mengalami kekurangan asupan zat gizi akibat adanya pantangan terhadap makanan tertentu. Padahal asupan zat gizi seseorang ditentukan oleh kebisaan makan dan frekuensi makan yang dilakukan orang tersebut (Namidin, 2010).
Kebutuhan gizi selama masa menyusui adalah hal yang sangat penting. Kebutuhan gizinya akan lebih besar jika seorang ibu menyusui anaknya yang kembar dua atau tiga dan akan kurang apabila ia hanya menyusui anaknya hanya sebagian saja dan selanjutnya memakai susu formula (Griffin, 2006).
b.      Ibu menyusui
Masa menyusui adalah masa yang penting dan berharga bagi seorang ibu dan bayinya. Pada masa inilah hubungan emosional antara ibu dan anak mulai akan terjalin, dengan periode yang cukup panjang, masa menyusui sangat baik bagi perkembangan mental dan psikis anak.
Laktasi adalah proses pengeluaran air susu dari glandula mamae dari seorang wanita. Selama masa kehamilan, sistem hormonal dari sistem reproduksi wanita mempersiapkan kelenjar mamae untuk memproduksi susu (Lawrence, 2005). Hormon yang meningkatkan produksi ASI adalah prolaktin. Hormon ini disekresikan oleh kelenjar hipofisis anterior ibu dan konsentrasinya dalam darah meningkat secara tetap pada minggu ke lima pada masa kehamilannya (Guyton, 2011). Proses laktasi pada manusia khususnya pada ibu dan bayinya memberikan banyak manfaat untuk kesehatan. Laktasi juga memiliki efek pada ibu dalam mengurangi kejadian diabetes tipe 2, sindrom metabolic, penyakit kardiovaskuler, serta kanker (Gunderson dkk; Stuebe dkk, 2005).
World Health Organization (WHO) dan United Nation Childrens Fund (UNICEF) menyarankan kepada ibu menyusui agar memberikan ASInya kepada anak maksimal sampai umur 2 tahun (Nakamori, 2009). Menurut penelitian WHO mengenai nutrisi selama kehamilan dan menyusui manyatakan bahwa produksi ASI yang cukup adalah 850 cc per hari (Ebrahim, 1978).

2.      Kandungan dalam ASI
Banyak penelitian yang meneliti tentang manfaat Air Susu Ibu (ASI) bagi bayi. Hasilnya membuktikan bahwa pemberian ASI dapat menurunkan mortalitas dan morbiditas bayi, mengoptimalkan tumbuh kembang bayi, membantu mengembangkan kecerdasan bayi, serta membantu memperpanjang jarak kehamilan bagi sang ibu. ASI mempunyai kandungan yang cukup tinggi dan juga faktor nutrisi yang seimbang untuk tumbuh kembang bayi (Griffin, 2006).
Air Susu Ibu (ASI) merupakan makanan utama bayi. Oleh sebab itu, untuk menjamin kecukupan ASI bagi bayi, makanan ibu yang sedang menyusui harus diperhatikan. Sekresi ASI rata-rata 800 – 850 mililiter perhari dan mengandung kalori 60 – 65 kalori, 1,0 – 1,2 gram, dan  lemak 2,5 – 3,5 gram setiap 100 mililiter. Zat-zat ini diambil dari tubuh ibu, dan harus digantikannya dengan suplai makanan ibu sehari-hari. Untuk itu maka ibu yang sedang menyusui memerlukan tambahan 800 kalori sehari dan tambahan protein 25 gram sehari, di atas kebutuhan bila ibu tidak menyusui (Notoatmodjo, 2003). Pola makan (diet) ibu menyusui biasanya membutuhkan diet kalori tinggi, bergizi tinggi dan seimbang, yang harus sudah mulai disiapkan ibu sejak masa sebelum dan selama kehamilannya. Ibu menyusui perlu makan lebih banyak dibandingkan pada saat hamil.


Tabel 1. Perbedaan komposisi susu (Guyton, 2011)
Konstituen
ASI (%)
Susu sapi (%)
Air
88,5
87,0
Lemak
3,3
3,5
Laktosa
6,8
4,8
Kasein
0,9
2,7
Laktalbumin dan protein lain
0,4
0,7
Ash
0,2
0,7

Beberapa keuntungan dan keunggulan ASI adalah:
-          ASI bersih
-          Mengandung immunoglobulin (Ig) terutama IgA
-          Mengandung laktoferrin, yaitu suatu ikatan protein dengan zat besi. Adanya ikatan tersebut maka bakteri-bakteri yang berbahaya dalam usus tidak dapat menggunakannya untuk pertumbuhan bakteri tersebut.
-          Lysosim, suatu enzim dengan konsentrasi beberapa ribu kali lebih tinggi dibanding dengan yang ada pada susu sapi. Enzym ini akan merusak bakteri-bakteri yang berbahaya dan berguna untuk melindungi bayi terhadap berbagai jenis virus.
-          Sel-sel darah putih selama minggu pertama dan mingggu kedua ASI mengandung lebih 4000 sel per cc. Sel-sel ini kemudian menghasilkan IgA laktoferrin, Lysozim dan interferron. Interferon merupakan suatu susu substansi yang dapat menghalang-menghalangi kegiatan dari berbagai virus.
-          Bifidus faktor: suatu nitrogen yang mengandung karbohidrat. Karbohidrat ini diperlukan oleh suatu bakeri spesifik yang disebut Lactobacillus bifidus untuk pertumbuhannya. Bakteri ini lebih dominan terhadap bakteri flora usus dan dapat memproduksi asam laktat dari Laktose yang terdapat pada ASI. Asam laktat ini nantinya akan menghalangi pertumbuhan bakteri dan parasit, dan menyebabkan kotoran (feces) bayi menjadi asam.


3.      Nutrisi yang dibutuhkan selama masa menyusui
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Chen dkk tahun 2012 menunjukkan bahwa kebutuhan energy ibu menyusui meningkat karena produksi susu. Hasil dari penelitian tersebut adalah rata-rata kebutuhan energi ibu menyusui adalah 720 – 850 kkal lebih tinggi daripada wanita control selama 90 hari pertama laktasi. Menurut Griffin (2006), wanita yang menyusui tidak perlu mengkonsumsi makanan yang khusus atau jumlah cairan yang berlebih yang tujuannya untuk menghasilkan laktat atau ASI mereka. Pantangan tersebut tidak diperlukan kecuali jika bayi memiliki alergi terhadap suatu makanan .
Zat gizi menyusui sangat penting karena berhubungan dengan kesehatan ibu dan anak. Selama masa menyusui, ibu dianjurkan untuk meningkatkan diet kalori, protein, kalsium, zat besi, asam folat dan vitamin serta mineral lainnya untuk mencukupi kebutuhan zat gizi saat menyusui (Namidin, 2010).
Kalori yang dibutuhkan oleh ibu yang sedang dalam maasa menyusui per harinya minimal 1800 kkal. Namun jika ibu tersebut memberikan ASInya kepada sanga anak secara eksklusif maka kalori yang dibutuhkan per harinya adalah 2500 – 3000 kkal. Hal ini juga bergantung pada aktifitas yang dilakukan oleh ibu tersebut. Terkadang banyak ibu pasca melahirkan langsung ingin menurunkan berat badan. Hal itu diperbolehkan tetapi penurunan ini dilakukan secara bertahap sekitar 0,2 – 0,9 kg per minggu. Sehingga proses ini membutuhkan waktu berbulan-bulan bahkan hingga satu tahun untuk kembali ke berat badan semula (Herbold, 2011).
Kandungan air dalam ASI sekitar 88 gr %. Oleh karena itu, ibu yang sedang menyusui dianjurkan untuk minum sebanyak 2–2,5 liter air sehari. Selain itu bisa juga ditambah dengan minum air buah. Karena dengan minum air buah/sari buah ini setidaknya kebutuhan akan air dan vitamin bisa terpenuhi (Committee on Nutritional, 1990).
Nutrisi yang dibutuhkan oleh ibu selama masa menyusui ada bermacam-macam. Mulai dari makronutrien sampai yang mikronutrien. Nutrisi tersebut ada air, kalsium, vitamin A, vitamin B1, vitamin B2, vitamin B6, vitamin B12, Folat, Yodium, protein, karbohidrat, lemak, vitamin D, zat besi, dan lain-lain (Griffin, 2006). Sementara asupan makanan yang tidak diperbolehkan dikonsumsi seperti alkohol, cafein, dan zat-zat yang mempunyai sifat toksik (Herbold, 2011).
Karbohidrat merupakan sumber energi utama bagi tubuh. Kandungan karbodhirat ada glukosa yang berfungsi menghasilkan ATP untuk digunakan sebagai energi bagi tubuh (Guyton, 2011). Laktosa adalah salah satu dari karbohidrat utama yang terdapat dalam ASI (Herbold, 2011).
Beberapa jenis asam lemak yang terdapat dalam ASI dipengaruhi oleh diet ibu. (Griffin, 2006). Seorang ibu yang diet tinggi asam lemak tak jenuh tunggal akan memiliki sejumlah besar jenis asam lemak yang terdapat dalam ASI. Meskipun asupan lemak dari makanan ibu bervariasi setiap harinya, perubahan hormonal yang terjadi selama menyusui memungkinkan untuk produksi ASI dengan asam lemak yang sesuai untuk bayi (Institue of Medicine, 2002).
Kebutuhan protein selama masa menyusui lebih besar jika dibandingkan dengan saat biasa (non kehamilan). Protein disintesis dalam payudara ibu dengan ekspresi gen yang dipengaruhi oleh perubahan hormonal dalam beberapa minggu dan bulan setelah melahirkan. Protein dalam ASI ini mengandung anti virus, anti mikroba, dan anti inflamasi yang kerjanya nanti dalam sistem imun bayi (Griffin, 2006).
Selama masa laktasi, ibu mulai kehilangan mineral dalam tulang yaitu kalsium. Kalsium yang ada dalam tulang di reabsorbsi kemudian masuk kedalam aliran darah, lalu bercampur dengan kandungan yang ada di ASI di glandula mamae. Oleh karena itu, asupan kalsium pada ibu menyusui sangatlah penting untuk mencegah pengeroposan tulang. Sebaiknya ibu yang menyusui mengkonsumsi kalsium sekitar 100 mg per hari (Griffin, 2006).
Yodium merupakan nutrisi yang dibutuhkan pula pada saat menyusui. Yodium merupakan komponen pokok dari pembentukan hormon tiroid dan juga bisa mencegah penyakit gondok dan kreatinisme (Guyton, 2011). Kandungan yodium dalam ASI sangat dipengaruhi oleh diet ibu. Wanita yang sedang hamil dan menyusui dalam dietnya ehari-hari harus ada yodium. Karena yodium berfungsi untuk mencegah kerusakan pada otak dan retardasi mental pada anak-anak (Griffin, 2006).
Pada tahun 1992, US Public Health Service merekomendasikan bahwa semua wanita yang subur untuk mengkonsumsi asam folat sekitar 0,4 mg per hari. Asam folat fungsinya untuk mencegah cacat lahir (Griffin, 2006). Asam folat telah diakui perannya untuk mencegah rusaknya persarafan.
Berbeda dengan mas kehamilan, asupan zat besi pada masa menyusui tidak meningkat atau bahkan lebih rendah daripada yang biasanya. Asupan zat besi selama masa menyusui sekitar 9 gr, sekitar 27 gr untuk wanita yang tidak hamil, serta 18 gr untuk wanita yang sedang hamil. Kandungan zat besi dalam ASI tampakya tidak dipengaruhi oleh asupan dari ibu. Intake zat besi oleh ibu tidak akan meningkatkan kadar zat besi dalam ASI (Griffin, 2006).
Ibu yang sedang masa menyusui dianjurkan untuk tidak minum-minuman keras, apalagi alkohol. Demikian pula terhadap obat-obatan berikut, diuretik (mengurangi cairan tubuh – memperkecil produksi ASI secara tidak langsung), pil anti hamil (mensupresi produksi ASI) dan lain-lain.
Tabel 2. Pilihan makana harian untuk ibu menyusui menurut Griffin (2006)
Kelompok makanan
Rekomendasi
Takaran dan pemilihan makanan
Padi-padian
1 ons
Setara dengan:
1 iris roti gandum
1 cangkir sereal kering
½ cangkir sereal dimasak, nasi, pasta
1 tortila kecil
4 kerupuk
¼ muffin Inggris
Sayur-sayuran
3 ½ cangkir
Wortel, ubi jalar, brokoli, bayam, labu, squash, paprika, tomat, sayuran hijau, kubis, jus sayuran 100%, jagung, kentang, kacang-kacangan, dan lain-lain.
Buah-buahan
2 cangkir
Segala macam buah-buahan
Pilih buah yang segar
Susu
3-4 cangkir
*sesuai kebutuhan
Susu rendah lemak, keju, yougurt
Daging dan kacang
6-7 cangkir
*sesuai kebutuhan
Daging unggas, ikan, telur, keju, buncis, kacnag polong, tahu, selai kacang, kacang atau biji-bijian
Minyak
6-8 sendok teh
Minyak sayur, margarin lembut, mayones, salad
Tabel 3. Kebutuhan kalori tiap makanan untuk ibu menyusui menurut Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi (1998):
Makanan
Menyusui (0-6 bulan)
Menyusui (7-12 bulan)
Kalori yang dibutuhkan
+ 700 kal
+ 500 kal
Protein
+ 16 gr
+ 12 gr
Ca
+ 400 mg
+ 4—mg
Fe
+ 2 mg
+ 2 mg
Vit A
+350 RE
+ 300 RE
Thiamin
+ 0,3 mg
+ 0,3 mg
Riboflavin
+ 0,4 mg
+ 0,3 mg
Niasin
+ 3 mg
+ 3 mg
Vit D
+25 mg
+ 10 mg
Vit E
+- 10 µg
+ 10 µg

Berhasil tidaknya pemberian ASI dari ibu ini dapat dinilai dengan mengamati pertumbuhan pada bayi. Pertumbuhan tersbut dapat diamati melalui penimbangan bayi yang teratur, yang hasilnya dicatat melalui KMS (Kartu Menuju Sehat). Apabila terjadi kenaikan berat badan sebanyak 800 gr per bulan selama 6 bulan pertama atau kenaikan berat badan menjadi 2 kali lipat pada akhir bulan kelima, merupakan tanda pertumbuhan yang sesuai dan ideal. Untuk itu ibu yang dalam masa menyusui bayinya supaya produksi ASI tetap dapat dipertahankan, maka harus makan lebih banyak dari biasanya dengan gizi yang sesuai dan seimbang.


DAFTAR PUSTAKA
Almatsier, S. 2003. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Gramedia Pustaka. Utama. Jakarta.
Committee on Nutritional. Nutrition During Lactation. 1990. National Academy Press. Washington DC.
Ebrahim, G.J. 1978. Breast Feeding – The Biological Option. Air Susu Ibu. Yayasan Essentia Medika.
Griffin, Paula Benedict. 2006. California Food Guide: Maternal Nutrition During Lactation. Fulfilling the Dietary Guidelines for Americans.
Gunderson EP, Jacobs DR, Chiang V, Lewis CE, Feng J, Quesenberry CP, Sidney S : Duration of lactation and incidence of metabolic syndrome in women of reproductive age according to gestational diabetes mellitus status: a 20-year prospective study in CARDIA (Coronary Artery Risk Development in Young Adults).
Guyton, A., C., Hall, J., E., 2011, Textbook of Medical Physiology, 12th eds. W.B. Saunders.
Herbold, N., H., Edelstein, Sari. 2011. Rapid Reference for Nurses: Nutrition. Simmons Collage Boston, MA.
Institute of Medicine. 2002. Dietary reference intakes for energy, carbohydrate. fiber, fat, fatty acids, cholesterol, protein, and amino acids. Washington DC: The National Academy Press.
Lawrence, R., A.,  Lawrence, R., M., 2005. Breastfeeding: A guide for the medical professional. Elsevier Mosby. Philadelphia.
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. 1998. Risalah Widyakarya Pangan dan Gizi VI. LIPI.
Nakamori, et al. 2009. Nutritional Status of Lactating Mothers and Breast Milk Concentration of Iron, Zinc, and Copper in Rural Vietnam. Nutr Sic Vitaminol. Vol 55. p: 338- 345.
Namidin, dkk. 2010. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Status Gizi Ibu Menyusui Wilayah Kerja Puskesmas Moncobalang Kabupaten Gowa. Media Gizi Pangan. IX:1. Januari- Juni 2010.
Notoatmodjo, Soekidjo, 2003, Ilmu Kesehatan Masyarakat, Rineka Cipta, Jakarta ___________, 2007, Ilmu Kesehatan Masyarakat, Edisi Revisi, Rineka Cipta, Jakarta.

Stuebe AM, Rich-Edwards JW, Willett WC, Manson JE, Michels KB. 2005. Duration of lactation and incidence of type 2 diabetes. JAMA. 294 (20) : 2601 – 2610.

No comments:

Post a Comment