Monday, 28 November 2016

DONAT PROCATE

DIET DONAT PROCATE SEBAGAI ALTERNATIF  PENURUN LEMAK UNTUK OBESITAS
Oleh:
Fitri Rachmawati Putri (13711030)
Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia

Obesitas telah mencapai proporsi epidemik global, dengan lebih dari 1 milyar orang dewasa mengalami kelebihan berat badan (overweight) – dimana 300 juta diantaranya mengalami obesitas. Hal ini merupakan penyumbang yang besar terhadap beban global penyakit kronik dan disabilitas. Epidemi obesitas tidaklah terbatas pada negara-negara maju saja, peningkatan angka penderita obesitas terkadang lebih cepat di negara berkembang daripada negara maju(1).
Kelebihan lemak tubuh atau obesitas saat ini merupakan sebuah epidemi yang muncul di seluruh dunia, termasuk di negara-negara yang sedang berkembang termasuk di Indonesia (2). Interaksi dari berbagai faktor seperti faktor genetik, lingkungan, dan psikososial berpengaruh terhadap timbulnya obesitas (3). Namun secara sederhana, obesitas terjadi karena ketidakseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran energi antara lain yang diakibatkan oleh pola hidup tidak sehat seperti diet tinggi karbohidrat, lemak jenuh, kurang serat, serta aktivitas fisik yang sedikit (4).
Peningkatan prevalensi obesitas menarik perhatian baik peneliti maupun masyarakat luas oleh karena kelebihan lemak tubuh dihubungkan dengan berbagai penyakit kronik dan degeneratif (5), yakni penyakit-penyakit ko-morbid obesitas seperti diabetes mellitus tipe 2, hipertensi, hiperkolesterolemia, penyakit jantung koroner, penyakit batu empedu, dan osteoartritis (6).
Indonesia sebagai Negara dengan populasi keempat terbesar di dunia setelah Cina, India dan Amerika Serikat diwarnai dengan kontras. Sekitar 50% atau lebih dari 100 juta penduduknya tergolong pada kelompok defisiensi nutrisi, dan 15% populasi dewasa termasuk kelebihan berat badan sehingga angka penyakit ko-morbid yang dihubungkan dengan kelebihan berat badan turut meningkat (2).
The National Institute of Health (NIH) mendefinisikan IMT yang normal yakni 18,5-24,9. Kelebihan berat badan didefinisikan sebagai IMT 25-29,9. Obesitas Kelas I adalah 30-34,9 Obesitas Kelas II adalah 35-39,9 dan Kelas III >40 (Thierney et al., 2005). World Health Organization (WHO) telah menentukan nilai Indeks Massa Tubuh (IMT) untuk daerah Asia Pasifik. Untuk orang Asia, dianggap overweight bila IMT > 23 dan dianggap obesitas bila IMT > 25. Revisi ini didasarkan pada kenyataan bahwa morbiditas dan mortalitas orang Asia cenderung terjadi pada IMT yang lebih rendah (7).
Terdapat beberapa istilah yang perlu diketahui yaitu obesitas, overweight, dan obesitas sentral. Obesitas adalah peningkatan lemak tubuh (body fat). Cara pengukurannya akan diterangkan kemudian. Overweight adalah peningkatan berat badan relatif apabila dibandingkan terhadap standar. Overweight kemudian menjadi istilah yang mewakili ”obesitas” baik secara klinis ataupun epidemiologis. Sedangkan obesitas sentral adalah peningkatan lemak tubuh yang lokasinya lebih banyak di daerah abdominal daripada di daerah pinggul, paha atau lengan. Penentuan adanya obesitas sentral ini penting karena berhubungan dengan adanya resistensi insulin yang merupakan dasar terjadinya sindroma metabolik (7).
Obesitas adalah suatu keadaan yang melebihi dari berat badan relatif (ideal) seseorang, sebagai akibat penumpukan zat gizi terutama karbohidrat, protein dan lemak. Kondisi tersebut disebabkan oleh ketidakseimbangan antara konsumsi energi dan kebutuhan energi, yaitu konsumsi makanan (yang terlalu banyak) dibandingkan dengan kebutuhan atau pemakaian energi (yang lebih sedikit)(8).
Untuk menganalisis adanya resiko morbiditas dari obesitas biasanya menggunakan pengukuran Berat Badan (BB) dan Tinggi Badan (TB). Pengukuran BB dan TB yang akurat merupakan langkah awal dalam pemeriksaan klinis, karena kedua pengukuran tersebut dibutuhkan untuk menghitung (IMT). Metode yang paling berguna dan banyak digunakan untuk mengukur tingkat obesitas, yang didapat dengan cara membagi berat badan (kg) dengan kuadrat dari tinggi badan (meter).
Untuk menghitung IMT seseorang dengan menggunakan rumus:
IMT = BB/ (TB)2
1.JPG
Namun, IMT tidak dapat digunakan untuk anak-anak yang sedang masa pertumbuhan, wanita hamil, dan orang yang sangat berotot seperti atlet dan binaragawan.
Seiring dengan berkembangnya teknologi dan ilmu pengetahuan tentang kedokteran yang semakin pesat, maka berbagai terapi maupun pengobatan untuk menurunkan lemak pada orang yang obesitas diantaranya seperti mengatur pola makan, obat-obatan, olahraga, serta operasi jejuno-ileal by-pass. Namun, paradigma pengobatan saat ini lebih kepada mengatur pola makan. Orang yang diet mengatur pola makannya agar tidak terlalu lebih karbohidrat, protein, dan lemak yang dikonsumsinya.
Teh hijau adalah minuman yang cukup popular di seluruh dunia. Di India, Cina, Jepang dan Thailand minuman teh telah dikonsumsi sejak lama. Pada kedokteran tradisional India dan Cina, praktisi kesehatan menggunakan teh hijau sebagai stimulan, diuretik (meningkatkan ekskresi urin), astringent (mengontrol perdarahan dan membantu penyembuhan luka), dan meningkatkan kesehatan jantung. Pengobatan tradisional lainnya menggunakan teh hijau untuk mengobati flatulens, mengatur suhu tubuh dan menurunkan kadar gula darah, membantu pencernaan dan meningkatkan proses berpikir .(9)(10)(11)
Kegunaan teh hijau bagi kesehatan seperti perlindungan terhadap kanker, penyakit kardiovaskular, hati, telah dilaporkan. Efek baik dari teh hijau ini berhubungan dengan kandungannya, yakni (–)-epigallocatechin-3-gallate (EGCG) adalah komponen polyphenolic utama yang ditemukan pada teh hijau. Beberapa komponen polyphenolic yang dikenal dengan nama catechin juga ditemukan dalam jumlah yang lebih sedikit pada teh hijau, yakni (–)-epicatechin-3-gallate (ECG), (–)-epigallocatechin (EGC), (–)- epicatechin (EC) and (-)-catechin. (9)
Catechin pada teh hijau dilaporkan dapat menghambat enzim Catechol-O methyltransferase (COMT), yakni enzim yang mendegradasi norepinefrin. Dengan terhambatnya enzim COMT oleh catechin, terjadi reduksi degradasi norepinefrin yang akan menghasilkan penambahan waktu kerja norepinefrin pada sistem saraf simpatis. Aktivasi sistem saraf simpatis ini akan menstimulasi pengeluaran energi di antaranya dengan meningkatkan termogenesis dan oksidasi lemak. (12)(13)
Catechin dari teh dapat meningkatkan oksidasi lemak, terutama dalam periode postprandial, Peningkatan oksidasi lemak dapat disebabkan oleh bertambahnya oksidasi lemak hepar yang diaktivasi secara simpatik. Sistem saraf simpatis diduga berperan dalam mobilisasi lipid dari depot adiposa. Sehingga, ada kemungkinan bahwa catechin, dengan meningkatkan pengaruh simpatik, dapat memiliki pengaruh pada penyimpanan lemak di berbagai depot lemak. Hasil dari beberapa penelitian pada hewan menunjukkan bahwa akumulasi lemak hepar dan mesenterik berkurang dengan pemberian catechin.(14)
Penelitian Dullo et al menunjukkan ekstrak teh hijau meningkatkan pengeluaran energi dan oksidasi lemak dalam jangka pendek (12). Signal intraseluler, menghasilkan lipolisis yang meningkat, produksi panas di otot skeletal, yang tergantung pada produksi cyclic Adenosine Monophosphate (cAMP). Respon cAMP singkat saja, karena cAMP secara cepat didegradasi oleh fosfodiesterase. Signal intraseluler dapat dipertahankan lebih lama dengan menghambat fosfodiesterase dengan metilxantin, contohnya kafein.(13)
Teh hijau atau EGCG menghambat absorbsi intestinal lipid dari diet dengan jalan mengganggu emulsifikasi dan solubilisasi miselar dari lipid, yang merupakan langkah penting dalam absorbsi intestinal akan lemak dari diet, kolesterol dan lipid lainnya(15). Selain bekerja dengan jalan menghambat enzim COMT, EGCG dihubungkan dengan kemampuannya memodulasi berbagai jalur signal, terutama yang mengatur proliferasi dan hidup sel. Namun, target utama dari fungsi ini masih belum dapat ditentukan. EGCG dinyatakan dalam beberapa jurnal dapat menghambat proliferasi adiposit dan mengurangi viabilitas adiposit lewat aktivasi Adenosine monophosphateactivated protein kinase (AMPK).(16)
Minuman teh yang umum, yang disiapkan dari 1 gram daun-daun teh yang diseduh dengan 100 mL air mendidih selama 3 menit mengandung 250-350 mg berat kering yang terdiri dari 30-42% catechin dan 3-6% kafein (10). Secangkir teh hijau mengandung 80-106 mg polifenol. Konsumsi 1-3 cangkir teh per hari adalah takaran yang umum di Amerika Serikat, namun di Jepang, konsumsi sebanyak 9 cangkir teh termasuk wajar, hal ini menurut penelitian epidemiologis (17).
Propolis adalah bahan yang dipakai lebah untuk melindungi dan mengisi sarang mereka (18). Lebah yang mengambil bahan tersebut dari tumbuhan kemudian meletakkan propolis di kaki belakang mereka dan kemudian dibawa untuk dicampur bersama dengan lilin lebah (19). Saat pengumpulan propolis dan proses pengolahannya, lebah mengeluarkan enzim dari saliva mereka sebagai campuran, misalnya β-glucosidase yang ternyata juga meningkatkan sifat farmakologi produk akhirnya (18)(20).
Secara umum komposisi kimia penyusun propolis, adalah getah dan balsem (55%), minyak aromatik esensial (10%), lilin (30%), tepung sari (5%), dan beberapa bahan mineral, serta organik (21)(22)(23). Getah dalam propolis mengandung flavonoid, asam fenolat, dan ester (21). Lilin pada propolis mengandung asam lemak, sedangkan volatil terkandung pada minyak esensial (21). Tepung sari pada propolis mengandung berbagai asam amino, seperti arginin dan prolin (21). Sedangkan bahan mineral dan organik yang terdapat pada propolis, antara lain Fe, Zn, Au, Ag, Hg, keton, lakton, quinin, steroid, asam benzoat, vitamin B3, dan gula (19)(21).
Indonesia adalah salah satu negara penghasil propolis. Pemanfaatan propolis semakin meningkat seiiring dengan perkembangan zaman. Hal ini dikarenakan khasiat dari propolis yang dapat menyembuhkan berbagai penyakit (23). Selain itu juga dengan kandungan propolis yang dapat memberikan rasa manis, maka dapat dijadikan bahan alternative untuk terapi menurunkan berat badan.
Penggabungan antara kedua bahan tersebut yaitu propolis dengan catechin, maka dapat dijadikan suatu alternative dengan dibuat donat. Rata-rata orang yang obesitas memiliki kecenderungan untuk memakan makanan yang manis-manis seperti gula. Gula bukan suatu bahan alternative yang digunakan untuk proses penurunan berat badan pada orang yang obesitas.
Donat dapat membuat suatu ketertarikan terhadap orang yang obesitas. Namun donat yang selama ini dijual mengandung gula yang tidak baik untuk tubuh karena dapat menimbulkan kegemukan. Donat procate merupakan donat hasil penggabungan dari propolis dengan ekstrak catechin teh hijau. Propolis memberikan efek manis sehingga digunakan untuk pengganti gula. Sedangakan ekstrak catechin dari teh hijau digunakan sebagai bahan yang memiliki efek penurun berat badan. Kedua efek tersebut secara simultan dapat memberikan efek yang lebih efisien.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa donat procate memiliki prospek yang tinggi dalam hal menanggulangi masalah obesitas. Donat procate sendiri didapatkan dari kombinasi antara propolis dengan ekstrak catechin pada teh  hijau. Ekstrak catechin pada teh hijau dengan kandungan (–)-epigallocatechin-3-gallate (EGCG), (–)-epicatechin-3-gallate (ECG), (–)-epigallocatechin (EGC), (–)- epicatechin (EC) and (-)-catechin. Catechin pada teh hijau dilaporkan dapat menghambat enzim Catechol-O methyltransferase (COMT), yakni enzim yang mendegradasi norepinefrin. Catechin pada teh hijau dapat menghambat enzim Catechol-O methyltransferase (COMT), yakni enzim yang mendegradasi norepinefrin. Efek manis yang ditimbulkan oleh propolis juga merupakan pengganti gula. Dengan demikian, donat procate dapat benar-benar diaplikasikan kepada masyarakat dengan aman, efek terapi yang optimal dan nyata, serta harga yang lebih terjangkau dengan harapan dapat meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, khususnya penderita obesitas.




























DAFTAR PUSTAKA

1.      World Health Oganization, 2003. Obesity and Overweight. Available at: http://www.who.int/dietphysicalactivity/media/en/gsfs_obesity.pdf. Accesed May 8th 2014.
2.      Atmarita, 2005. Nutrition Problems in Indonesia. The article for An Integrated International Seminar and Workshop on Lifestyle – Related Diseases. Gajah Mada University, 19 – 20 March, 2005. Available from: http://www.gizi.net/download/nutrition%20problem%20in%20Indonesia.pdf. Accesed May 8th 2014.
3.      Molina, P., E., 2006. Lange physiology series, endocrine physiology. International edition. 2nd edition. McGraw Hill. Halaman 247-262.
4.      Wilborn, C., Beckham, J., Campbell, B., Harvey, T., Galbrath, M., La Bounty, P., Nassar, E., Wismann, J.,Kreider, R. 2005. Obesity: Prevalence, Theories, Medical Consequences, Management, and Research Directions. Journal of the International Society of Sports Nutrition. 2(2): 4–31. Available from:
5.      Popkin, B., M., 2005. Global nutrition dynamics: the world is shifting rapidly toward a diet linked with noncommunicable diseases. American Journal of Clinical Nutrition, Vol. 84, No. 2, 289-298. Available from : http://www.ajcn.org/content/84/2/289.full?sid=c587e903-7369-4a7e-a348-a1c7ed678643. Accesed May 8th 2014.
6.      Turk, M.W., Yang, K., Hravnak, M., Sereika, S.M., Ewing, L.J., Burke, L.E. 2009. Randomized Clinical Trials of Weight-Loss Maintenance: A Review. J Cardiovasc Nurs. 24 (1) : 58–80. Available from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2676575/pdf/nihms100183.pdf. Accesed May 8th 2014.
7.    Pangkahila, W., 2007. Anti Aging Medicine: Memperlambat Penuaan Meningkatkan Kualitas Hidup. Penerbit buku Kompas. Halaman 94-99.
8.    Nagle, D.G., Ferreira, D., Zhou, Y.D. 2006. Epigallocatechin-3-gallate (EGCG): Chemical and biomedical perspectives. Phytochemistry. 67 (17) : 1849–1855. Available from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2903211/pdf/nihms-216834.pdf.. Accesed May 8th 2014.
9.    Budiyanto. (2002). Obesitas dan Perkembangan Anak. Jakarta: Grafindo Persada.
10.  Velayutham, P., Babu, A., Liu, D. 2008. Green Tea Catechins and Cardiovascular Health: An Update. Curr Med Chem. 15 (18) : 1840–1850 . Available from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2748751/pdf/nihms145237.pdf. Accesed 10 Mei 2014.

11. Chacko, S., Thambi, P., Kuttan, R., Nishigaki, I. 2010. Beneficial effects of green tea: A literature review. Chinese Medicine. 5: 13. Available from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2855614/pdf/1749-8546-5-13.pdf. Accesed May 10th 2014.
12.  Diepvens, K., Westerterp, K.R., Westerterp-Platenga, M.S. 2007. Obesity and thermogenesis related to the consumption of caffeine, ephedrine, capsaicin, and green tea. AJP - Regu Physiol January 2007 vol. 292 no. 1 R77-R85. Available from : http://ajpregu.physiology.org/content/292/1/R77.full. Accesed May 10th 2014.
13.  Belza, A., Toubro, S., Astrup, A. 2009. The effect of caffeine, green tea and tyrosine on thermogenesis and energy intake. European Journal of Clinical Nutrition 63, 57-64. Macmillan Publishers Limited. Available from: http://proquest.umi.com/pqdweb?index=2&did=1622618041&SrchMode=1&sid=3&Fmt=6&VInst=PROD&VType=PQD&RQT=309&VName=PQD&TS=1296616266&clientId=74186. Accesed May 10th 2014.
14.  Maki, K.C., Reeves, M.S., Farmer, M., Yasunaga, K., Matsuo, N., Katsuragi, Y., Komikado, M., Tokimitsu, I., Wilder, D., Jones, F., Blumberg, J.B., Cartwright, Y. 2009. Green Tea Catechin Consumption Enhances Exercise-Induced Abdominal Fat Loss in Overweight and Obese Adults. Journal of Nutrition. Vol. 139, No. 2, 264-270. Available from : http://jn.nutrition.org/cgi/reprint/139/2/264. Accesed May 10th 2014.
15. Lee, M.K., Kim, C.T., Kim, Y.H. 2009. Green Tea (–) Epigallocatechin-3-Gallate Reduces Body Weight with Regulation of Multiple Genes Expression in Adipose Tissue of Diet-Induced Obese Mice. Ann Nutr Metab. 54:151–157. Available from:
16.  Moon, H.S., Chung, C.S., Lee, H.G., Kim, T.G., Choi, Y.J., Cho, C.S. 2007. Inhibitory Effect of (- )-Epigallocatechin-3-Gallate on Lipid Accumulation of 3T3-L1 Cells. Obesity (2007) 15 : 2571-2582. Available from : http://www.nature.com/oby/journal/v15/n11/full/oby2007309a.html. Accesed May 10th 2014.
17. Sarma, D.N., Barrett, M.L., Chavez, M.L., Gardiner, P. 2008. Safety of Green Tea Extracts: A Systematic Review by the US Pharmacopeia. Drug Safety . Auckland. Vol. 31, Iss. 6; pg. 469. Available from: http://proquest.umi.com/pqdweb?index=0&sid=3&srchmode=1&vinst=PROD&fmt=4&startpage=1&vname=PQD&did=1525118521&scaling=FUL&pmid=86204&vtype=PQD&fileinfoindex=%2Fshare3%2Fpqimage%Fpqirs101v %2F201011010414%2F57660%2F5043%2Fout.pdf&source= %24source&rqt=309&TS=1288599299&clientId=74186. Accesed May 10th 2014.
18.  Jabde, P. V., 2005. Text Book Of Applied Zoology. Delhi : Discovery Publishing House.
19.  Farooqui, T., Farooqui, A. A., 2012. Oxidative Stress In Vertebrates And Invertebrates Molecular Aspects Of Cell Signaling. New Jersey : John Wiley & Sons
20.  Bonvehi, J. S., et al, 1994. The Composition, Active Components, And Bacteriostatic Activity Of Propolis In Dietetics. Journal of The American Oil Chemists' Society, 71:5, pp. 529-532
21.  Krell, R., 1996. Value-Added Products From Beekeeping. FAO Agricultural Services Bulletin, 124
22.  Yoirish, N., 2001. Curative Properties Of Honey And Bee Venom. Hawaii : University Press Of The Pacific

23.  Hardi, H., P., Fitriana, A., M., 2012, Potensi Propolis Sebagai Terapi Alternatif Terhadap Penatalaksanaan Sindrom Stevens Johnson , Karya Tulis Ilmiah Gagasan Tertulis, Jurusan Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia.

No comments:

Post a Comment