Monday, 28 November 2016

KENALI PENCEGAHAN PENULARAN HIV DARI IBU KE ANAK (PPIA) SEJAK DINI, WUJUDKAN GENERASI YANG SEHAT
Fitri Rachmawati Putri (13711030)
Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonsia

Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) adalah penyakit yang menyerang sistem imun manusia yang disebabkan oleh Human Immunodeficiency Virus (HIV), yaitu HIV-1 dan HIV-2. HIV-1 merupakan penyebab terbanyak dari AIDS, yang mana virus tersebut menyebabkan tubuh kehilangan mekanisme pertahanan alamiah dalam melawan penyakit, sehingga tubuh menjadi rentan terhadap berbagai penyakit. HIV-2 juga disebutkan sebagai agen penyebab AIDS yang endemis di Afrika Barat. Selain itu, HIV-2 juga ditemukan di Brazil, Eropa dan Amerika Utara (1,2).
Secara umum, virus ini masuk kedalam tubuh manusia lewat 3 cara, yaitu melalui hubungan seksual, penggunaan jarum yang tidak steril atau terkontaminasi HIV, dan  penularan HIV dari ibu yang terinfeksi HIV ke janin dalam kandungannya. Virus ini ditransmisikan dari ibu ke bayi baik intrapartum, perinatal, atau ASI (3). Pada saat janin, transmisi virus HIV ini terjadi melalui sirkulasi darah terutama melalui uteroplasenta. Saat periode perinatal, infeksi vertikal lebih banyak terjadi. Karena semakin lama neonatus berkontak dengan darah ibu dan sekresi servikovaginal, maka resiko dari transmisi virusnya juga semakin bertambah besar. Bayi yang lain secara prematur dan berat badan bayi lahir rendah juga meningkatkan resiko infeksi pada saat persalinan, karena masih tipisnya barier pertahanan dari kulit dan sistem imun. Kemudian pasca persalinan, transmisi vertikal dapat terjadi karena bayi mendapat ASI dari ibu yang menderita HIV (Gambar 1) (4,6). Menurut lambert et al (2005) faktor nutrisi dan genetika juga ikut berperan terhadap progresivitas infeksi HIV selama dan sesudah kehamilan (8). Terdapat 3 faktor utama yang berpengaruh dalam penularan HIV dari ibu ke anak, yaitu faktor ibu, faktor bayi/anak, dan faktor tindakan obstetrik (Tabel 1).
Capture.JPG
Gambar 1. Risiko Penularan HIV dari Ibu ke Anak saat hamil, bersalin, dan menyusui.

FAKTOR IBU
FAKTOR BAYI/ANAK
FAKTOR OBSTETRIK
·         Kadar HIV (viral load)
·         Kadar CD4
·         Status gizi saat hamil
·         Penyakit infeksi saat hamil
·         Masalah di payudara (jika menyusui)

·         Prematuritas dan berat bayi saat lahir
·         Lama menyusu
·         Luka di mulut bayi (jika bayi menyusu)

·         Jenis persalinan
·         Lama persalinan
·         Adanya ketuban pecah dini
·         Tindakan episiotomi, ekstraksi vakum dan forseps

Tabel 1. Faktor yang berperan dalam penularan HIV dari ibu ke bayi (PPIA, 2013)
Resiko penularan HIV juga bisa terjadi pada saat laktasi. Apabila ibu tidak menyusui bayinya, risiko penularan HIV menjadi 20-30% dan akan berkurang jika ibu mendapatkan pengobatan ARV. Pemberian ARV jangka pendek dan ASI eksklusif memiliki risiko penularan HIV sebesar 15-25% dan risiko penularan sebesar 5-15% apabila ibu tidak menyusui (PASI). Akan tetapi, dengan terapi antiretroviral (ART) jangka panjang, risiko penularan HIV dari ibu ke anak dapat diturunkan lagi hingga 1-5%, dan ibu yang menyusui secara eksklusif memiliki risiko yang sama untuk menularkan HIV ke anaknya dibandingkan dengan ibu yang tidak menyusui (9).
Secara epidemiologi, data dari Kementerian Kesehatan (2011) menunjukkan dari 21.103 ibu hamil yang menjalani tes HIV, sebanyak 534 orang (2,5%) di antaranya positif terinfeksi HIV. Hasil Pemodelan Matematika Epidemi HIV Kementerian Kesehatan tahun 2012 menunjukkan prevalensi HIV pada populasi usia 15-49 tahun dan prevalensi HIV pada ibu hamil di Indonesia diperkirakan akan meningkat. Jumlah kasus HIV dan AIDS diperkirakan akan meningkat dari 591.823 (2012) menjadi 785.821 (2016), dengan jumlah infeksi baru HIV yang meningkat dari 71.879 (2012) menjadi 90.915 (2016). Sementara itu, jumlah kematian terkait AIDS pada populasi 15-49 tahun akan meningkat hampir dua kali lipat di tahun 2016 (5).
Penularan HIV dari ibu yang terinfeksi HIV ke bayinya juga cenderung meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah perempuan HIV positif yang tertular baik dari pasangan maupun akibat perilaku yang berisiko. Meskipun angka prevalensi dan penularan HIV dari ibu ke bayi masih terbatas, jumlah ibu hamil yang terinfeksi HIV cenderung meningkat. Prevalensi HIV pada ibu hamil diproyeksikan meningkat dari 0,38% (tahun 2012) menjadi 0,49% (tahun 2016). Jumlah anak yang dibawah 15 tahun yang tertular HIV dari ibunya baik pada saat masih berada dalam kandungan, persalinan, maupun pasca kelahiran atau menyusui akan meningkat dari 4.361 (tahun 2012) menjadi 5.565 (tahun 2016) yang mana ini menandakan bahwa terjadi peningkatan mortalitas anak akibat AIDS (7). Walaupun infeksi nasional HIV di Asia itu lebih rendah dibandingkan dengan benua lain (misalnya Afrika), namun populasi penduduk di negara-negara Asia sangat banyak. Kecenderungan peningkatan jumlah penderita HIV/AIDS dari tahun ke tahun tersebut membutuhkan penanganan yang serius. Di negara maju, risiko seorang bayi tertular HIV dari ibunya sekitar 2%. Tetapi di negara berkembang tanpa adanya akses intervensi, risiko penularannya bisa sampai 25% - 45% (5,6).
Upaya pencegahan penularan HIV perlu dilakukan sedini mungkin. Oleh karena itu, diperlukan adanya suatu program dari pemerintahan untuk menanggulangi masalah penularan HIV dari ibu ke anak. Supaya dapat menurunkan tingkat prevalensi HIV pada anak-anak.
Di Indonesia sendiri, upaya Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA) telah dilaksanakan di Indonesia sejak tahun 2004. Khususnya di daerah dengan tingkat epidemi HIV tinggi. Namun, hingga akhir tahun 2011 baru terdapat 94 layanan PPIA (Kemkes, 2011), yang baru menjangkau sekitar 7% dari perkiraan jumlah ibu yang memerlukan layanan PPIA. Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA) atau Prevention of Mother-to Child Transmission (PMTCT) merupakan bagian dari upaya penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia serta Program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Layanan PPIA diintegrasikan dengan paket layanan KIA, KB, kesehatan reproduksi, dan kesehatan remaja di setiap jenjang pelayanan kesehatan dalam strategi Layanan Komprehensif Berkesinambungan (LKB) HIV dan AIDS (5). Program PPIA ini bertujuan untuk mencegah penularan HIV dari ibu ke bayi dan mengurangi dampak epidemi HIV terhadap ibu dan bayi.
PPIA dilaksanakan melalui kegiatan komprehensif yang meliputi 4 pilar yaitu, pencegahan penularan HIV pada perempuan usia reproduksi (15-49 tahun); pencegahan kehamilan yang tidak direncanakan pada perempuan HIV positif; pencegahan penularan HIV dari ibu hamil ke bayi yang dikandungnya; dukungan psikologis, sosial, dan perawatan kesehatan selanjutnya kepada ibu yang terinfeksi HIV dan bayi serta keluarganya (5).
Pencegahan penularan HIV pada usia reproduksi (15-49 tahun). Pencegahan pada tahap ini merupakan pencegahan primer. Pencegahan primer bertujuan mencegah penularan HIV dari ibu ke anak secara dini, yaitu baik sebelum terjadinya perilaku hubungan seksual berisiko atau bila terjadi perilaku seksual berisiko maka penularan masih bisa dicegah, termasuk mencegah ibu dan ibu hamil agar tidak tertular oleh pasangannya yang terinfeksi HIV (5).
Kegiatan yang dapat dilakukan dalam pencegahan primer ini antara lain menyebarluaskan Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) tentang HIV dan AIDS dan Kesehatan Reproduksi, baik secara individu maupun kelompok. Sebaiknya kegiatan ini juga ditujukan kepada para remaja untuk menghindari penularan sejak dini. Informasi tentang program PPIA juga penting disampaikan kepada masyarakat luas sehingga dukungan masyarakat kepada ibu yang positif HIV dan keluarganya semakin kuat (5).
Pencegahan primer juga dapat dilakukan dengan cara memobilisasi masyarakat dengan melibatkan petugas lapangan seperti PKK, PLKB, atau posyandu sebagai pemberi informasi tentang pencegahan serta cara pengurangan resiko penularan HIV maupun Infeksi Menular Seksual (IMS) kepada masyarakat dan untuk membantu klien mendapatkan akses layanan kesehatan yang memadai. Selain itu juga pencegahan primer dapat dilakukan dengan layanan tes HIV. Konseling dan tes HIV dilakukan melalui pendekatan Konseling dan Tes atas Inisiasi Petugas Kesehatan (TIPK) dan Konseling dan Tes Sukarela (KTS), yang merupakan komponen penting dalam upaya Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak. Cara untuk mengetahui status HIV seseorang adalah melalui tes darah. Prosedur pelaksanaan tes darah dilakukan dengan memperhatikan 3C yaitu Counselling, Confidentiality, dan informed consent (5).
Pilar yang kedua dari PPIA adalah pencegahan kehamilan yang tidak direncanakan pada perempuan dengan HIV. Ada beberapa kegiatan untuk mencegah kehamilan yang tidak direncanakan pada ibu dengan HIV yaitu mengadakan KIE tentang HIV dan AIDS dan perilaku seks aman, menjalankan konseling dan tes HIV untuk pasangan, memberikan konseling pada perempuan dengan HIV untuk ikut KB dengan menggunakan metode kontrasepsi dan cara yang tepat(5).
Untuk pilar yang ketiga adalah pencegahan penularan ibu hamil dengan positif HIV ke bayi yang dikandungnya. Ini merupakan inti dari program PPIA yang secara komprehensif mencakup kegiatan berikut Layanan ANC terpadu termasuk penawaran dan tes HIV; Diagnosis HIV; Pemberian terapi antiretroviral; Persalinan yang aman; Tata laksana pemberian makanan bagi bayi dan anak; Menunda dan mengatur kehamilan;  Pemberian profilaksis ARV dan kotrimoksazol pada anak; Pemeriksaan diagnostik HIV pada anak (5).
Pelayanan tes HIV merupakan upaya membuka akses bagi ibu hamil untuk mengetahui status HIV, sehingga dapat melakukan upaya untuk mencegah penularan sedini mungkin. Pada pemeriksaan diagnostik infeksi HIV dapat dilakukan secara virologis (mendeteksi antigen DNA atau RNA) dan serologis (mendeteksi antibodi HIV) pada spesimen darah. Kemudian, untuk pemberian terapi antiretroviral bertujuan untuk menekan jumlah virus yang ada di dalam tubuh (5).
Pilihan persalinan yang aman juga berkontribusi dalam pola pencegahan HIV dari ibu ke anak. Pilihan persalinan meliputi persalinan per vaginam dan per abdominam (bedah sesar atau seksio sesarea). Dengan terapi ARV minimal dimulai pada minggu ke-14 kehamilan, persalinan per vaginam merupakan persalinan yang aman. Persalinan bedah sesar hanya boleh didasarkan atas indikasi obstetrik atau jika pemberian ARV baru dimulai pada saat usia kehamilan 36 minggu atau lebih (5).
Dalam hal pemberian nutrisi kepada anak yang baru lahir, sebaiknya diberi ASI eksklusif selama 6 bulan. Pada ibu dengan HIV yang sudah dalam terapi ARV memiliki kadar HIV sangat rendah, sehingga aman untuk menyusui bayinya. Bila ibu tidak dapat memberikan ASI eksklusif, maka ASI harus dihentikan dan digantikan dengan susu formula untuk menghindari mixed feeding (5).
Mengatur kehamilan dan keluarga berencana juga penting untuk mencegah penularan HIV dari ibu ke anak. Ibu yang ingin menunda atau mengatur kehamilan, dapat menggunakan kontrasepsi jangka panjang. Sedangkan, ibu yang memutuskan tidak punya anak lagi, dapat memilih kontrasepsi mantap (5).
Pemberian profilaksis ARV dimulai hari pertama setelah lahir selama 6 minggu. Setelah itu anak dapat diberikan kotrimoksazol profilaksis mulai usia 6 minggu sampai usia 1 tahun atau sampai diagnosis HIV pada anak tersebut ditegakkan.
Untuk pemeriksaan diagnostik HIV pada bayi baru lahir dari ibu HIV dapat dilakukan dengan pemeriksaan virologist. Pemeriksaan virologis, seperti HIV DNA (PCR), saat ini sudah ada di Indonesia dan dapat digunakan untuk menegakkan diagnosis HIV pada anak usia di bawah 18 bulan (5).
Pilar keempat dari PPIA adalah pemberian dukungan psikologis, sosial, dan perawatan kepada ibu dengan HIV beserta anak dan keluarganya. Ada banyak kegiatan dari tahap keempat ini antara lain pengobatan ARV jangka panjang, pengobatan gejala penyakitnya, informasi dan edukasi pemberian makanan bayi, pencegahan dan pengobatan infeksi oportunistik untuk diri sendiri dan bayinya. Dengan keempat pilar ini, diharapkan ibu dapat bersikap bijak dan positif untuk senantiasa menjaga kesehatan diri serta anaknya, serta berperilaku sehat agar tidak terjadi penularan HIV dari dirinya ke orang lain (5).
Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa Pencegahan Penularan HIV Ibu ke Anak  (PPAI) ini dapat mencegah dan/atau mengurangi resiko penularan HIV dari ibu ke anak dengan 4 pilar yaitu pencegahan penularan HIV pada perempuan usia reproduksi (15-49 tahun); pencegahan kehamilan yang tidak direncanakan pada perempuan HIV positif; pencegahan penularan HIV dari ibu hamil ke bayi yang dikandungnya; dukungan psikologis, sosial, dan perawatan kesehatan selanjutnya kepada ibu yang terinfeksi HIV dan bayi serta keluarganya. Perlu adanya sosialisasi secara langsung mengenai program PPIA ini agar dapat mencegah penularan sedini mungkin. Dengan demikian, resiko bayi terkena HIV itu menjadi semakin turun.


















DAFTAR PUSTAKA

1.      Gibbs R, Hanney A, Karlan BY, Nygard I, Human Immunodeficiency Virus, Danforth’s Obstetric and Gynecology 10th ed, Lippincots William and Wilkins, 2008, P:366-382.
2.      Hammilli Hunter, MD, Monif R G Gilles, M, Baker A David, MD, Human Immunodeficiency Virus, Infectious Disease in Obstetrics and Gynecology 5th Ed, 2004, P:166-198.
3.      Yogev R, Chadwick EG, Acquired immunodeficiency syndrome (human immunodeficiency virus), Dalam: Kliegman RM, Behrman RE, Jenson HB, Stanton BF, penyunting, Nelson textbook of pediatrics, Edisi ke-18, New York: Elsevier’s; 2007. 1022- 32.
4.      Darmadi, Ruslie RH, Diagnosis dan Tatalaksana Infeksi HIV Pada Neonatus. Majalah Kedokteran Andalas No.1. Vol.36. Januari-Juni 2012.
5.      KEMENKES RI, Pedoman Nasional Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA), Jakarta, 2013.
6.      Suradi, Rulina,Tatalaksana bayi dari ibu pengidap HIV/AIDS, Sari Pediatri, Vol. 4, No. 4, Maret 2003: 180 – 185.
7.      Van de Perre P: Transmission of HIV through breastfeeding: an overview . dalam HIV and Infant Feeding : Implementation of Guidelines, A report of the UNICEF-UNAIDS-WHO Technical consultation on HIV and Infant feeding Geneva, 20-22 April 1998.
8.      Lambert J, Moye J, Plaeger S, Stiehm R, Bethel J, Mofenson L, Landay A. Association of Selected Phenotypic Markers of Lymphocyte Activation and Differentiation with Perinatal Human Immunodeficiency Virus Transmission and Infant Infection. American Society of Microbiology. Vol 12.No 5. 2005. P.622-631.

9.      de Cock K, Fowler MG, Mercier E, de Vincenzi I, Saba J, Hoff. et al.Prevention of mother-to-child HIV transmission in resource-poor countries—translating research into policy and practice. JAMA, 2000, 283:1175-1182.

No comments:

Post a Comment