NUTRISI IBU MENYUSUI
1.
Pengertian
a. Status
gizi
Status gizi merupakan suatu
takaran atau ukuran mengenai kondisi tubuh pada seseorang yang dapat dilihat
dari diet yang dilakukan sehari-hari dan juga penggunaan zatvgizi di dalam
tubu. Status gizi itu sendiri dibedakan
menjadi 3 macam, yaitu status gizi kurang, gizi normal, dan gizi lebih
(Almatsier, 2005). Status gizi yang normal merupakan suatu keadaan dimana
makanan yang dikonsumsi seimbang dengan pengeluaran energi yang dikeluarkan.
Ada banyak faktor yang
mempengaruhi status gizi ibu yang sedang menyusui, salah satu diantaranya adalah
pola makan atau asupan atau diet zat gizi ibu tersebut. Pola makan yang baik
adalah pola makan yang seimbang, memenuhi kebutuhan gizi ibu baik dari jenis
maupun jumlah. Dalam kehidupan sehari-hari, tidak jarang ditemukan ibu menyusui
mengalami kekurangan asupan zat gizi akibat adanya pantangan terhadap makanan tertentu.
Padahal asupan zat gizi seseorang ditentukan oleh kebisaan makan dan frekuensi
makan yang dilakukan orang tersebut (Namidin, 2010).
Kebutuhan gizi selama masa
menyusui adalah hal yang sangat penting. Kebutuhan gizinya akan lebih besar
jika seorang ibu menyusui anaknya yang kembar dua atau tiga dan akan kurang
apabila ia hanya menyusui anaknya hanya sebagian saja dan selanjutnya memakai
susu formula (Griffin, 2006).
b. Ibu
menyusui
Masa menyusui
adalah masa yang penting dan berharga bagi seorang ibu dan bayinya. Pada masa
inilah hubungan emosional antara ibu dan anak mulai akan terjalin, dengan
periode yang cukup panjang, masa menyusui sangat baik bagi perkembangan mental
dan psikis anak.
Laktasi adalah proses pengeluaran air
susu dari glandula mamae dari seorang wanita. Selama masa kehamilan, sistem
hormonal dari sistem reproduksi wanita mempersiapkan kelenjar mamae untuk
memproduksi susu (Lawrence, 2005).
Hormon yang meningkatkan produksi ASI adalah prolaktin. Hormon ini disekresikan
oleh kelenjar hipofisis anterior ibu dan konsentrasinya dalam darah meningkat
secara tetap pada minggu ke lima pada masa kehamilannya (Guyton, 2011). Proses laktasi pada
manusia khususnya pada ibu dan bayinya memberikan banyak manfaat untuk
kesehatan. Laktasi juga memiliki efek pada ibu dalam mengurangi kejadian
diabetes tipe 2, sindrom metabolic, penyakit kardiovaskuler, serta kanker (Gunderson dkk; Stuebe dkk, 2005).
World
Health Organization (WHO)
dan United Nation Childrens Fund (UNICEF)
menyarankan kepada ibu menyusui agar memberikan ASInya kepada anak maksimal
sampai umur 2 tahun (Nakamori, 2009). Menurut penelitian WHO mengenai nutrisi
selama kehamilan dan menyusui manyatakan bahwa produksi ASI yang cukup adalah
850 cc per hari (Ebrahim, 1978).
2.
Kandungan dalam ASI
Banyak
penelitian yang meneliti tentang manfaat Air Susu Ibu (ASI) bagi bayi. Hasilnya
membuktikan bahwa pemberian ASI dapat menurunkan mortalitas dan morbiditas
bayi, mengoptimalkan tumbuh kembang bayi, membantu mengembangkan kecerdasan
bayi, serta membantu memperpanjang jarak kehamilan bagi sang
ibu. ASI mempunyai kandungan yang cukup tinggi
dan juga faktor nutrisi yang seimbang untuk tumbuh kembang bayi (Griffin,
2006).
Air Susu Ibu
(ASI) merupakan makanan utama bayi. Oleh sebab itu, untuk menjamin kecukupan
ASI bagi bayi, makanan ibu yang sedang menyusui harus diperhatikan. Sekresi ASI
rata-rata 800 – 850 mililiter perhari dan mengandung kalori 60 – 65 kalori, 1,0
– 1,2 gram, dan lemak 2,5 – 3,5 gram setiap
100 mililiter. Zat-zat ini diambil dari tubuh ibu, dan harus digantikannya
dengan suplai makanan ibu sehari-hari. Untuk itu maka ibu yang sedang menyusui
memerlukan tambahan 800 kalori sehari dan tambahan protein 25 gram sehari, di
atas kebutuhan bila ibu tidak menyusui (Notoatmodjo, 2003). Pola
makan (diet) ibu menyusui biasanya membutuhkan diet kalori tinggi, bergizi
tinggi dan seimbang, yang harus sudah mulai disiapkan ibu sejak masa sebelum
dan selama kehamilannya. Ibu menyusui perlu makan lebih banyak dibandingkan
pada saat hamil.
Tabel 1. Perbedaan komposisi susu (Guyton, 2011)
|
Konstituen
|
ASI (%)
|
Susu sapi (%)
|
|
Air
|
88,5
|
87,0
|
|
Lemak
|
3,3
|
3,5
|
|
Laktosa
|
6,8
|
4,8
|
|
Kasein
|
0,9
|
2,7
|
|
Laktalbumin dan protein lain
|
0,4
|
0,7
|
|
Ash
|
0,2
|
0,7
|
Beberapa keuntungan dan keunggulan ASI adalah:
-
ASI bersih
-
Mengandung
immunoglobulin (Ig) terutama IgA
-
Mengandung
laktoferrin, yaitu suatu ikatan protein dengan zat besi. Adanya ikatan tersebut maka bakteri-bakteri yang berbahaya
dalam usus tidak dapat menggunakannya untuk pertumbuhan bakteri tersebut.
-
Lysosim, suatu enzim
dengan konsentrasi beberapa ribu kali lebih tinggi dibanding dengan yang ada
pada susu sapi. Enzym ini akan merusak bakteri-bakteri yang berbahaya dan berguna
untuk melindungi bayi terhadap berbagai jenis virus.
-
Sel-sel darah putih
selama minggu pertama dan mingggu kedua ASI mengandung lebih 4000 sel per cc.
Sel-sel ini kemudian menghasilkan IgA laktoferrin, Lysozim dan interferron.
Interferon merupakan
suatu susu substansi yang dapat menghalang-menghalangi kegiatan
dari berbagai virus.
-
Bifidus faktor: suatu
nitrogen yang
mengandung karbohidrat. Karbohidrat ini diperlukan oleh suatu bakeri spesifik yang disebut Lactobacillus bifidus untuk pertumbuhannya. Bakteri ini lebih dominan terhadap bakteri flora usus dan dapat memproduksi
asam laktat dari Laktose yang terdapat pada ASI. Asam laktat ini nantinya akan menghalangi
pertumbuhan bakteri dan parasit, dan menyebabkan kotoran (feces) bayi menjadi
asam.
3.
Nutrisi yang dibutuhkan selama masa menyusui
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Chen dkk tahun
2012 menunjukkan bahwa kebutuhan energy ibu menyusui meningkat karena produksi
susu. Hasil dari penelitian tersebut adalah rata-rata kebutuhan energi ibu menyusui adalah 720 – 850 kkal
lebih tinggi daripada wanita control selama 90 hari pertama laktasi. Menurut Griffin (2006), wanita yang menyusui tidak
perlu mengkonsumsi makanan yang khusus atau jumlah cairan yang berlebih yang
tujuannya untuk menghasilkan laktat atau ASI mereka. Pantangan tersebut tidak
diperlukan kecuali jika bayi memiliki alergi terhadap suatu makanan .
Zat gizi menyusui
sangat penting karena berhubungan dengan kesehatan ibu dan anak. Selama masa
menyusui, ibu dianjurkan untuk meningkatkan diet kalori, protein, kalsium, zat
besi, asam folat dan vitamin serta mineral lainnya untuk mencukupi kebutuhan
zat gizi saat menyusui (Namidin, 2010).
Kalori yang
dibutuhkan oleh ibu yang sedang dalam maasa menyusui per harinya minimal 1800
kkal. Namun jika ibu tersebut memberikan ASInya kepada sanga anak secara
eksklusif maka kalori yang dibutuhkan per harinya adalah 2500 – 3000 kkal. Hal
ini juga bergantung pada aktifitas yang dilakukan oleh ibu tersebut. Terkadang
banyak ibu pasca melahirkan langsung ingin menurunkan berat badan. Hal itu
diperbolehkan tetapi penurunan ini dilakukan secara bertahap sekitar 0,2 – 0,9
kg per minggu. Sehingga proses ini membutuhkan waktu berbulan-bulan bahkan
hingga satu tahun untuk kembali ke berat badan semula (Herbold, 2011).
Kandungan air dalam ASI sekitar 88 gr %. Oleh karena itu,
ibu yang sedang menyusui dianjurkan untuk minum sebanyak 2–2,5 liter air
sehari. Selain itu bisa juga ditambah dengan minum air buah. Karena dengan
minum air buah/sari buah ini setidaknya kebutuhan akan air dan vitamin bisa
terpenuhi (Committee on Nutritional, 1990).
Nutrisi yang dibutuhkan oleh ibu selama masa menyusui ada
bermacam-macam. Mulai dari makronutrien sampai yang mikronutrien. Nutrisi
tersebut ada air, kalsium, vitamin A, vitamin B1, vitamin B2, vitamin B6,
vitamin B12, Folat, Yodium, protein, karbohidrat, lemak, vitamin D, zat besi,
dan lain-lain (Griffin, 2006). Sementara asupan makanan yang tidak
diperbolehkan dikonsumsi seperti alkohol, cafein, dan zat-zat yang mempunyai sifat toksik (Herbold,
2011).
Karbohidrat
merupakan sumber energi utama bagi tubuh. Kandungan karbodhirat ada glukosa
yang berfungsi menghasilkan ATP untuk digunakan sebagai energi bagi tubuh
(Guyton, 2011). Laktosa adalah salah satu dari karbohidrat utama yang terdapat
dalam ASI (Herbold, 2011).
Beberapa jenis asam
lemak yang terdapat dalam ASI dipengaruhi oleh diet ibu. (Griffin, 2006).
Seorang ibu yang diet tinggi asam lemak tak jenuh tunggal akan memiliki
sejumlah besar jenis asam lemak yang terdapat dalam ASI. Meskipun asupan lemak
dari makanan ibu bervariasi setiap harinya, perubahan hormonal yang terjadi
selama menyusui memungkinkan untuk produksi ASI dengan asam lemak yang sesuai
untuk bayi (Institue of Medicine, 2002).
Kebutuhan protein
selama masa menyusui lebih besar jika dibandingkan dengan saat biasa (non
kehamilan). Protein disintesis dalam payudara ibu dengan ekspresi gen yang
dipengaruhi oleh perubahan hormonal dalam beberapa minggu dan bulan setelah
melahirkan. Protein dalam ASI ini mengandung anti virus, anti mikroba, dan anti
inflamasi yang kerjanya nanti dalam sistem imun bayi (Griffin, 2006).
Selama masa
laktasi, ibu mulai kehilangan mineral dalam tulang yaitu kalsium. Kalsium yang
ada dalam tulang di reabsorbsi kemudian masuk kedalam aliran darah, lalu
bercampur dengan kandungan yang ada di ASI di glandula mamae. Oleh karena itu,
asupan kalsium pada ibu menyusui sangatlah penting untuk mencegah pengeroposan
tulang. Sebaiknya ibu yang menyusui mengkonsumsi kalsium sekitar 100 mg per
hari (Griffin, 2006).
Yodium merupakan
nutrisi yang dibutuhkan pula pada saat menyusui. Yodium merupakan komponen
pokok dari pembentukan hormon tiroid dan juga bisa mencegah penyakit gondok dan
kreatinisme (Guyton, 2011). Kandungan yodium dalam ASI sangat dipengaruhi oleh
diet ibu. Wanita yang sedang hamil dan menyusui dalam dietnya ehari-hari harus
ada yodium. Karena yodium berfungsi untuk mencegah kerusakan pada otak dan
retardasi mental pada anak-anak (Griffin, 2006).
Pada tahun 1992, US
Public Health Service merekomendasikan
bahwa semua wanita yang subur untuk mengkonsumsi asam folat sekitar 0,4 mg per
hari. Asam folat fungsinya untuk mencegah cacat lahir (Griffin, 2006). Asam
folat telah diakui perannya untuk mencegah rusaknya persarafan.
Berbeda dengan mas
kehamilan, asupan zat besi pada masa menyusui tidak meningkat atau bahkan lebih
rendah daripada yang biasanya. Asupan zat besi selama masa menyusui sekitar 9
gr, sekitar 27 gr untuk wanita yang tidak hamil, serta 18 gr untuk wanita yang sedang
hamil. Kandungan zat besi dalam ASI tampakya tidak dipengaruhi oleh asupan dari
ibu. Intake zat besi oleh ibu tidak
akan meningkatkan kadar zat besi dalam ASI (Griffin, 2006).
Ibu yang sedang
masa menyusui dianjurkan untuk tidak minum-minuman keras, apalagi alkohol.
Demikian pula terhadap obat-obatan berikut, diuretik (mengurangi cairan tubuh –
memperkecil produksi ASI secara tidak langsung), pil anti hamil (mensupresi
produksi ASI) dan lain-lain.
Tabel 2. Pilihan
makana harian untuk ibu menyusui menurut Griffin (2006)
|
Kelompok makanan
|
Rekomendasi
|
Takaran dan pemilihan makanan
|
|
Padi-padian
|
1 ons
|
Setara dengan:
1 iris roti gandum
1 cangkir sereal kering
½ cangkir sereal dimasak, nasi, pasta
1 tortila kecil
4 kerupuk
¼ muffin Inggris
|
|
Sayur-sayuran
|
3 ½ cangkir
|
Wortel, ubi jalar, brokoli, bayam, labu, squash,
paprika, tomat, sayuran hijau, kubis, jus sayuran 100%, jagung, kentang,
kacang-kacangan, dan lain-lain.
|
|
Buah-buahan
|
2 cangkir
|
Segala macam buah-buahan
Pilih buah yang segar
|
|
Susu
|
3-4 cangkir
*sesuai kebutuhan
|
Susu rendah lemak, keju, yougurt
|
|
Daging dan kacang
|
6-7 cangkir
*sesuai kebutuhan
|
Daging unggas, ikan, telur, keju, buncis, kacnag
polong, tahu, selai kacang, kacang atau biji-bijian
|
|
Minyak
|
6-8 sendok teh
|
Minyak sayur, margarin lembut, mayones, salad
|
Tabel 3. Kebutuhan
kalori tiap makanan untuk ibu menyusui menurut Widyakarya Nasional Pangan dan
Gizi (1998):
|
Makanan
|
Menyusui (0-6 bulan)
|
Menyusui (7-12 bulan)
|
|
Kalori yang dibutuhkan
|
+ 700 kal
|
+ 500 kal
|
|
Protein
|
+ 16 gr
|
+ 12 gr
|
|
Ca
|
+ 400 mg
|
+ 4—mg
|
|
Fe
|
+ 2 mg
|
+ 2 mg
|
|
Vit A
|
+350 RE
|
+ 300 RE
|
|
Thiamin
|
+ 0,3 mg
|
+ 0,3 mg
|
|
Riboflavin
|
+ 0,4 mg
|
+ 0,3 mg
|
|
Niasin
|
+ 3 mg
|
+ 3 mg
|
|
Vit D
|
+25 mg
|
+ 10 mg
|
|
Vit E
|
+- 10 µg
|
+ 10 µg
|
Berhasil tidaknya pemberian ASI dari ibu
ini dapat dinilai dengan mengamati pertumbuhan pada bayi. Pertumbuhan tersbut
dapat diamati melalui penimbangan bayi yang teratur, yang hasilnya dicatat
melalui KMS (Kartu Menuju Sehat). Apabila terjadi kenaikan berat badan sebanyak
800 gr per bulan selama 6 bulan pertama atau kenaikan berat badan menjadi 2 kali
lipat pada akhir bulan kelima, merupakan tanda pertumbuhan yang sesuai dan
ideal. Untuk itu ibu yang dalam masa menyusui bayinya supaya produksi ASI tetap
dapat dipertahankan, maka harus makan lebih banyak dari biasanya dengan gizi
yang sesuai dan seimbang.
DAFTAR PUSTAKA
Almatsier, S. 2003. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Gramedia
Pustaka. Utama. Jakarta.
Committee on Nutritional. Nutrition During Lactation. 1990. National Academy Press.
Washington DC.
Ebrahim, G.J. 1978. Breast
Feeding – The Biological Option. Air Susu
Ibu. Yayasan Essentia Medika.
Griffin, Paula Benedict. 2006. California Food Guide: Maternal Nutrition During Lactation. Fulfilling the Dietary Guidelines for Americans.
Gunderson
EP, Jacobs DR, Chiang V, Lewis CE, Feng J, Quesenberry CP, Sidney S : Duration of lactation and incidence of
metabolic syndrome in women of reproductive age according to gestational
diabetes mellitus status: a 20-year prospective study in CARDIA (Coronary
Artery Risk Development in Young Adults).
Guyton, A., C., Hall, J., E., 2011, Textbook of Medical Physiology, 12th eds. W.B. Saunders.
Herbold, N., H., Edelstein, Sari. 2011. Rapid Reference for Nurses: Nutrition.
Simmons Collage Boston, MA.
Institute of Medicine. 2002. Dietary reference intakes for energy, carbohydrate. fiber, fat,
fatty acids, cholesterol, protein, and amino acids. Washington DC: The National Academy Press.
Lawrence, R., A., Lawrence, R., M., 2005. Breastfeeding: A guide for the medical professional. Elsevier Mosby. Philadelphia.
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. 1998. Risalah Widyakarya Pangan dan Gizi VI. LIPI.
Nakamori, et
al. 2009. Nutritional Status of
Lactating Mothers and Breast Milk Concentration of Iron, Zinc, and Copper in
Rural Vietnam. Nutr Sic Vitaminol. Vol 55. p: 338- 345.
Namidin, dkk. 2010. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan
Status Gizi Ibu Menyusui Wilayah Kerja Puskesmas Moncobalang Kabupaten Gowa.
Media Gizi Pangan. IX:1. Januari- Juni 2010.
Notoatmodjo, Soekidjo, 2003, Ilmu Kesehatan Masyarakat,
Rineka Cipta, Jakarta ___________, 2007, Ilmu Kesehatan Masyarakat,
Edisi Revisi, Rineka Cipta, Jakarta.
Stuebe
AM, Rich-Edwards JW, Willett WC, Manson JE, Michels KB. 2005. Duration of lactation and incidence
of type 2 diabetes. JAMA. 294 (20) : 2601 – 2610.
No comments:
Post a Comment