KENALI PENCEGAHAN PENULARAN HIV
DARI IBU KE ANAK (PPIA) SEJAK DINI, WUJUDKAN GENERASI YANG SEHAT
Fitri Rachmawati Putri (13711030)
Fakultas Kedokteran Universitas
Islam Indonsia
Acquired
Immunodeficiency Syndrome (AIDS) adalah
penyakit yang menyerang sistem imun manusia yang disebabkan oleh Human
Immunodeficiency Virus (HIV), yaitu HIV-1 dan HIV-2. HIV-1 merupakan
penyebab terbanyak dari AIDS, yang mana virus tersebut menyebabkan tubuh
kehilangan mekanisme pertahanan alamiah dalam melawan penyakit, sehingga tubuh
menjadi rentan terhadap berbagai penyakit. HIV-2 juga disebutkan sebagai agen
penyebab AIDS yang endemis di Afrika Barat. Selain itu, HIV-2 juga ditemukan di
Brazil, Eropa dan Amerika Utara (1,2).
Secara umum, virus ini masuk kedalam tubuh manusia lewat 3 cara,
yaitu melalui hubungan seksual, penggunaan jarum yang tidak steril atau
terkontaminasi HIV, dan penularan HIV
dari ibu yang terinfeksi HIV ke janin dalam kandungannya. Virus ini
ditransmisikan dari ibu ke bayi baik intrapartum, perinatal, atau ASI (3).
Pada saat janin, transmisi virus HIV ini terjadi
melalui sirkulasi darah terutama melalui uteroplasenta. Saat periode perinatal,
infeksi vertikal lebih banyak terjadi. Karena semakin lama neonatus berkontak
dengan darah ibu dan sekresi servikovaginal, maka resiko dari transmisi
virusnya juga semakin bertambah besar. Bayi yang lain secara prematur dan berat
badan bayi lahir rendah juga meningkatkan resiko infeksi pada saat persalinan,
karena masih tipisnya barier pertahanan dari kulit dan sistem imun. Kemudian
pasca persalinan, transmisi vertikal dapat terjadi karena bayi
mendapat ASI dari ibu yang menderita HIV (Gambar 1) (4,6). Menurut
lambert et al (2005) faktor nutrisi
dan genetika juga ikut berperan terhadap progresivitas infeksi HIV selama dan
sesudah kehamilan (8). Terdapat 3 faktor utama yang berpengaruh
dalam penularan HIV dari ibu ke anak, yaitu faktor ibu, faktor bayi/anak, dan
faktor tindakan obstetrik (Tabel 1).

Gambar 1. Risiko
Penularan HIV dari Ibu ke Anak saat hamil, bersalin, dan menyusui.
|
FAKTOR
IBU
|
FAKTOR
BAYI/ANAK
|
FAKTOR
OBSTETRIK
|
|
·
Kadar HIV (viral
load)
·
Kadar CD4
·
Status gizi saat
hamil
·
Penyakit infeksi saat
hamil
·
Masalah di payudara
(jika menyusui)
|
·
Prematuritas dan
berat bayi saat lahir
·
Lama menyusu
·
Luka di mulut bayi
(jika bayi menyusu)
|
·
Jenis persalinan
·
Lama persalinan
·
Adanya ketuban pecah
dini
·
Tindakan episiotomi,
ekstraksi vakum dan forseps
|
Tabel 1. Faktor yang
berperan dalam penularan HIV dari ibu ke bayi (PPIA, 2013)
Resiko
penularan HIV juga bisa terjadi pada saat laktasi. Apabila ibu tidak menyusui
bayinya, risiko penularan HIV menjadi 20-30% dan akan berkurang jika ibu
mendapatkan pengobatan ARV. Pemberian ARV jangka pendek dan ASI eksklusif
memiliki risiko penularan HIV sebesar 15-25% dan risiko penularan sebesar 5-15%
apabila ibu tidak menyusui (PASI). Akan tetapi, dengan terapi antiretroviral (ART) jangka panjang, risiko penularan HIV
dari ibu ke anak dapat diturunkan lagi hingga 1-5%, dan ibu yang menyusui
secara eksklusif memiliki risiko yang sama untuk menularkan HIV ke anaknya
dibandingkan dengan ibu yang tidak menyusui (9).
Secara
epidemiologi, data dari Kementerian Kesehatan (2011) menunjukkan dari 21.103
ibu hamil yang menjalani tes HIV, sebanyak 534 orang (2,5%) di antaranya
positif terinfeksi HIV. Hasil Pemodelan Matematika Epidemi HIV Kementerian
Kesehatan tahun 2012 menunjukkan prevalensi HIV pada populasi usia 15-49 tahun
dan prevalensi HIV pada ibu hamil di Indonesia diperkirakan akan meningkat.
Jumlah kasus HIV dan AIDS diperkirakan akan meningkat dari 591.823 (2012)
menjadi 785.821 (2016), dengan jumlah infeksi baru HIV yang meningkat dari
71.879 (2012) menjadi 90.915 (2016). Sementara itu, jumlah kematian terkait
AIDS pada populasi 15-49 tahun akan meningkat hampir dua kali
lipat di tahun 2016 (5).
Penularan HIV dari ibu
yang terinfeksi HIV ke bayinya juga cenderung meningkat seiring dengan meningkatnya
jumlah perempuan HIV positif yang tertular baik dari pasangan maupun akibat
perilaku yang berisiko. Meskipun angka prevalensi dan penularan HIV dari ibu ke
bayi masih terbatas, jumlah ibu hamil yang terinfeksi HIV cenderung meningkat.
Prevalensi HIV pada ibu hamil diproyeksikan meningkat dari 0,38% (tahun 2012)
menjadi 0,49% (tahun 2016). Jumlah anak yang dibawah 15 tahun yang tertular HIV
dari ibunya baik pada saat masih berada dalam kandungan, persalinan, maupun
pasca kelahiran atau menyusui akan meningkat dari 4.361 (tahun 2012) menjadi
5.565 (tahun 2016) yang mana ini menandakan bahwa terjadi peningkatan
mortalitas anak akibat AIDS (7). Walaupun infeksi nasional HIV di
Asia itu lebih rendah dibandingkan dengan benua lain (misalnya Afrika), namun populasi
penduduk di negara-negara Asia sangat banyak. Kecenderungan peningkatan jumlah
penderita HIV/AIDS dari tahun ke tahun tersebut membutuhkan penanganan yang
serius. Di negara maju, risiko seorang bayi tertular HIV dari ibunya sekitar
2%. Tetapi di negara berkembang tanpa adanya akses intervensi, risiko
penularannya bisa sampai 25% - 45% (5,6).
Upaya pencegahan
penularan HIV perlu dilakukan sedini mungkin. Oleh karena itu, diperlukan
adanya suatu program dari pemerintahan untuk menanggulangi masalah penularan
HIV dari ibu ke anak. Supaya dapat menurunkan tingkat prevalensi HIV pada
anak-anak.
Di
Indonesia sendiri, upaya Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA) telah
dilaksanakan di Indonesia sejak tahun 2004. Khususnya di daerah dengan tingkat epidemi
HIV tinggi. Namun, hingga akhir tahun 2011 baru terdapat 94 layanan PPIA
(Kemkes, 2011), yang baru menjangkau sekitar 7% dari perkiraan jumlah ibu yang
memerlukan layanan PPIA. Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA) atau Prevention
of Mother-to Child Transmission (PMTCT) merupakan bagian dari upaya
penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia serta Program Kesehatan Ibu dan Anak
(KIA). Layanan PPIA diintegrasikan dengan paket layanan KIA, KB, kesehatan
reproduksi, dan kesehatan remaja di setiap jenjang pelayanan kesehatan dalam
strategi Layanan Komprehensif Berkesinambungan (LKB) HIV dan AIDS (5).
Program
PPIA ini bertujuan untuk mencegah penularan HIV dari ibu ke bayi dan mengurangi
dampak epidemi HIV terhadap ibu dan bayi.
PPIA dilaksanakan
melalui kegiatan komprehensif yang meliputi 4 pilar yaitu, pencegahan penularan
HIV pada perempuan usia reproduksi (15-49 tahun); pencegahan kehamilan yang
tidak direncanakan pada perempuan HIV positif; pencegahan penularan HIV dari
ibu hamil ke bayi yang dikandungnya; dukungan psikologis, sosial, dan perawatan
kesehatan selanjutnya kepada ibu yang terinfeksi HIV dan bayi serta keluarganya
(5).
Pencegahan penularan
HIV pada usia reproduksi (15-49 tahun). Pencegahan pada tahap ini merupakan pencegahan
primer. Pencegahan primer bertujuan mencegah penularan HIV dari ibu ke anak
secara dini, yaitu baik sebelum terjadinya perilaku hubungan seksual berisiko
atau bila terjadi perilaku seksual berisiko maka penularan masih bisa dicegah,
termasuk mencegah ibu dan ibu hamil agar tidak tertular oleh pasangannya yang
terinfeksi HIV (5).
Kegiatan yang dapat
dilakukan dalam pencegahan primer ini antara lain menyebarluaskan
Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) tentang HIV dan AIDS dan Kesehatan
Reproduksi, baik secara individu maupun kelompok. Sebaiknya kegiatan ini
juga ditujukan kepada para remaja untuk menghindari penularan sejak dini.
Informasi tentang program PPIA juga penting disampaikan kepada masyarakat luas
sehingga dukungan masyarakat kepada ibu yang positif HIV dan keluarganya
semakin kuat (5).
Pencegahan primer juga
dapat dilakukan dengan cara memobilisasi masyarakat dengan melibatkan petugas
lapangan seperti PKK, PLKB, atau posyandu sebagai pemberi informasi tentang
pencegahan serta cara pengurangan resiko penularan HIV maupun Infeksi Menular
Seksual (IMS) kepada masyarakat dan untuk membantu klien mendapatkan akses
layanan kesehatan yang memadai. Selain itu juga pencegahan primer dapat
dilakukan dengan layanan tes HIV. Konseling dan tes HIV dilakukan melalui
pendekatan Konseling dan Tes atas Inisiasi Petugas Kesehatan (TIPK) dan
Konseling dan Tes Sukarela (KTS), yang merupakan komponen penting dalam upaya
Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak. Cara untuk mengetahui status HIV
seseorang adalah melalui tes darah. Prosedur pelaksanaan tes darah dilakukan
dengan memperhatikan 3C yaitu Counselling,
Confidentiality, dan informed consent (5).
Pilar yang kedua dari
PPIA adalah pencegahan kehamilan yang tidak direncanakan pada perempuan dengan
HIV. Ada beberapa kegiatan untuk mencegah kehamilan yang tidak direncanakan
pada ibu dengan HIV yaitu mengadakan KIE tentang HIV dan AIDS dan perilaku seks
aman, menjalankan konseling dan tes HIV untuk pasangan, memberikan konseling
pada perempuan dengan HIV untuk ikut KB dengan menggunakan metode kontrasepsi
dan cara yang tepat(5).
Untuk pilar yang ketiga adalah pencegahan penularan ibu hamil dengan
positif HIV ke bayi yang dikandungnya. Ini merupakan inti dari program PPIA
yang secara komprehensif mencakup kegiatan berikut Layanan ANC terpadu termasuk penawaran dan
tes HIV; Diagnosis HIV; Pemberian terapi antiretroviral; Persalinan yang aman; Tata laksana
pemberian makanan bagi bayi dan anak; Menunda dan mengatur kehamilan; Pemberian
profilaksis ARV dan kotrimoksazol pada anak; Pemeriksaan
diagnostik HIV pada anak (5).
Pelayanan
tes HIV merupakan upaya membuka akses bagi ibu hamil untuk mengetahui status
HIV, sehingga dapat melakukan upaya untuk mencegah penularan sedini mungkin.
Pada pemeriksaan diagnostik infeksi HIV dapat dilakukan secara virologis
(mendeteksi antigen DNA atau RNA) dan serologis (mendeteksi antibodi HIV) pada
spesimen darah. Kemudian, untuk pemberian terapi antiretroviral bertujuan untuk
menekan jumlah virus yang ada di dalam tubuh (5).
Pilihan
persalinan yang aman juga berkontribusi dalam pola pencegahan HIV dari ibu ke
anak. Pilihan
persalinan meliputi persalinan per vaginam dan per abdominam (bedah sesar atau
seksio sesarea). Dengan terapi ARV minimal dimulai pada minggu ke-14 kehamilan,
persalinan per vaginam merupakan persalinan yang aman. Persalinan bedah sesar
hanya boleh didasarkan atas indikasi obstetrik atau jika pemberian ARV baru
dimulai pada saat usia kehamilan 36 minggu atau lebih (5).
Dalam
hal pemberian nutrisi kepada anak yang baru lahir, sebaiknya diberi ASI
eksklusif selama 6 bulan. Pada ibu dengan HIV yang sudah dalam terapi ARV
memiliki kadar HIV sangat rendah, sehingga aman untuk menyusui bayinya. Bila
ibu tidak dapat memberikan ASI eksklusif, maka ASI harus dihentikan dan
digantikan dengan susu formula untuk menghindari mixed feeding (5).
Mengatur kehamilan dan keluarga berencana juga penting untuk mencegah
penularan HIV dari ibu ke anak. Ibu yang
ingin menunda atau mengatur kehamilan, dapat menggunakan kontrasepsi jangka
panjang. Sedangkan, ibu yang
memutuskan tidak punya anak lagi, dapat memilih kontrasepsi mantap (5).
Pemberian profilaksis
ARV dimulai hari pertama setelah lahir selama 6 minggu. Setelah itu anak dapat
diberikan kotrimoksazol profilaksis mulai usia 6 minggu sampai usia 1 tahun
atau sampai diagnosis HIV pada anak tersebut ditegakkan.
Untuk pemeriksaan
diagnostik HIV pada bayi baru lahir dari ibu HIV dapat dilakukan dengan
pemeriksaan virologist. Pemeriksaan virologis, seperti HIV DNA (PCR), saat ini sudah
ada di Indonesia dan dapat digunakan untuk menegakkan diagnosis HIV pada anak
usia di bawah 18 bulan (5).
Pilar keempat dari PPIA
adalah pemberian dukungan psikologis, sosial, dan perawatan kepada ibu dengan
HIV beserta anak dan keluarganya. Ada banyak kegiatan dari tahap keempat ini
antara lain pengobatan ARV jangka panjang, pengobatan gejala penyakitnya,
informasi dan edukasi pemberian makanan bayi, pencegahan dan pengobatan infeksi
oportunistik untuk diri sendiri dan bayinya. Dengan keempat pilar ini,
diharapkan ibu dapat bersikap bijak dan positif untuk senantiasa menjaga
kesehatan diri serta anaknya, serta berperilaku sehat agar tidak terjadi
penularan HIV dari dirinya ke orang lain (5).
Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa Pencegahan Penularan HIV Ibu
ke Anak (PPAI) ini dapat mencegah
dan/atau mengurangi resiko penularan HIV dari ibu ke anak dengan 4 pilar yaitu pencegahan penularan HIV pada perempuan usia reproduksi (15-49
tahun); pencegahan kehamilan yang tidak direncanakan pada perempuan HIV
positif; pencegahan penularan HIV dari ibu hamil ke bayi yang dikandungnya;
dukungan psikologis, sosial, dan perawatan kesehatan selanjutnya kepada ibu
yang terinfeksi HIV dan bayi serta keluarganya. Perlu adanya sosialisasi secara
langsung mengenai program PPIA ini agar dapat mencegah penularan sedini
mungkin. Dengan demikian, resiko bayi terkena HIV itu menjadi semakin turun.
DAFTAR
PUSTAKA
1.
Gibbs
R, Hanney A, Karlan BY, Nygard I, Human Immunodeficiency Virus, Danforth’s
Obstetric and Gynecology 10th ed, Lippincots William and Wilkins, 2008, P:366-382.
2.
Hammilli
Hunter, MD, Monif R G Gilles, M, Baker A David, MD, Human Immunodeficiency
Virus, Infectious Disease in Obstetrics and Gynecology 5th Ed, 2004, P:166-198.
3.
Yogev
R, Chadwick EG, Acquired immunodeficiency syndrome (human immunodeficiency
virus), Dalam: Kliegman RM, Behrman RE, Jenson HB, Stanton BF, penyunting, Nelson
textbook of pediatrics, Edisi ke-18, New York: Elsevier’s; 2007.
1022- 32.
4.
Darmadi,
Ruslie RH, Diagnosis dan Tatalaksana Infeksi HIV Pada Neonatus. Majalah
Kedokteran Andalas No.1. Vol.36. Januari-Juni 2012.
5.
KEMENKES
RI, Pedoman Nasional Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA), Jakarta,
2013.
6.
Suradi,
Rulina,Tatalaksana bayi dari ibu pengidap HIV/AIDS, Sari Pediatri, Vol. 4, No.
4, Maret 2003: 180 – 185.
7.
Van
de Perre P: Transmission of HIV through breastfeeding: an overview . dalam HIV
and Infant Feeding : Implementation of Guidelines, A report of the
UNICEF-UNAIDS-WHO Technical consultation on HIV and Infant feeding Geneva,
20-22 April 1998.
8.
Lambert
J, Moye J, Plaeger S, Stiehm R, Bethel J, Mofenson L, Landay A. Association of
Selected Phenotypic Markers of Lymphocyte Activation and Differentiation with
Perinatal Human Immunodeficiency Virus Transmission and Infant Infection. American
Society of Microbiology. Vol 12.No 5. 2005. P.622-631.
9.
de
Cock K, Fowler MG, Mercier E, de Vincenzi I, Saba J, Hoff. et al.Prevention of
mother-to-child HIV transmission in resource-poor countries—translating
research into policy and practice. JAMA, 2000, 283:1175-1182.
No comments:
Post a Comment