Monday, 28 November 2016

VARICELLA

BAB I
LATAR BELAKANG
Penyakit cacar air adalah penyakit infeksi virus yang disebabkan oleh virus Varicella-Zoster (VZV) yang dapat bermanifestasi menjadi varicela (chickenpox) dan reaktivasi latennya menimbulkan herpes zoster (shingles) (Kurniawan et al, 2009). Penyakit cacar air (varicella) ini sudah tidak asing lagi karena penyakit ini merupakan penyakit yang mendunia serta menyerang siapa saja, terutama bagi mereka yang belum mendapatkan imunisasi varicella (Kurniawan et al, 2009; Arvin, 1996). Penyakit ini umumnya terjadi pada anak-anak dan biasanya penyakit ini ringan, namun bisa menjadi buruk pada bayi dan orang dewasa. komplikasi terutama terjadi pada orang dengan gangguan sistem kekebalan, dapat menimbulkan gejala yang parah bahkan sampai menimbulkan kematian (Lubis, 2003). Anak-anak dengan sistem imun yang kurang dapat mengalami resiko komplikasi yang tinggi seperti pneumonia, hepatitis, encephalitis bahkan sampai kematian (Albrecht, 2009; Gunawan et al, 2010).

A.   Data Epidemiologi
Sekitar setengah dari kasus ini terjadi pada anak-anak usia 1-14 tahun. Perinatal varicella dengan kematian juga dapat ditemukan pada ibu hamil yang terkena varicella 5 hari sebelum melahirkan atau 48 jam setelah melahirkan. Sedangkan untuk insidens herpes zoster adalah 215 per 100.000 orang per tahun. Penderita herpes zoster biasanya umurnya sekitar 45 tahun (Kurniawan et al, 2009).
Di Amerika Serikat sebelum ditemukan vaksin varicella, sekitar 39% kasus varicella ditemukan pada anak usia 1-4 tahun. Sebanyak 38% kasus ini ditemukan pada anak usia 5-9 tahun. Serta pada orang yang berusia 20 tahun keatas hanya ditemukan sekitar 7%. Setelah ditemukannya vaksin varicella pada tahun 1995 tejadi perubahan yang signifikan. Penurunan kasus varicella ini merupakan hasil dari peningkatan pengguna vaksin varicella (Anonim, 2014).
Sebelum ditemukannya vaksin varicella, angka kematian penderita varicella ini di Amerika Serikat mencapai 100 hingga 150 orang per tahun pada semua umur. Kasus dari varicella di Amerika Serikat ini mencapai 4 juta kasus per tahun. Sekitar 11.000 sampai 13.500 orang dirawat di rumah sakit. Kemudian setelah ditemukannya vaksin varicella, angka kematiannya menurun dan penderita varicella untuk dewasa juga berkurang (Baxter et al, 2014).
Gambar 1. Grafik angka kematian varicella pada tahun 1990 - 2006 di Amerika Serikat yang umurnya kurang dari 50 tahun (Anonim, 2014).
Menurut Kurniawan et al (2009), data tentang penyakit varicella di Indonesia secara menyeluruh belum ada. Namun ada beberapa daerah di Indonesia yang melakukan pendataan penyakit varicella contohnya seperti pada daerah Banyumas. Data Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas menyebutkan, selama periode Januari hingga November 2007, sedikitnya 691 warga terkena penyakit cacar air atau varicella. Jumlah penderita terbanyak pada kecamatan Kembaran dengan 155 pasien, kemudian kecamatan Kalibagor 79 penderita, dan kecamatan Karanglewas 75 orang. Data Dinkes tahun 2006 mencatat, jumlah penderita penyakit cacar air sebanyak 1.771 orang.


B.   Disease Burden
Menurut Seward et al (2014), disease burden dari varicella dapat berupa kerugian ekonomi, kerugian sosial, bahkan sampai kerugian pendidikan.
1.      Kerugian ekonomi
Kerugian ekonomi contohnya seperti seseorang yang terkena varicella perlu mengeluarkan biaya yang lebih untuk pengobatan penyakit ini. Jika pasien tersebut mengalami komplikasi, maka biaya yang akan dikeluarkan juga lebih banyak lagi.
2.      Kerugian sosial
Orang yang terkena varicella biasanya diisolasi untuk sementara waktu agar virus tersebut tidak menyebar kepada orang-orang yang sehat. Karena penyebaran dari VZV ini sangat cepat dan sangat mudah sekali untuk menyebar dan masuk ke tubuh manusia lain yang sehat.
3.      Kerugian pendidikan
Varicella biasanya diderita oleh anak-anak usia sekolah. Apabila anak tersebut terkena varicella, maka dia tidak dapat mengikuti kegiatan sekolah selama beberapa hari dan harus istirahat total di rumah. Hal ini dapat merugikan anak tersebut karena dapat ketinggalan pelajaran atau materi yang ada. Sehingga setelah anak itu sembuh maka ia harus belajar lebih keras lagi untuk mengejar ketinggalannya.

C.   Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan ini adalah:
1.      Untuk mengetahui data epidemiologi penyakit varicella baik di dunia maupun di Indonesia.
2.      Untuk mengetahui hubungan faktor agen, faktor host, dan faktor lingkungan yang dikaitkan dengan penyakit varicella.
3.      Untuk mengetahui pathogenesis Varicella Zoster Virus (VZV) sehingga dapat menimbulkan penyakit baik varicella (chickenpox) dan zoster (shingles).
BAB II
DETERMINAN PENYAKIT
A.    Faktor Agen
Agen yang berperan dalam penyakit varicella ini adalah Varicella Zoster Virus (VZV). Virus ini hanya dapat berkembang biak di dalam tubuh manusia, jika di luar tubuh manusia virus ini akan mati. Virus varicella ini merupakan salah satu dari jenis alphaherpes virus dari genus Varicellovirus. Virus ini dapat menyebabkan 2 penyakit yaitu varicella (chicken pox) dan zoster (shingles) (Gershon et al, 2013; Zerboni et al, 2014).
Proses replikasi dari VZV ini sama seperti virus pada umumnya (Gambar 2). Pertama virus menempel pada membrane sel inang, lalu melepaskan tegumennya di luar dan yang masuk ke dalam sel inang hanya nukleokapsidnya. Kemudian terjadi proses uncoating virus, DNA virus masuk ke dalam nucleus untuk melakukan replikasi. Pada proses replikasi terjadi sintesis protein IE, protein E, dan protein L yang semuanya berfungsi untuk menghasilkan virus baru. Setelah itu baru penggabungan antara nucleus dengan kapsid virus menjadi nukleokapsid. Nukleokapsid ini menuju ke sitoplasma sel inang dan matur di badan golgi. Lalu baru menembus keluar dari sel inang dengan cara menembus membran sel inang. Pada saat virus yang baru ersebut menembus membran sel inang, virus tersebut mendapatkan tegumennya lagi dari membran sel inang tersebut (Zerboni et al, 2014).

Gambar 2. Proses replikasi VZV

B.     Faktor Host
Infeksi adalah hasil interaksi kompleks antara pathogen dengan host yang berpotensial. Banyak faktor yang mempengaruhi infeksi dan penyakit yang berat yang berhubungan dengan mekanisme sistem imun tubuh dari host. Hubungan antara host-patogen diprediksi mempengaruhi patogenitas, virulensi, antigenitas, dan jumlah patogen. Beberapa orang yang telah terinfeksi Varicella Zoster Virus ini dapat terjadi asimptomatik maupun simptomatik. Semua tiu tergantung dari tubuh host (Huber, 2013).
VZV hanya dapat menginfeksi pada manusia. Dalam suatu penelitian tentang VZV, para peneliti menggunakan xenograft dari beberapa jaringan  tubuh manusia kemudian ditransplantasikan ke tubuh mencit yang tujuan mereka adalah untuk meneliti tentang virus ini (Zerboni et al, 2014).
Orang yang beresiko terkena penyakit varicella ini tergantung pada usia, sistem kekebalan tubuh yang menurun, wanita hamil, dan lain-lain seperti kekurangan akses pelayanan kesehatan.
C.     Faktor Lingkungan
Biasanya terjadi karena pengaruh cuaca yang ekstrem. Contohnya seperti cuaca ekstrem di Indonesia pada saat musim pancaroba. Pada saat musim pancaroba banyak anak-anak yang sistem kekebalannya menurun, sehingga membuat anak-anak menjadi rentan terhadap penyakit infeksi salah satunya infeksi dari virus varicella ini (Kurniawan et al, 2009).
Sementara di daerah Amerika Serikat, insidensi varicella paling banyak terjadi pada saat musim dingin dan awal musim semi. Paling sering terjadi antara bulan Maret dan Mei. Sedangkan kejadian varicella jarang ditemukan pada bulan September sampai November. Untuk penyakit herpes zoster tidak mengenal musim dan terjadi secara tidak menentu (Anonim, 2014).
Kepadatan penduduk juga merupakan faktor lingkungan dari penyebaran virus varicella. Semakin banyaknya populasi manusia, transmisi penularan VZV juga semakin mudah. Penularan ini bisa dengan kontak langsung maupun melalui droplet nuclei.













BAB III
PATOGENESIS
Varicella Zoster Virus (VZV) merupakan salah satu dari 8 jenis herpes virus yang menyebabkan penyakit chickenpox dan shingles. Virus ini merupakan dsDNA dan memiliki hubungan yang dekat dengan HSV-1 dan HSV-2. Infeksi primer dari VZV dapat menyebabkan varicella (chickenpox) dan lebih lanjut lagi apabila terjadi infeksi yang laten dari virus ini dapat menyebabkan herpes zoster (shingles) (Anonim, 2009).
VZV adalah suatu virus berbentuk bulat dengan diameter 150 – 200 nm. Virus ini memiliki selubung yang berfungsi untuk membungkus nukleokapsid. Kapsul ini terdiri atas 162 kapsomer yang diatur dalam bentuk ikosahedral. Kapsid virus ini dikelilingi oleh protein-protein yang disebut sebagai tegument (Kumar et al, 2013). Protein tegument ORF47 dan ORF66 merupakan serine/threonin kinase yang penting untuk autofosforilasi dan fosforilasi faktor transkripsi virus. VZV mempunyai selubung yang kaya akan lipid. Protein pada selubung VZV diduga memiliki peranan untuk berikatan dengan molekul permukaan, seperti reseptor mannose 6 phosphate atau myelin-associated glycoprotein (Zerboni et al, 2014).
Jalur masuk dari virus ini adalah mukosa saluran pernafasan dan diduga berkembang biak pada jaringan regional. Sekitar 4 – 5 hari setelah terinfeksi, terjadi viremia ringan. Kemudian virus melanjutkan menginfeksi dan berkembang biak pada organ seperti hepar, limpa, dan organ lain. Kurang lebih sekitar 10 – 12 hari setelah terinfeksi, terjadi viremia kedua yang mana virus bisa mencapai kulit. Bercak rash muncul setelah masa inkubasi virus yaitu sekitar 14 hari. Lesi kulit yang terjadi berupa makula, lalu sebagian besar berkembang menjadi papula, vesikula, pustula, dan krusta setelah beberapa hari. Vesikula biasanya terletak pada bagian epidermis kulit (Lubis, 2003).
Menurut Gunawan et al (2010), virus varicella dapat menyebar melalui udara. Dalam penelitian yang dilakukannya pada bulan Februari sampai Mei 2009, peneliti mengambil sampel udara di kamar orang yang sedang sakit varicella. Pengambilan dilakukan pada udara dengan jarak sekitar 1,2 – 5,5 meter dari kasur pasien, kemudian setelah diteliti ternyata sebanyak 82% dari sampel tersebut terdapat DNA VZV.
Menurut Kurniawan et al (2009), penyebaran virus ini dapat melalui droplet kepada mukosa membrane orang yang sehat misalnya konjungtiva. Masa inkubasi virus ini sekitar 14 hari lalu akan menyebar ke kelenjar limfe dan menuju hepar dan sel-sel mononuclear. VZV yang berada di dalam sel-sel mononuklear akan menhilang dalam waktu 24 jam sebelum terjadinya ruam kulit. Namun pada penderita imunokompromise, virus menghilang lebih lambat yaitu sekitar 24-72 jam setelah timbulnya ruam kulit. Kemudian virus ini akan bermigrasi dan bereplikasi dari kapiler menuju jaringan kulit sehingga menyebabkan lesi makulopapular, vesikuler, dan krusta. Perkembangan dari vesikel ini berhubungn dengan peristiwa ”ballooning”, yaitu suatu persitiwa dimana sel epitel berdegenerasi dan menimbulkan ruang kosong yang berisi cairan.
Menurut Huber (2013), media transmisi dari virus ini ada 2 macam:
1.      Contact Transmission
a.       Langsung
Kontak secara langsung terjadi pada saat patogen ditularkan secara langsung antar individu tanpa melalui hospes perantara, objek benda, atau lingkungan. Contohnya seperti seseorang yang terkena darah pasien varicella baik melalui transfusi darah maupun terkena pada kulit serta bersentuhan secara langsung dengan kulit atau membrane mukosa pasien.
b.      Tidak langsung
Penularan ini terjadi pada saat patogen ditularkan antar individu melalui hospes perantara, objek benda, atau lingkungan. Contohnya seperti seorang HCW (Health Care Worker) setelah memeriksa seorang pasien varicella kemudian tidak mencuci tangan terlebih dahulu sebelum menemui pasien yang lain. Pasien yang lain ini rentan tertular VZV. Selain itu juga bisa lewat pemakaian jarum suntik secara bersamaan. Lalu juga bisa dengan benda-benda yang tidak dibersihkan atau disterilkan dengan baik dapat memperluas penyebaran VZV ini.
2.      Respiratory Transmission
Transmisi melalui droplet dapat terjadi jika ukuran partikelnya lebih dari 5 μm. Droplet nuclei ini dapat menularkan walaupun dalam jarak 3 langkah dari pasien.
Menurut Kumar et al (2013), infeksi primer dari VZV ini menyebabkan varicella. Kemudian menjadi laten apabila VZV berpindah dari kulit menuju saraf sensoris lalu pindah menuju ganglia sensoris dan menjadi laten disana. Secara histopatologi, lesi kulit dari herpes zoster dan varicella itu sama. Keduanya mempunyai sel raksasa multinukleat eosinofil dengan adanya badan inklusi intranuklearnya. Ruam dari herpes zoster juga hanya terletak di satu area kulit pada satu sisi tubuh bersamaan dengan dermatom yang diinervasi oleh ganglion pada virus laten yang telah diaktifkan. Sedangkan ruam pada varicella lebih acak dan menyebar di seluruh tubuh. perbedaan ini mencerminkan penyebaran intraneural virus pada kulit terjadi pada herpes zoster, sedangkan penyebaran virus lewat aliran darah terjadi pada varicella.
Pada infeksi primer, lesi kulit yang berupa vesikel ini biasanya memiliki diameter sekitar 1-4 mm. Vesikel-vesikel ini dapat rupture atau menjadi purulen sebelum mereka mengering dan keras. Lesi-lesi ini akan tampak pada kulit selama beberapa hari dan muncul secara bertahap. Vesikel ini muncul kurang lebih sebanyak 200 sampai 500 buah dan muncul secara bertahap sekitar 2-4 vesikel. Lesi ini biasanya dimulai dari wajah dan dada, lalu baru menyebar menuju ke bagian ekstremitas (Anonim, 2014).
Manifestasi klinis dari varicella antara lain rasa tidak enak badan, gatal, dan suhunya meningkat sampai 1020F selama 2-3 hari. Anak-anak yang memiliki lymphoma dan leukemia perkembangan dari VZV sangat cepat yang ditandai dengan demam yang tinggi, meluasnya lesi vesikular, dan komplikasi yang tinggi. Sementara anak yang diinfeksi oleh HIV akan sakit secara berkepanjangan (Anonim, 2014).
Pada infeksi rekuren (shingles), terjadi dimana VZV yang laten tadi aktif kembali. Namun, mekanisme terjadinya infeksi rekuren ini belum terlalu diketahui secara pasti. Vesikel yang terjadi pada herpes zoster biasanya secara unilateral terdistribusi pada saraf sensoris (Anonim, 2014).
Gambar 3. Siklus Hidup Varicella Zoster Virus (Sumber: Zerboni et al, 2014)
Patogenesis virus ini dimulai dari virus yang masuk ke dalam tubuh manusia melalui droplet respirasi atau cairan vesicular dari kulit pasien varicella kemudian menginokulasi ke salah satu daerah di mukosa membran. Kemudian virus bermigrasi ke nodus limfonodi dan bereplikasi disana. Setelah itu virus pindah ke hepar atau sel mononuclear lain. Setelah itu virus baru masuk ke pembuluh kapiler di sekitar jaringan kutan pada kulit manusia dan bereplikasi serta mengeluarkan partikel infeksiusnya ke sel target di jaringan kutan sehingga mengeluarkn lesi-lesi berupa vesikel, maculpapular. Komplikasi dari varicella ada bermacam-macam, seperti enchepalitis, ataxia cerebral, trombositopenia, dan lain-lain (Arvin, 1996).
Gambar 4. Infeksi primer pathogenesis VZV. (Sumber: Arvin, 1996)
Tubuh memiliki respon pertahanan dari VZV. Pada penyakit ini, respon imun seluler lebih penting daripada respon imun humoral. VZV dapat dikenali oleh sistem imun tubuh karena virus ini mempresentasikan glikoprotein seperti gB, gC, gE, gH, dan gI. Respon imun seluler yang berperan adalah sel Tc dan sel Th. Sedangkan respon imun humoral yang berperan adalah antibody yang berfungsi untuk menetralisasi virus agar tidak bisa menginfeksi sel tubuh. oleh karena itu, apabila ada anak yang memiliki defek kongenital sel T atau AIDS itu lebih rentan terkena VZV daripada anak yang memiliki antibodi yang abnormal (Kumar, 2013).






BAB IV
KESIMPULAN
Varicella merupakan suatu penyakit yang sudah mendunia yang disebabkan oleh Varicella Zoster Virus (VZV). Sebelum vaksin varicella ditemukan, kematian yang disebabkan karena virus ini sangat besar. Setelah ditemukannya vaksin VZV pada tahun 1995, angka kematiannya menjadi turun.  Pada umumnya, varicella banyak diderita oleh anak-anak daripada dewasa. Selain itu, orang-orang yang rentan terhadap virus ini antara lain seperti wanita hamil, AIDS, immunokompromise, dan lain-lain. Saat musim dingin maupun musim pancaroba, virus ini mudah menginfeksi manusia karena imunitas tubuh manusia sedang menurun. Penyebaran VZV dapat melalui droplet nuclei maupun kontak fisik secara langsung. VZV akan masuk ke tubuh manusia kemudian menuju ke organ-organ seperti nodus limfonodi dan hepar untuk bereplikasi. Lalu menuju ke kulit lewat pembuluh darah dan membentuk vesikel dan maculopapular disana.











DAFTAR PUSTAKA
Albrecht, M.A., 2009, Clinical Features of Varicella-Zoster Infection: Chickenpox, Up To Date version 17.2.
Anonim, 2009,   Varicella-Zoster (Chickenpox) Vaccines For Australian Children: Information For Immunisation Providers, NCIR Fact Sheet.
Anonim, 2014, Varicella, http://www.cdc.gov/MMWR/preview/MMWRhtml/mm5508a5.htm, diakses pada tanggal 1 Desember 2014.
Arvin, A.M., 1996,  Varicella-Zoster Virus: Clinical Microbiology Reviews, Departments of Pediatrics and Microbiology/Immunology, Stanford University School of Medicine, Stanford, California 94305-5119, 9: 361-381.
Baxter et al, 2014, Impact of Vaccination on the Epidemiology of Varicella: 1995-2009, Journal of the American Academy of Pediatrics.
Gershon, A.A., Gershon, M.D., 2013, Pathogenesis and Current Approaches to Control of Varicella-Zoster Virus Infections, JournalASM, 26:4, 728-743
Gunawan, S., Linardi, P., Tawaluyan, K., Mantik, M.F.J., Veerman, A.J.P., 2010, Varicella Outbreak in a Pediatric Oncology Ward: the Manado Experience, Asian Pacific Journal of Cancer Prevention, Vol 11, p.289-292
Huber et al, 2013,  HSV and VZV: Infection Control/Exposure Control Issues for Oral Healthcare Workers,  dentalcare.com Continuing Education Course
Kumar, S.P., Shenai, P.K., Chatra, K., Deepa, K.C., Ahmed, A., 2013, Varicella Zoster Virus-Its Pathogenesis, Latency & Cell-Mediated Immunity, Oral & Maxillofacial Pathology Journal [ OMPJ ], Vol 4, No.2
Kurniawan et al, 2009, Varicella Zoster Pada Anak, Medicinus, 3:1, 23-30.
Lubis, Chairuddin P, 2003, Varicella Pada Anak Gejala Klinis, Pencegahan, dan Pengobatan, Bagian Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran, Universitas Sumatra Utara.
Seward, J.F., Marin, M., 2014, Varicella Disease Burden and Varicella Vaccines, WHO SAGE Meeting.

Zerboni, L., Sen, N., Oliver, S.L., Arvin, A.M., 2014, Molecular Mechanisms of Varicella Zoster Virus Pathogenesis, NIH Public Access, 12:3, 197-210.

No comments:

Post a Comment